Surat Terbuka Wakanda Yogyakarta
Ruminews.id, Yogyakarta – Komunitas pengemudi ojek online (ojol) di Yogyakarta yang tergabung dalam gerakan Wadah Komunikasi Antar Driver Aktif (Wakanda) Yogyakarta mengeluarkan “Surat Terbuka untuk Seluruh Penumpang Ojol”. Surat terbuka yang viral di media sosial ini menyoroti dampak dari kehadiran fitur atau tarif “Hemat” pada aplikasi transportasi online yang dinilai sangat menjepit dan menyulitkan perekonomian para mitra driver.
Melalui rilis resminya, para mitra driver mengungkapkan bahwa di tengah masa-masa sulit, mereka sangat memahami kebutuhan penumpang untuk berhemat, dan mereka mengaku senang bisa membantu mengantarkan penumpang sampai ke tujuan dengan harga yang terjangkau. Namun, ada realitas pahit yang tidak terlihat oleh para pengguna pada aplikasi mereka.
Di balik murahnya tarif “Hemat”, nominal tersebut sebenarnya sudah sangat mepet dan hampir tidak cukup untuk menutupi biaya operasional mendasar, seperti pembelian bahan bakar minyak (BBM) dan perawatan berkala sepeda motor.
Lebih memprihatinkan lagi, muncul fakta baru di mana para driver kini seolah dipaksa harus “membayar” melalui program langganan berbayar agar akun mereka bisa mendapatkan orderan fitur “Hemat” tersebut. Tanpa membayar biaya tambahan yang mereka sebut sebagai “upeti” ini, akun para driver seringkali sama sekali tidak diberikan orderan, yang berujung pada kondisi akun sepi atau anyeb.
Kondisi ini menempatkan para mitra driver pada pilihan yang dilematis dan menjepit:
Mengambil orderan dengan tarif yang tidak layak setelah dipotong kompensasi langganan. Atau tidak bekerja sama sekali karena akun menjadi sepi akibat tidak mengikuti program berbayar tersebut.
”Kami ingin melayani, tapi kami juga butuh membawa pulang hasil yang manusiawi untuk keluarga di rumah.”
Melalui momentum ini, para mitra driver menyampaikan sebuah permintaan kecil dan hati nurani masyarakat, khususnya para pengguna jasa ojek online yang sedang memiliki rezeki lebih. Mereka memohon agar konsumen bersedia memilih layanan reguler, seperti GrabBike Biasa atau GoRide Biasa, dan bukan memilih opsi “Hemat”.
Bagi sebagian besar penumpang, selisih harga sekitar Rp2.000 mungkin hanya setara dengan biaya parkir. Namun bagi para driver di atas aspal, nominal kecil tersebut adalah harapan besar yang sangat berarti untuk menutup biaya operasional harian dan menjaga dapur mereka tetap mengepul.
Dengan memilih layanan reguler, masyarakat telah membantu ribuan driver untuk tetap tegak mencari nafkah tanpa harus tercekik oleh biaya langganan tambahan dari pihak aplikator.
“Mari saling membantu, mari memanusiakan sesama di atas aspal. Terima kasih telah menjadi bagian dari napas ekonomi kami.”