Ruminews.id, Yogyakarta –Pelaksanaan ibadah haji 2026 menjadi momentum penting bagi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) setelah Yogyakarta International Airport (YIA) resmi beroperasi sebagai embarkasi haji.
Sebanyak 9.320 calon jemaah haji dari DIY dan sebagian wilayah Jawa Tengah dijadwalkan berangkat melalui skema baru yang mengandalkan sistem embarkasi berbasis hotel di kawasan Kulon Progo.
Ini merupakan kali pertama Yogyakarta memiliki embarkasi sendiri, sekaligus menandai perubahan signifikan dalam sistem pelayanan haji yang sebelumnya bergantung pada embarkasi di daerah lain seperti Solo. Dengan beroperasinya YIA, proses keberangkatan jemaah menjadi lebih dekat, efisien, dan terintegrasi dalam satu kawasan.
Dari 9.320 calon jemaah haji yang diberangkatkan, memiliki profil yang cukup beragam, mulai dari usia termuda 14 tahun hingga yang tertua mencapai 102 tahun, keduanya berasal dari Bantul. Seluruh jemaah telah dinyatakan memenuhi syarat istithaah atau kelayakan kesehatan untuk berhaji. Namun, terdapat dua jemaah yang meninggal dunia serta satu orang yang mengundurkan diri, sehingga posisinya digantikan oleh jemaah cadangan.
Mayoritas jemaah, sekitar 70 persen, masuk dalam kategori berisiko tinggi sehingga memerlukan perhatian khusus selama rangkaian ibadah haji. Untuk mengakomodasi kondisi tersebut, diterapkan skema murur, yakni pergerakan jemaah dari Arafah langsung menuju Mina tanpa bermalam di Muzdalifah. Skema ini diperuntukkan bagi jemaah lanjut usia, mereka yang memiliki gangguan kesehatan, serta para pendampingnya guna memastikan keselamatan dan kelancaran ibadah.
Konsep yang digunakan dalam penyelenggaraan haji tahun ini adalah skema “hotel bubble”, di mana jemaah tidak lagi harus masuk ke asrama haji konvensional, melainkan ditempatkan di hotel-hotel yang telah disiapkan di sekitar bandara. Sistem ini dirancang untuk meningkatkan kenyamanan, mempercepat alur keberangkatan, sekaligus mengurangi kepadatan di titik-titik transit.
Selain aspek pelayanan, keberangkatan ribuan jemaah ini juga membawa dampak ekonomi yang signifikan bagi wilayah Kulon Progo dan sekitarnya. Sektor perhotelan, transportasi, hingga pelaku usaha lokal diproyeksikan mengalami peningkatan aktivitas seiring dengan mobilitas jemaah dan keluarga pengantar.
Penetapan YIA sebagai embarkasi haji sendiri merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memperluas layanan haji secara lebih merata di Indonesia, sekaligus mengoptimalkan infrastruktur transportasi udara di luar wilayah Jawa bagian barat. Dengan landasan pacu yang mampu menampung pesawat berbadan lebar serta terminal modern berkapasitas besar, YIA dinilai siap mendukung operasional penerbangan haji secara penuh.
Keberangkatan jemaah haji dari embarkasi YIA dijadwalkan dimulai pada akhir April 2026, dengan kloter pertama berasal dari wilayah DIY dan sekitarnya. Langkah ini tidak hanya menjadi tonggak baru dalam penyelenggaraan haji di Yogyakarta, tetapi juga mencerminkan transformasi layanan publik yang lebih adaptif, efisien, dan berbasis infrastruktur modern.
Wakil Gubernur DIY, Sri Paduka Pakualam X dalam sambutannya menyatakan harapannya akan kesuksesan pemberangkatan para calon jemaah haji melalui embarkasi DIY.
“Jemaah haji Daerah Istimewa Yogyakarta musim ini menjadi yang pertama diberangkatkan melalui Embarkasi Yogyakarta. Dan juga akan merasakan pengalaman baru melalui penerapan model Hotel haji yang merupakan inovasi baru dan yang pertama di Indonesia,” papar Sri Paduka KGPAA Paku Alam X.
Dengan kesiapan fasilitas, sistem baru yang lebih terintegrasi, serta dukungan lintas sektor, embarkasi YIA diharapkan mampu memberikan pengalaman ibadah yang lebih nyaman bagi jemaah sekaligus memperkuat peran Yogyakarta sebagai salah satu gerbang penting keberangkatan haji di Indonesia.
Kepala Kanwil Kementerian Haji dan Umrah DIY, Jauhar Mustofa, memastikan situasi geopolitik di Timur Tengah tidak mengganggu jadwal keberangkatan.
“Semua masih on schedule sesuai perencanaan bersama Arab Saudi,” ujarnya saat acara pamitan di Kepatihan, Rabu (15/4/2026).






