Ruminews.id, Yogyakarta — Dua mahasiswa asal Indonesia mencatat prestasi membanggakan setelah terpilih menerima beasiswa untuk menghadiri forum internasional advokat kebebasan berbicara bertajuk “Difficult Dialogue Summit 2026” yang digelar di Istanbul, Turki, pada 2–3 Mei 2026.
Pertemuan global ini berlangsung di Hotel Four Points by Sheraton Istanbul Kagithane dan mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara yang aktif dalam isu kebebasan sipil, dialog global, dan kebebasan berekspresi.
Kedua peserta asal Indonesia tersebut adalah Iman Amirullah, lulusan S1 Hubungan Internasional Universitas AMIKOM Yogyakarta, serta Fahra Zahra Alya, mahasiswi S1 Ilmu Komunikasi Universitas Gunadarma. Keduanya merupakan aktivis Students For Liberty (SFL) Indonesia yang aktif dalam berbagai kegiatan advokasi kebebasan sipil dan ruang dialog di kalangan anak muda.
Forum tersebut dihadiri oleh 13 mahasiswa dari berbagai negara, di antaranya India, Iran, Georgia, Maroko, Irlandia, dan Meksiko. Para peserta berdiskusi mengenai berbagai tantangan global yang berkembang saat ini. Mulai dari menguatnya tendensi otoritarianisme, konflik dan perang internasional, hingga krisis ekonomi dan politik di berbagai kawasan dunia.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian kampanye global “Difficult Dialogue Colloquia“, sebuah inisiatif kampanye global Students For Liberty yang bertujuan untuk mendorong terciptanya ruang dialog sehat di kalangan mahasiswa dan masyarakat sipil di tengah meningkatnya polarisasi sosial serta menguatnya tribalisme identitas di berbagai negara.
Melalui pendekatan dialog terbuka, program tersebut berupaya mempertemukan individu dari latar belakang ideologi, budaya, maupun pandangan politik yang berbeda agar tetap dapat membangun komunikasi yang konstruktif tanpa kekerasan.
Dalam pertemuan ini, para peserta juga mendiskusikan bagaimana media sosial, dinamika politik elektoral, dan meningkatnya budaya “echo chamber” turut memperdalam fragmentasi sosial di kalangan generasi muda.
Karena itu, “Difficult Dialogue Summit 2026” menekankan pentingnya kebebasan berbicara, toleransi terhadap perbedaan pandangan, serta kemampuan berdialog secara kritis sebagai fondasi demokrasi yang sehat.
Partisipasi dua mahasiswa Indonesia dalam forum internasional tersebut dinilai menjadi capaian membanggakan sekaligus menunjukkan keterlibatan generasi muda Indonesia dalam percakapan global mengenai demokrasi, kebebasan sipil, dan penguatan budaya dialog di tengah dinamika dunia yang semakin kompleks.
Selain menjadi ruang pertukaran gagasan, pertemuan ini juga diharapkan membuka peluang kolaborasi lintas negara dalam membangun gerakan mahasiswa yang lebih terbuka dan inklusif terhadap perbedaan serta penyelesaian konflik melalui cara-cara dialogis non-kekerasan.







