“Make Munir Live Again”: Aksi Kamisan Yogyakarta Hidupkan Ingatan Publik di Tugu Jogja

Make Munir Live Again

Ruminews.id, Yogyakarta — Jaringan masyarakat sipil, aktivis, dan mahasiswa kembali menggelar Aksi Kamisan di kawasan Tugu Pal Putih (Tugu Jogja), Kamis (24/9/2026). Berbeda dari aksi Kamisan pada umumnya, kali ini kegiatan secara khusus mengusung tema “Make Munir Live Again” untuk memperingati 22 tahun kepergian pejuang hak asasi manusia (HAM), Munir Said Thalib.

Dalam aksi yang berlangsung khidmat tersebut, sejumlah peserta mengenakan topeng bergambar wajah Munir. Topeng tersebut menjadi simbol bahwa semangat dan perjuangan Munir untuk membela HAM akan terus hidup dan diteruskan oleh generasi berikutnya. Aksi tersebut juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk kembali menyuarakan tuntutan penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu.

Kegiatan diawali dengan penyampaian sejumlah isu kerakyatan. Salah satunya adalah persoalan ekstraktivisme di Halmahera Utara yang disampaikan oleh perwakilan Forum BEM DIY. Aksi kemudian dilanjutkan dengan orasi politik dari Social Movement Institute (SMI).

Sejumlah tokoh dan pegiat turut hadir memberikan penghormatan kepada Munir melalui orasi dan karya. Jurnalis sekaligus pembuat film dokumenter, Dandhy Laksono, dalam orasinya menyebut Munir sebagai seorang nasionalis sejati.

Dandhy juga mengenang pilihan Munir menggunakan maskapai Garuda Indonesia dalam penerbangan terakhirnya menuju Amsterdam. Menurut Dandhy, pilihan tersebut dilakukan Munir dengan pertimbangan agar uang tiket perjalanannya dapat kembali ke kas negara.

Panggung Kamisan kemudian semakin bergemuruh ketika Al Araf memimpin massa menyanyikan lagu “Darah Juang”. Seruan-seruan perlawanan turut menggema di tengah massa.

Suasana aksi semakin haru ketika penulis Okky Madasari membacakan puisi yang didedikasikan untuk Munir. Puisi tersebut menjadi bagian dari ekspresi perlawanan terhadap impunitas sekaligus upaya menjaga ingatan publik terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM.

Menjelang malam, aksi yang diikuti masyarakat dan simpatisan tersebut turut dimeriahkan pertunjukan musik perlawanan dari grup Mafia Bambu dan Kepal SPI.

Aksi Kamisan di Tugu Jogja kemudian ditutup dengan prosesi penyalaan lilin dan nyanyian perjuangan bersama. Cahaya lilin yang berpendar di tengah malam di kawasan Tugu Jogja menjadi simbol harapan serta ingatan yang terus dijaga.

Melalui aksi tersebut, massa menyampaikan tuntutan agar pemerintah menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu dan mengakhiri impunitas. Mereka juga mendesak agar proses hukum terhadap pihak-pihak yang dianggap bertanggung jawab dalam berbagai tragedi kemanusiaan di Indonesia dapat dilakukan secara transparan dan tuntas.

Peringatan 22 tahun kepergian Munir melalui Aksi Kamisan ini sekaligus menegaskan bahwa bagi para peserta aksi, perjuangan Munir tidak berhenti pada kepergiannya. Ingatan terhadap perjuangannya terus dihidupkan melalui ruang-ruang publik, termasuk jalanan dan gerakan masyarakat sipil.

***

Kontributor: Rawlins Kenheta
Editor: Iman Amirullah, S.Sos.

Share

Scroll to Top