Penulis: Jeffry Setiawan, S.Pd.
Ruminews.id — Demokrasi telah menjadi bagian terpenting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Praktik demokrasi ini bisa kita temukan di lingkup keluarga sampai lingkup nasional. Sebagai salah satu pengamalan sila ke-4 Pancasila, demokrasi menjadi salah satu alternatif utama dalam pengambilan keputusan, khususnya untuk memilih seorang pemimpin. Demikianlah yang terjadi di SMP Budya Wacana pada hari Selasa, 20 Oktober 2026 dengan melaksanakan Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS periode 2026-2027.
Kegiatan yang dilaksanakan pada hari itu merupakan puncak dari serangkaian kegiatan untuk memilih pemimpin masa depan SMP Budya Wacana. Rangkaian kegiatan diawali dengan pendaftaran kandidat calon pengurus OSIS SMP Budya Wacana dan wawancara yang akhirnya menghasilkan 12 kandidat calon pengurus. Kemudian dari 12 kandidat calon pengurus tersebut, ada 4 pasang bakal calon ketua dan wakil ketua OSIS yang mendaftar untuk ditetapkan sebagai pasangan calon (Paslon) Pemilos 2026/2027. Keempat paslon ketua/wakil ketua OSIS tersebut adalah Daniella Brisca Manuel-Gabriello Ernesto Borneo (Paslon 1), Vania Nathacya Gunawan-Princessa Giselle Cornelia Dharmawan (Paslon 2), Shine David Purnomo Miru-Hayska Briella Janette Asmuruf (Paslon 3) dan Queency Limuela Kendhis Palar-Haifa Jeslyn Soficetta (Paslon 4).
Di sela-sela rangkaian kegiatan tersebut, para kandidat diwajibkan untuk mengikuti kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK). Kegiatan LDK yang bertema “Bangkit dalam Karakter, Bersinar dalam Kepemimpinan” dilaksanakan selama 2 hari 1 malam (8-9 Oktober 2026) di SMP Budya Wacana untuk membekali para kandidat dengan nilai-nilai kepemimpinan, administrasi OSIS dan simulasi orasi/debat calon ketua dan wakil ketua OSIS.
Setelah selesai mengikuti pembekalan, empat paslon mulai memantapkan diri dengan menyusun visi-misi, program kerja dan membentuk tim sukses masing-masing. Dalam pantauan penulis, semua paslon benar-benar serius dalam mempersiapkan diri mereka, bahkan ada paslon yang berdiskusi sampai sore hari. Pada hari Selasa, 13 Oktober 2026, masing-masing paslon dengan penuh percaya diri menyampaikan visi-misi dan program kerja dalam kegiatan Orasi dan Debat Calon Ketua/Wakil Ketua OSIS di Aula Bawah SMP Budya Wacana di depan seluruh murid, guru dan karyawan SMP Budya Wacana. Bahkan, mereka dengan lancar menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh para partisipan Pemilos 2026.
Akhirnya, tibalah hari yang dinantikan, pada Selasa, 20 Oktober 2026, yaitu Pemilos 2026. Pemilos 2026 ini diikuti oleh 148 partisipan dari elemen guru, karyawan dan murid SMP Budya Wacana. Setelah proses pencoblosan selesai, pada hari itu juga dilaksanakan penghitungan suara untuk menetapkan Paslon yang berhak menjadi Ketua dan Wakil Ketua OSIS periode 2026/2027. Penghitungan suara berlangsung tertib dan aman. Penghitungan suara ini menghasilkan 10 suara untuk paslon 1, 31 suara untuk paslon 2, 63 suara untuk paslon 3 dan 12 suara untuk paslon 4. Dengan demikian paslon 3 (Shine David Purnomo Miru-Hayska Briella Janette Asmuruf) secara sah dan meyakinkan ditetapkan sebagai Ketua dan Wakil Ketua OSIS periode 2026-2027.
Namun sangat disayangkan bahwa ada 32 suara (21,6%) dinyatakan tidak sah walaupun tingkat partisipasinya cukup tinggi (79,4%). Fakta ini menunjukkan bahwa dalam proses demokrasi, bahkan di lingkup sekolah, selalu ada pihak yang tidak menggunakan hak pilihnya dengan benar. Dari satu sumber yang penulis temui dan menyatakan dirinya tidak memilih, alasannya adalah karena menurut pendapatnya tidak ada paslon yang representatif atau layak sebagai ketua dan wakil ketua OSIS. Sumber ini juga mempertanyakan mengapa visi-misi yang disampaikan para paslon itu sama saja, tidak ada bedanya.
Meskipun demikian, praktik demokrasi dengan kondisi seperti ini justru membuka kesempatan bagi sekolah untuk terus menanamkan dan melaksanakan literasi demokrasi di kalangan muridnya. Demokrasi bukan tentang siapa yang terpilih sebagai pemimpin tetapi juga tentang bagaimana menggunakan hak suaranya dengan baik dan bijak. Bahkan, ketika kita harus memilih yang terbaik dari yang terburuk. Pendidikan demokrasi harus terus berlangsung di sekolah untuk membina kader-kader penerus bangsa yang berkarakter.