Ruminews.id, Indramayu — Kabar duka datang dari Indramayu. Tokoh adat pendiri sekaligus pemimpin spiritual kelompok masyarakat Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu (SDHBBSI) yang biasa disebut Suku Dayak Losarang, Takmad Diningrat, meninggal dunia pada Sabtu, 28 Maret 2026 dalam usia lebih dari 1 abad.
Kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang tokoh spiritual legendaris yang selama puluhan tahun membangun ruang hidup alternatif bagi komunitasnya di tengah tekanan sosial dan stereotip yang kerap mereka hadapi.
Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu sendiri tidak memiliki kaitan dengan Suku Dayak penghuni pulau Borneo. Penamaan komunitas mereka yang panjang pun bukan tanpa alasan.
Kata “Suku” diartikan sebagai kaki yang membantu manusia untuk berjalan ke tujuannya masing-masing sesuai dengan kepercayaan dan keyakinannya sendiri; “Dayak” berasal dari kata “ayak” atau “ngayak” yang berarti menyaring atau memilah. Maksud dari kata tersebut adalah manusia harus bisa memilih dan memilah mana yang baik dan mana yang benar.
Sementara itu, “Hindu” memiliki arti bahwa setiap manusia dilahirkan dari rahim seorang ibu (perempuan); kata “Budha” berasal dari kata “wuda” yang berarti telanjang. Seluruh manusia menurut kepercayaan mereka diartikan sebagai makhluk yang terlahir telanjang.
Adapun kata “Indramayu”, mengandung pengertian “In” berarti ‘inti’; “Darma” artinya orang tua, dan “Ayu” bermakna perempuan. Makna filosofisnya adalah bahwa ibu (perempuan) merupakan sumber hidup, karena dari rahimnya lah semua manusia dilahirkan. Itulah sebabnya, menghormati kaum perempuan sangat dijunjung tinggi oleh komunitas kepercayaan ini. Hal itu tecermin dalam berbagai aktivitas keseharian mereka.
Komunitas ini mulai dirintis Takmad sejak awal 1970-an, berangkat dari sebuah perguruan silat yang dikenal sebagai Silat Serbaguna yang kemudian berkembang menjadi komunitas dengan ajaran inti tentang kesederhanaan, pengendalian diri, dan harmoni dengan alam.
Takmad menganalogikan kelompoknya sebagai sekumpulan “manusia terpilih”, karena tidak semua orang mampu menjalankan aturan yang disyaratkan dalam komunitas tersebut. Dalam pemahaman mereka, istilah “Hindu Budha” dimaknai sebagai kesatuan jiwa dan raga.
Para anggotanya diibaratkan seperti manusia yang baru dilahirkan, hadir dalam keadaan alami tanpa atribut duniawi. Mereka yang telah mencapai tahap Bodhisattva sebagai simbol menyatunya diri dengan makrokosmos. Bagi yang berhasil, diibaratkan sebagai manusia yang telah menanggalkan pakaian ala kehidupan modern nan konsumeris yang kini dianggap semakin dominan.
Dalam praktiknya, anggota komunitas ini menjalani kehidupan dengan kesederhanaan yang tercermin dari cara berpakaian. Mereka tidak mengenakan pakaian lengkap, melainkan hanya celana pendek berwarna hitam-putih, yang melambangkan dualitas dan keseimbangan dalam kehidupan. Selain itu, mereka menggunakan aksesori dari kayu dan bambu sebagai simbol kedekatan dengan alam. Pilihan berpakaian dan atribut ini dikenakan dalam keseharian, ke mana pun mereka pergi.
Namun, cara hidup yang berbeda tersebut kerap disalahpahami oleh sebagian masyarakat modern, yang tidak jarang memandang mereka secara negatif dan melabelinya sebagai kelompok yang menyimpang atau orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).
Selama hidupnya, Takmad menjadi figur sentral yang tidak hanya memimpin, tetapi juga melindungi komunitasnya dari tekanan eksternal, sekaligus menjaga keberlanjutan ajaran yang ia bangun. Ia dikenal menanamkan nilai kasih sayang, kedisiplinan, serta penghormatan terhadap keluarga dan lingkungan sebagai fondasi utama kehidupan komunitas.
Hal ini tercermin dalam kesaksian istrinya yang biasa disapa Bule, yang mengenang sosok Takmad sebagai pribadi yang hangat dan penuh perhatian.
“Bapak itu orangnya penyayang, beliau berwasiat kepada saya agar menyayangi anak dan cucunya,” ujarnya.
Takmad dikenal bukan hanya sebagai pemimpin spiritual, melainkan juga sebagai sosok “bapak” bukan hanya bagi keluarganya namun juga pengikutnya.
Ajaran-ajarannya merefleksikan nilai yang lebih luas dalam komunitas Dayak Bumi Segandu, yakni pentingnya merawat kehidupan, menjaga hubungan antarmanusia, dan meneruskan nilai-nilai tersebut lintas generasi.

Dok. Arbi Soemandoyo
Menjelang akhir hayatnya, Takmad juga sempat menyampaikan pesan yang oleh keluarga dimaknai sebagai isyarat perpisahan.
“Nok, ambilkan pangkal jambu batu untuk pegangan,” ucapnya kepada sang istri.
Takmad wafat setelah lebih dari satu tahun mengalami sakit yang membuatnya tidak lagi leluasa beraktivitas. Ia dimakamkan di Padepokan Nyi Ratu Kembar yang selama ini menjadi pusat kehidupan spiritual dan sosial komunitas Dayak Bumi Segandu.
Kepergiannya meninggalkan tantangan tersendiri bagi komunitas yang selama ini berada di ruang sosial yang tidak selalu ramah terhadap perbedaan. Namun, sejarah panjang perjuangan mereka, dari sebuah perguruan silat kecil hingga menjadi komunitas yang bertahan lintas generasi menunjukkan adanya daya tahan kolektif yang kuat.
Nilai-nilai yang diwariskan Takmad tentang kesederhanaan, penghormatan terhadap alam, dan kebebasan menjalani keyakinan jelas melampaui batas ketokohan. Semua ajaran dan tata laku tersebut telah menjadi fondasi yang akan terus diuji sekaligus dijaga oleh para penerusnya di tengah perubahan zaman.





