OPINI

Merdeka Yang Belum Selesai Kita Rayakan

Penulis: Sofian Irwansyah – Mahasiswa Prodi Hukum Ekonomi Syariah IAIN Parepare

Ruminews.id – Setiap tanggal 17 Agustus, kita mengibarkan bendera, menyanyikan lagu kebangsaan, dan mengikuti lomba panjat pinang dengan semangat yang sama seperti puluhan tahun lalu. Jalan-jalan dihiasi umbul-umbul merah putih, anak-anak berlarian mengejar hadiah lomba balap karung, dan linimasa media sosial dipenuhi ucapan “Dirgahayu Indonesia”. Tapi coba tanyakan pada diri sendiri di sela-sela euforia itu: apakah kita benar-benar tahu apa yang kita rayakan, atau kita sekadar menjalankan ritual tahunan yang maknanya perlahan mengabur ditelan rutinitas?

Kemerdekaan Bukan Titik, Tapi Proses

Proklamasi 1945 sering diperlakukan seolah-olah itu adalah garis finis seolah begitu Soekarno-Hatta membacakan teks proklamasi, urusan kemerdekaan selesai, tinggal dirayakan setiap tahun sebagai kenangan manis. Padahal proklamasi itu justru garis start. Ia adalah janji, bukan pencapaian yang sudah utuh. Ia adalah pintu yang dibuka, bukan rumah yang sudah selesai dibangun.

Kita merdeka dari penjajah asing, tapi apakah kita sudah merdeka dari kemiskinan struktural yang masih membelenggu jutaan keluarga? Sudahkah kita merdeka dari ketimpangan pendidikan antara anak di kota besar dan anak di pelosok yang harus menyeberangi sungai untuk sampai ke sekolah? Sudahkah kita merdeka dari korupsi yang masih menggerogoti anggaran publik, dari birokrasi yang berbelit, dari ketimpangan ekonomi yang membuat sebagian kecil orang menguasai sebagian besar kekayaan bangsa?

Kemerdekaan yang sesungguhnya jauh lebih rumit daripada sekadar mengusir penjajah dari tanah air. Ia menuntut keadilan sosial yang nyata, bukan hanya tertulis indah dalam Pancasila. Dan mungkin di situlah letak pekerjaan rumah kita yang sebenarnya belum tuntas pekerjaan yang jauh lebih sunyi dan lebih lama dibanding perjuangan fisik merebut kemerdekaan itu sendiri.

Generasi yang Merdeka tapi Merasa Terjajah

Ironisnya, generasi muda hari ini yang tidak pernah merasakan dentuman senjata penjajah, tidak pernah bersembunyi dari razia tentara kolonial justru sering mengeluh merasa “terjajah” oleh hal-hal lain yang lebih halus dan sulit dilawan: algoritma media sosial yang diam-diam mendikte apa yang mereka pikirkan dan inginkan, tekanan ekonomi yang membuat mereka sulit sekadar membeli rumah pertama, sistem pendidikan yang mencetak jutaan lulusan setiap tahun tapi gagal menciptakan lapangan kerja yang cukup untuk menampung mereka.

Ini bukan berarti perjuangan kemerdekaan dulu tidak berarti, atau bahwa keluhan generasi sekarang setara dengan penderitaan di bawah kolonialisme. Justru sebaliknya perbandingan ini mengingatkan kita bahwa setiap generasi punya “penjajahnya” sendiri, dalam bentuk yang berbeda-beda, dan tugas merebut kemerdekaan itu tidak pernah benar-benar selesai dalam satu momen sejarah. Ia hanya berganti wajah, dari penjajah bersenjata menjadi struktur ekonomi yang timpang, dari kolonialisme fisik menjadi kolonialisme informasi dan konsumsi.

Nasionalisme yang Perlu Direfleksikan Ulang

Ada juga godaan untuk merayakan 17 Agustus dengan nasionalisme yang dangkal: sekadar seremoni, unggahan media sosial berlatar merah putih, foto bersama di depan bendera, lalu esoknya semua kembali seperti biasa termasuk kebiasaan buang sampah sembarangan, menyerobot antrean, atau bersikap apatis terhadap urusan publik. Nasionalisme semacam ini nyaman untuk dijalani, tapi tidak benar-benar produktif bagi bangsa.

