OPINI

Polisi Tangkap Polisi

Ruminews.id – Rabu lalu, 09 Juli 2025 Empat personil polisi di Nunukan ditangkap Mabes Polri. Satu diantaranya sedang menjabat sebagai Kasat Resnarkoba (TribunKaltara, 13/07/2025). Yang seharusnya membasmi narkoba, justru diduga kuat terlibat jaringan sabu. Sengaja tidak memakai kosakata “oknum”, sebab oknum bila dikumpulkan dapat membentuk “korps baru dalam kebertubuhan aparat Indonesia”.

Penangkapan ini bukan semata tindakan hukum. Ia adalah sebagian dari sandiwara kata-kata tentang “kebersihan” institusi, sebuah laku yang diatur untuk mengukuhkan wibawa kekuasaan. Sebuah cara kontrol. Arena negara mempertontonkan supremasi tandanya atas tubuh aparat yang dianggap menyimpang. Terjadilah pertengkaran tanda-tanda. Apakah Mabes Polri dan Polda Kaltara perlu diapresiasi? Tidak usah berlebihan, tanggung jawab tak perlu apresiasi.

Panopticon Yang Patah

Dalam pengertian Michael Foucault, panopticon adalah sebuah konsep arsitektur penjara yang berfungsi mengawasi, semacam menara jaga berbentuk melingkar. Dari menara awas itu, semua tahanan akan merasa diawasi dan dengan demikian secara bertahap akan mulai mengawasi prilaku mereka sendiri (Ketut Wiradnyana, 2018: 65-66). Efek utama panopticon, yaitu pembatinan pengawasan. Dalam peristiwa polisi tangkap polisi di atas, Divisi Propam yang seharusnya menjelma panopticon polisi ternyata tak mampu mengawasi Kasat Reskobanya sendiri.

Padahal, Polri belum lama ini mengumumkan kegemilangan. Berhasil menindak 23.456 kasus narkoba (Kompas, 01/072025). Tapi bangunan angka itu menguap, menjadi kabar yang pahit di lidah, ketika pelakunya justru tumbuh dari akar yang seharusnya membasmi. Seperti wayang yang melukai dalangnya sendiri.

Saya pikir pencopotan pangkat atau amuk di jalan bukanlah solusi sesungguhnya. Perlu kebersamaan menumbuhkan panopticon dari luar, pengawas yang tegak lurus tanpa bayang-bayang institusi. Khususnya di Perbatasan Nunukan, negara mesti membuka kran ekonomi—agar warga Nunukan tak mau menggendong petaka di punggungnya, agar aparat tak menyimpang.

Bukankah lebih berdampak, bila negara membuka tangannya lebar-lebar pada Tawau, Malaysia?  Membuka jalur dagang resmi sebanyak mungkin, daripada membiarkan gelap merayap di celah sempit perbatasan. Teruntuk Bupati, hentikanlah sandiwara di panggung-panggung pencitraan. Narkoba yang marak di Nunukan, ialah bukti negara yang lupa membuka tangannya.

Taman Pustaka:

  1. https://www.tribunnews.com/regional/2025/07/13/nasib-iptu-sdh-usai-ditangkap-kasat-reskoba-polres-nunukan-terlibat-kasus-narkoba
  2. Wiradnyana, Ketut. (2018). Michael Foucault Arkeologi Pengetahuan dan Pengetahuan Arkeologi. Jakarta: Obor.
  3. https://nasional.kompas.com/read/2025/07/01/14323711/polri-klaim-tindak-23456-kasus-narkoba-selamatkan-357-juta-jiwa

Share Konten

Opini Lainnya

IMG-20260516-WA0006
Ketika Rumah Besar Mulai Retak dari Dalam
IMG-20260515-WA0015
“Pesta Babi”, Ruang Sipil, dan Cara Baru Kekuasaan Membentuk Kesadaran
IMG-20260515-WA0018
Dari Hati Damai ke Konflik Kekuasaan: Masihkah Gowa Maju dan Berkelanjutan?
IMG-20260514-WA0080
Di Antara Pendidikan Yang Tertib Dan Kesadaran Yang Memberontak 
WhatsApp Image 2026-05-14 at 18.23
SE MENDIKDASMEN NO. 7 TAHUN 2026: Plester Untuk Luka Yang Butuh Jahitan
IMG-20260514-WA0035
Melemahnya Rupiah, Cermin Rapuhnya Ketahanan Ekonomi Indonesia
IMG-20260514-WA0033
Refleksi 28 Tahun Reformasi: "Tiga Dekade Reformasi , Demokrasi Kehilangan Arah"
IMG-20260513-WA0039
Menjaga Generasi Muda di Kabupaten Gowa: Perang Kolektif Melawan Narkotika Demi Ketahanan Sosial
IMG-20260513-WA0032
Pesta Babi: Darurat Demokrasi di Negeri yang Takut pada Fakta
WhatsApp Image 2026-05-12 at 20.06
Gotermal Antara Ambisi Transisi dan Pertaruhan Nyawa.
Scroll to Top