OPINI

Jembatan Kesejahteraan: Menautkan Upah Layak dan Kualitas Pendidikan Nasional

Penulis : Arya Adrian – Ketua IMSAD FIB-UH

ruminews.id, Makassar – Setiap awal Mei, Indonesia memperingati dua hari besar yang sekilas tampak berbeda sektor, namun sejatinya berpijak pada fondasi yang sama: Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional.

Kedua sektor merupakan hal yg berkesinambungan Bukan sekadar tuntutan ekonomi di atas podium demonstrasi, ia adalah prasyarat mutlak bagi keberhasilan transformasi pendidikan bangsa.

Hari Buruh mengingatkan kita bahwa pekerja adalah tulang punggung ekonomi. Namun, tulang punggung ini tidak akan kokoh jika sistem pengupahan hanya cukup untuk menyambung hidup hari ini (subsistensi).

Upah layak berarti pekerja memiliki sisa pendapatan untuk berinvestasi pada masa depan, terutama pendidikan anak-anak mereka. Tanpa upah yang layak, akses terhadap pendidikan berkualitas akan menjadi barang mewah yang hanya bisa dinikmati segelintir orang.

Di sinilah Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional bertemu dalam satu napas: Keadilan sosial bagi seluruh masyarakat indonesia Hardiknas yang jatuh pada 2 Mei membawa semangat “Pendidikan untuk Semua”.

Namun, kualitas pendidikan nasional sangat bergantung pada kesejahteraan para pengajarnya. Di Indonesia, narasi upah layak juga harus mencakup para guru dan tenaga kependidikan, terutama mereka yang masih berstatus honorer.

Bagaimana kita bisa mengharapkan output pendidikan yang unggul jika para pendidiknya masih bergulat dengan ketidakpastian finansial? Upah layak bagi guru adalah investasi nyata untuk memastikan generasi mendatang memiliki kompetensi tinggi agar tidak terjebak dalam siklus buruh kasar berupah rendah di masa depan.

Mewujudkan Upah Layak Nasional adalah langkah konkret untuk memuliakan manusia Indonesia sesuai semangat Ki Hadjar Dewantara. Kita tidak bisa mencerdaskan kehidupan bangsa jika perut rakyatnya masih lapar, dan kita tidak bisa meningkatkan taraf hidup buruh tanpa membekali mereka dengan pendidikan yang relevan.

Di bulan Mei ini, mari kita jadikan peringatan Hari Buruh dan Hardiknas sebagai momentum untuk menuntut kebijakan yang lebih berpihak pada kesejahteraan pekerja dan kualitas manusia. Karena pada akhirnya, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai keringat pekerjanya dan memuliakan akal budi rakyatnya.

“Kesejahteraan adalah hak buruh, pendidikan adalah hak bangsa. Keduanya adalah dua sisi mata uang menuju Indonesia yang bermartabat.”

Share Konten

Opini Lainnya

IMG-20261009-WA0078
Sah Secara Hukum, Belum Tentu Benar Secara Etika; Polemik Ijazah Wapres Gibran.
Muzakkir (5)
Membongkar Ilusi Kesetaraan Gender dalam Organisasi
Muzakkir (4)
Yang Punya Ijazah Saja Masih Sulit Cari Kerja
Muzakkir (3)
Mengapa Pejabat Publik Wajib Minimal Tamat SMA?
Salistio Erisa Putra
Ketika Kemiskinan Menghasilkan Lebih Banyak Sampah: Sachet Economy, Poverty Penalty, dan Ketidakadilan dalam Sustainability
Najamudin
Hilirisasi Berkeadilan untuk Perekonomian Sulselbartra
Muzakkir (4)
Filsuf di Lingkar Istana
Muzakkir (3)
Reduksionisme Dan Fisika Kuantum: Tentang Kesadaran Diri (Bagian III Akahir)
Muhammad Fauzan, S.H.
Dari Sulawesi Selatan ke Sulawesi Tenggara: Menabur Visi Pengusaha Muda Menuju Indonesia Emas 2045
Merah Muda Abstrak Lucu Halaman Kosong A4 Landscape_20261003_144916_0000
Ketika Kampus Menjadi Ruang Impunitas: Menguji Komitmen Penegakan Hukum di UNDIPA Makassar
Scroll to Top