Harlah ke-23 FMN Serukan Konsolidasi Mahasiswa dalam Perlawanan terhadap Imperialisme dan Feodalisme

Ruminews.id, Yogyakarta — Front Mahasiswa Nasional (FMN) memperingati hari lahir ke-23 organisasi tersebut melalui pidato politik yang disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat FMN, Lalu Muhammad Rizaldy. Dalam pidato politiknya, FMN menegaskan kembali orientasi perjuangan organisasi yang berfokus pada gerakan mahasiswa anti-imperialisme, reforma agraria sejati, serta industrialisasi nasional.

Rizaldy menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh pimpinan dan anggota FMN yang disebut kini tersebar di 59 kampus, 24 kota, dan 15 provinsi di Indonesia, termasuk anggota yang berada di Belanda dan Korea Selatan. Momentum ulang tahun organisasi itu disebut sebagai bagian dari “kebangkitan gerakan mahasiswa Indonesia”.

Dalam pidatonya, FMN menempatkan mahasiswa sebagai bagian penting dalam sejarah perjuangan politik bangsa Indonesia. Rizaldy menyebut sejak masa kolonial, mahasiswa telah terlibat dalam perjuangan rakyat melalui pengorganisasian dan penyebaran gagasan-gagasan politik yang dianggap progresif.

Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam perjuangan rakyat tidak terlepas dari kepentingan pemuda terhadap pendidikan dan pekerjaan. Ia menilai hak-hak tersebut hanya dapat diwujudkan melalui kemerdekaan dan demokrasi yang dianggap sejati.

FMN juga menghubungkan lahirnya berbagai gerakan mahasiswa dengan momentum-momentum politik nasional di berbagai periode sejarah Indonesia. Dalam pidatonya disebut bahwa Kongres Pemuda 1928 lahir dalam konteks kolonialisme, Laskar Pelajar muncul pada masa Revolusi Agustus 1945, sementara gerakan mahasiswa pasca-1998 disebut lahir dari gelombang perjuangan rakyat melawan Orde Baru.

Rizaldy menyatakan kelahiran FMN pada 18 Mei 2003 merupakan hasil penyatuan berbagai organisasi mahasiswa patriotik dan demokratis tingkat kota ke dalam satu organisasi mahasiswa nasional. Menurutnya, FMN lahir dari evaluasi terhadap kemunduran gerakan mahasiswa pasca-Reformasi.

“FMN lahir dari studi dan otokritik kemunduran gerakan mahasiswa pasca reformasi. FMN lahir dari investigasi sosial dan eksperimen ilmiah pembangunan gerakan rakyat,” ujar Rizaldy.

Dalam pidato tersebut, FMN kembali menegaskan pandangan politik organisasinya mengenai kondisi Indonesia yang disebut masih berada dalam situasi “setengah jajahan dan setengah feodal”. Organisasi itu menilai dominasi imperialisme, feodalisme, dan kapitalisme birokrasi menjadi penyebab utama persoalan rakyat Indonesia.

FMN menyebut perjuangan “Demokrasi Nasional” sebagai jalan keluar yang mereka tawarkan. Konsep itu, menurut pidato tersebut, mencakup reforma agraria sejati dan industrialisasi nasional yang dipimpin oleh kelas buruh dengan dukungan kaum tani dan sektor rakyat tertindas lainnya.

Menurut Rizaldy, kemenangan perjuangan tersebut akan membuka jalan bagi pemuda untuk memperoleh jaminan pendidikan dan pekerjaan. FMN juga menilai sistem pendidikan ideal harus bersifat ilmiah, demokratis, dan mengabdi kepada rakyat.

Pidato tersebut juga menyoroti pentingnya garis politik dan orientasi perjuangan dalam gerakan mahasiswa. Rizaldy menyebut tanpa arah politik yang jelas, gerakan mahasiswa tidak akan mampu bertaut dengan rakyat maupun memenangkan perubahan sosial.

Dalam momentum ulang tahun ke-23 organisasi, FMN menilai situasi global tengah diwarnai krisis dan perang imperialisme yang belum menemui titik terang. Organisasi itu juga mengkritik pemerintahan saat ini yang mereka sebut sebagai “rezim fasis boneka imperialis”.

