Ruminews.id – Gowa, 8 Oktober 2026. Masyarakat Desa Tamalatea terkhusus warga Dusun Pattene (Munte-Munte) Kec. Manuju telah merasakan ketimpangan sejak puluhan tahun yang lalu. Jalan yang kemudian menggantungkan akses dalam memaksimalkan pengolahan lahan serta pengangkutan hasil pertanian tak menuai perhatian dari pemerintah setempat.
Lahan pertanian yang berjarak 3 KM dari pemukiman warga dalam menggantungkan hidupnya tidak termanfaatkan dengan maksimal sebab keterbatasan akses jalan yang tidak menjadi skala prioritas dalam agenda kerja pemerintah Desa setempat.
Salah satu masyarakat yang tidak ingin mengungkapkan identitasnya mengatakan, “Iye memang lama sekalimi itu jalan kasian tidak baik, sudah puluhan tahun itu” ujarnya.
“Padahal jalan satu-satunya itu kalau mauki ke sawah atau ke kebun. Tidak tau juga apa kendalanya padahal sudah ada anggarannya turun 2 tahun nah baru 1 Kilo kurang lebih sudah dirintis” lanjutnya.
“Itupun jalan sudahmi narintis masyarakat bisami nalewati motorka na kembali lagi narintis kepala desa. Ndak tau itu bagaimana ceritanya”. Tutupnya.
Penderitaan masyarakat tersebut mendapatkan angin segar setelah kedatangan Saudara Lutfi yang menawarkan kerja sama sekaligus solusi terhadap masalah yang dihadapi masyarakat setempat, bukan lagi janji kosong yang belakangan kerap kali menjadi bahasa penenang dari Kepala Desa Tamalatea terkait polemik jalan yang tak kunjung mendapat titik terang.
Kerja sama itu awalnya berjalan baik, didukung penuh oleh masyarakat setempat yang melakukan swadaya dengan nominal yang telah ditentukan dan disepakati secara lisan.
Hingga pada Pengerjaan jalan yang dilakukan oleh Lutfi telah selesai, angin perubahan yang tidak mengenakkan bagi pihak Lutfi mulai menunjukkan tanda-tanda ketidakberpihakan. Dimulai dari adanya perubahan pendirian dari masyarakat yang diduga dimotori oleh oknum-oknum tertentu.
Masyarakat tidak lagi mampu menjalankan komitmen yang terbangun sebelum pengerjaan jalan, serta munculnya penolakan kolektif dari masyarakat.
Lutfi mengutarakan dalam wawancara kami di sebuah Coffee Shop “Ini yang mengherankan sebenarnya, kenapa masyarakat tiba-tiba menolak padahal sudah banyak biaya yang saya keluarkan untuk rintis ini jalan tani, padahal bagus sekaliji responnya waktu saya datangi satu persatu itu wargayya.” Tuturnya.
“Ada juga berita kudengar ada tokoh yang mulai pengaruhi ini warga, tidak tau apa motifnya. Tapi harapanku semoga ini dugaanji karena saya kasian korban banyak sekali ma ini, janganmi dibilang korban waktu, tenaga sama biaya. Ini yang kasi heranka jangan sampai kebaikanku nabalas tidak baeki kasian” Tutupnya.
Pasalnya pengerjaan jalan ini telah memakan banyak biaya dari internal saudara Lutfi yang perhari ini telah rampung sepanjang 2 KM.
Harapannya semoga persoalan ini cepat terselesaikan dan segera mendapatkan titik terang.