Nasionalisme yang lebih bermakna barangkali adalah nasionalisme yang berani mempertanyakan diri sendiri: sudahkah saya membayar pajak dengan jujur, bukan mencari celah untuk menghindarinya? Sudahkah saya memilih pemimpin karena rekam jejak dan gagasannya, bukan karena viral atau sekadar ikut arus? Sudahkah saya memperlakukan sesama warga negara apa pun suku, agama, gender, atau latar belakang ekonominya dengan setara dan penuh hormat, sesuai semangat Bhinneka Tunggal Ika yang sering kita ucapkan tapi jarang benar-benar kita hayati?

Cinta tanah air yang sejati bukan diukur dari seberapa keras kita bernyanyi lagu kebangsaan, melainkan dari seberapa jujur kita menjalani kehidupan sehari-hari sebagai warga negara.

Merayakan dengan Kesadaran, Bukan Sekadar Euforia

Ini bukan ajakan untuk berhenti merayakan 17 Agustus dengan gembira. Lomba makan kerupuk, balap karung, dan panjat pinang tetap sah dan menyenangkan sebagai bagian dari kebersamaan yang mempererat warga di setiap kampung. Tapi di sela-sela euforia itu, ada baiknya kita menyisihkan sedikit waktu untuk bertanya dengan jujur: kemerdekaan seperti apa yang sedang kita wariskan untuk generasi berikutnya? Apakah anak cucu kita akan mewarisi bangsa yang lebih adil, atau justru mewarisi persoalan yang sama yang belum sempat kita selesaikan?

Para pendiri bangsa berjuang dengan taruhan nyawa untuk sesuatu yang saat itu masih berupa cita-cita abstrak: sebuah bangsa yang berdaulat, adil, dan makmur, di mana setiap warganya punya kesempatan yang setara untuk hidup layak. Delapan puluh satu tahun kemudian, cita-cita itu masih menjadi pekerjaan rumah bersama bukan warisan yang otomatis selesai begitu bendera dikibarkan dan lagu kebangsaan selesai dinyanyikan.

Merdeka, pada akhirnya, bukan status yang kita terima sekali dan selamanya, seperti sertifikat yang tinggal disimpan di lemari. Ia adalah kerja yang harus terus-menerus diperjuangkan, direfleksikan, dan diperbarui maknanya oleh setiap generasi, dengan caranya masing-masing melalui pilihan-pilihan kecil sehari-hari yang, jika dikumpulkan, akan menentukan wajah bangsa ini di masa depan.

Selamat Hari Kemerdekaan. Selamat merenung, sambil tetap merayakan.

Share Konten

Opini Lainnya

Muzakkir (3)
Beasiswa Belum Cair Mahasiswa Kembali Di hadapkan Pada Beban UKT
Muzakkir (1)
81 Tahun Indonesia Merdeka: Siapa yang Menguasai Energi Indonesia?
Luka Kolektif
Luka Kolektif yang Ditutupi oleh Rasa Keberhasilan Pejabat
Muzakkir (3)
Merah Putih Semu Dan Nasionalisme Top-Down
Muzakkir (1)
Dari Soekarno ke Reformasi : Jejak Panjang Unhas hingga UNM
Muzakkir (1)
Korupsi, Reformasi, dan Hilangnya Kepekaan Publik
Muzakkir (3)
Kita Berpikir Bebas, atau Berpikir Sesuai Arahan Media Sosial
Logam Tanah Jarang
Logam Tanah Jarang: Antara Harapan Lompatan Ekonomi dan Taruhan Masa Depan Sulawesi Barat
ular piton
Munculnya Piton Besar Resahkan Warga Taliabu, Putra Tanah Taliabu Angkat Bicara
hutan (1)
Musnahnya Peradaban Manusia Akibat Eksploitasi Hutan: Refleksi Kritis Peringatan Hari Hutan Indonesia
Scroll to Top