Karena itu, FMN menyerukan perluasan organisasi dan penguatan basis gerakan mahasiswa di berbagai wilayah Indonesia. Organisasi tersebut menargetkan peningkatan jumlah anggota serta perluasan pengaruh di kampus-kampus strategis nasional.

“Perjuangan merubah sistem pendidikan yang makin mahal dan privat ini tak bisa dimenangkan hanya di satu kampus, tetapi juga secara nasional,” kata Rizaldy.

FMN juga mendorong seluruh anggotanya untuk terlibat lebih jauh dalam gerakan rakyat bersama buruh dan tani. Dalam pidato itu, mahasiswa disebut memiliki peran penting dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, dan politik yang dapat mempercepat perubahan sosial.

Selain agenda pendidikan dan kampanye anti-liberalisasi, FMN menyebut organisasinya harus terus memperluas propaganda politik organisasi sebagai alat perjuangan mahasiswa. Rizaldy juga menyerukan agar anggota FMN berani mempersatukan mahasiswa dari berbagai kampus besar di Indonesia ke dalam organisasi tersebut.

Menurut FMN, semakin luas jaringan organisasi mahasiswa maka gerakan mahasiswa akan memiliki pengaruh politik yang lebih besar dan lebih mampu membangun solidaritas dengan gerakan rakyat lainnya.

Pidato politik ini kemudian ditutup dengan ajakan untuk memperbesar dan memperluas organisasi massa mahasiswa anti-imperialisme, anti-feodalisme, dan anti-kapitalisme birokrasi. Rizaldy juga menyerukan persatuan mahasiswa bersama rakyat Indonesia dalam perjuangan sosial-politik yang diusung FMN.

“Mahasiswa Indonesia, bangkit, bersatu, dan berjuanglah bersama rakyat Indonesia,” tutup Rizaldy dalam pidatonya.

Share

PENCARIAN
BERITA LAINNYA
  • All Posts
  • Bantaeng
  • Berau
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Hulu Sungai Selatan
  • Infotainment
  • Internasional
  • Jakarta
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Kualanamu
  • Luwu Timur
  • Mandalika
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Pali
  • Palu
  • Papua
  • Pemerintahan
  • Pemuda
  • Pendidikan
  • Pertanian
  • Peternakan
  • Politik
  • Soppeng
  • Tekhnologi
    •   Back
    • Makassar
    • Gowa
    • Maros
    • Takalar
    • Palopo
    • Jeneponto
    • Pangkep
    • Pare-pare
    • IKN
    • Bone
    • Bulukumba
    • Towuti
    • Sidrap
    • Purwakarta
    • Pekanbaru
    • Berau
    • Kolaka Timur
    • Enrekang
    • Serang
    • Tangerang Selatan
    • Bima
    • Nusa Tenggara Timur
    • Kolaka Utara
    • Barru
    • Cibubur
    • Jakarta
    • Luwu Timur
    • Luwu Utara
    • Padang
    • Pinrang
    • Polewali Mandar
    • Toraja
    • Selayar
    • Mamuju
    • Donggala
    • Soppeng
    • Parigi Moutong
    • Yogyakarta
    • Jawa Timur
    • Labuan Bajo
    • Mamasa
    • Kualanamu
    • Bantaeng
    • Ambon
    • Sinjai
    • Bombana
    • Jambi
    • Samarinda
    • Sorong
    • Tegal
    • Kendal
    • Kulon Progo
    • Morowali
    • Blora
    • Tual
    • Gunungkidul
    • Banten
    • Cilacap
    • Jayapura
    • Batam
    • Bantul
    • Sleman
    • Halmahera
    • Banjarnegara
    • Toraja Utara
    • Nabire
    • Bangkalan
    • Solo
    • Lamongan
    • Tangerang
    • Papua
    • Luwu
    • Malili
    • Tanah Bumbu
    •   Back
    • Badan Gizi Nasional
    •   Back
    • Dinas Koperasi Makassar
    •   Back
    • DPRD Kota Makassar
    • Prov Sulawesi Selatan
    • Pemerintah Kota Makassar
    • Pemerintah kabupaten Gowa
    • Dinas Koperasi Makassar
Scroll to Top