Ruminews.id, MAKASSAR – Sejumlah mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar menyoroti minimnya ketersediaan serta buruknya kondisi sejumlah fasilitas penunjang akademik, khususnya di Jurusan Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK).
Persoalan ini menjadi perhatian serius mengingat sarana dan prasarana merupakan elemen fundamental dalam menunjang keberhasilan proses pendidikan. Ketersediaan fasilitas yang layak bukan sekadar pelengkap kegiatan akademik, melainkan kebutuhan mendasar dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang efektif, nyaman, dan berkualitas.
Berdasarkan keluhan mahasiswa, sejumlah fasilitas penunjang pembelajaran di lingkungan FST, khususnya Jurusan PWK, masih membutuhkan perhatian serius. Beberapa persoalan yang disoroti antara lain keterbatasan peralatan laboratorium, kursi perkuliahan yang kondisinya kurang layak di Gedung C, proyektor yang belum memadai, serta pendingin ruangan (AC) yang tidak berfungsi secara optimal.
Kondisi tersebut dinilai berpotensi menghambat aktivitas perkuliahan, terutama kegiatan praktikum, presentasi, penelitian, dan pengembangan kompetensi mahasiswa. Padahal, sebagai institusi pendidikan tinggi, UIN Alauddin Makassar memiliki tanggung jawab untuk menyediakan lingkungan akademik yang didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai.
Menanggapi persoalan tersebut, Pardi mendesak pimpinan Fakultas Sains dan Teknologi beserta pihak jurusan agar segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi fasilitas kampus. Ia meminta agar kebutuhan laboratorium dan peralatan praktik segera dipenuhi, kursi perkuliahan yang tidak layak diperbaiki atau diganti, serta fasilitas proyektor dan pendingin ruangan dipastikan berfungsi sebagaimana mestinya.
“Persoalan fasilitas kampus tidak boleh dianggap sebagai keluhan biasa. Ini menyangkut hak mahasiswa untuk memperoleh pelayanan pendidikan yang layak. Pihak fakultas harus menunjukkan tanggung jawab melalui tindakan nyata, bukan sekadar memberikan penjelasan dan janji tanpa kepastian realisasi,” tegas Pardi.
Menurutnya, pihak Fakultas Sains dan Teknologi tidak boleh menutup mata terhadap berbagai aspirasi mahasiswa. Evaluasi dan pembenahan fasilitas harus ditempatkan sebagai agenda prioritas, bukan sekadar persoalan administratif yang terus ditunda penyelesaiannya.
Ia juga menegaskan bahwa kritik yang disampaikan mahasiswa merupakan bagian dari kontrol terhadap tanggung jawab institusi dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Oleh karena itu, setiap aspirasi mahasiswa seharusnya diterima sebagai bahan evaluasi, bukan dipandang sebagai bentuk ketidakpuasan semata.
“Pendidikan berkualitas tidak cukup hanya dengan membangun gedung megah dan membebankan berbagai tuntutan akademik kepada mahasiswa. Harus ada fasilitas yang benar-benar layak dan berfungsi untuk menunjang proses pembelajaran, penelitian, serta pengembangan keilmuan,” lanjutnya.
Pardi berharap pimpinan fakultas dan jurusan segera mengambil langkah konkret serta memberikan kejelasan mengenai rencana perbaikan dan pemenuhan fasilitas yang selama ini dikeluhkan mahasiswa.
Jangan sampai kemegahan kampus hanya menjadi wajah depan institusi, sementara keterbatasan fasilitas justru menjadi kenyataan yang harus dihadapi mahasiswa di ruang-ruang akademik.
Mahasiswa tidak hanya membutuhkan ruang untuk belajar, tetapi juga membutuhkan fasilitas yang layak untuk memastikan bahwa hak atas pendidikan yang berkualitas benar-benar terpenuhi.
Sumber: Pardi – Mahasiswa FST UIN Alauddin



