Dorong Hidup Bersih dan Zero Waste, Tim PKM UNM Edukasi Atlet Kampus Olah Limbah Buah Jadi Eco-Enzyme

ruminews.id, Makassar – Upaya meningkatkan kesadaran atlet terhadap kebersihan kulit sekaligus mendorong pengelolaan limbah organik dilakukan melalui kegiatan edukasi dan tutorial pembuatan eco-enzyme bagi atlet kampus. Kegiatan bertajuk “Edukasi dan Tutorial Optimalisasi Eco-Enzyme Berbasis Limbah Buah sebagai Foot Spray Antimikroba untuk Pencegahan Infeksi Kulit pada Atlet Kampus” tersebut dilaksanakan pada 13 Agustus 2026.

Program ini merupakan bagian dari Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) yang dilaksanakan oleh tim kolaborasi pengabdian kepada masyarakat dari Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), serta Jurusan Fisioterapi, Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan, Universitas Negeri Makassar (UNM).

Tim pelaksana dipimpin oleh Prof. Hartati, S.Si., M.Si., Ph.D., bersama anggota Dr. Rusli, S.Or., M.Kes. dan Andi Sri Dewi Anggraeni M., S.Pd., M.Biomed. Kegiatan tersebut juga melibatkan volunteer dan mahasiswa dalam proses pelaksanaan edukasi serta praktik.

Sebanyak 30 atlet yang tergabung dalam Sport Lab Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan UNM mengikuti kegiatan tersebut. Para peserta mendapatkan pemaparan mengenai eco-enzyme, pemanfaatan limbah organik, prinsip fermentasi, serta pentingnya menjaga kebersihan kulit, khususnya pada area kaki.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh tingginya aktivitas fisik atlet yang dapat meningkatkan produksi keringat. Kondisi tersebut menjadi perhatian, terutama pada area kaki yang kerap tertutup sepatu dalam waktu cukup lama. Selain itu, penggunaan perlengkapan olahraga secara bersama-sama juga dapat meningkatkan peluang terpaparnya mikroorganisme yang berpotensi menimbulkan gangguan pada kulit.

Di sisi lain, limbah buah dan sayuran yang belum dimanfaatkan secara optimal masih menjadi persoalan lingkungan. Padahal, kulit buah dan sisa bahan organik tertentu dapat diolah melalui proses fermentasi menjadi eco-enzyme.

Berangkat dari kondisi tersebut, tim PKM UNM mengembangkan pendekatan yang mengintegrasikan pengelolaan limbah organik dengan upaya promotif dan preventif dalam menjaga kebersihan kulit atlet.

Keunikan program ini terletak pada pendekatan zero waste dan preventive care. Limbah organik tidak hanya dipandang sebagai material yang harus dibuang, tetapi dapat diolah menjadi bahan yang memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut. Pada saat yang sama, atlet diberikan pemahaman mengenai pentingnya kebersihan kaki, pengelolaan kelembapan, serta kebersihan perlengkapan olahraga.

Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Para atlet tidak hanya mengikuti pemaparan materi, tetapi juga terlibat dalam sesi tutorial dan praktik pembuatan eco-enzyme.

Melalui praktik tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai prinsip dasar pembuatan eco-enzyme sekaligus mengenal berbagai kemungkinan pemanfaatannya. Edukasi juga diarahkan untuk membangun kesadaran bahwa pencegahan masalah kulit pada atlet tidak hanya bergantung pada penggunaan suatu produk, tetapi juga pada penerapan perilaku hidup bersih dan kebiasaan menjaga kebersihan perlengkapan olahraga.

Ketua tim PKM, Prof. Hartati, menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak semata-mata berfokus pada pemanfaatan eco-enzyme, tetapi juga pada pembentukan perilaku hidup bersih serta kesadaran terhadap pengelolaan lingkungan.

“Atlet memiliki aktivitas fisik yang tinggi sehingga kebersihan dan kesehatan kulit, terutama kaki, perlu mendapat perhatian. Melalui pemanfaatan eco-enzyme, kami ingin memperkenalkan inovasi berbasis limbah yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari upaya menjaga kebersihan kaki, sekaligus meningkatkan kesadaran terhadap pengelolaan limbah,” ujarnya.

Menurut tim pelaksana, pemanfaatan eco-enzyme dalam konteks perawatan kulit masih perlu memperhatikan aspek keamanan, efektivitas antimikroba, formulasi, serta pembuktian ilmiah lebih lanjut. Karena itu, produk yang diperkenalkan dalam kegiatan ini diposisikan sebagai bagian dari inovasi edukatif dan pengembangan yang memerlukan kajian lebih lanjut sebelum digunakan sebagai produk antiseptik atau antimikroba secara luas.

Program tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun kebiasaan pengelolaan limbah organik sekaligus meningkatkan kesadaran atlet terhadap kesehatan kulit.

Ke depan, tim PKM UNM berharap edukasi serupa dapat terus dikembangkan dengan mengedepankan aspek keamanan dan evidence-based practice. Tidak hanya berkaitan dengan pemanfaatan limbah buah secara berkelanjutan, tetapi juga mencakup edukasi mengenai kebersihan kaki, pengelolaan kelembapan, kebersihan sepatu dan kaus kaki, serta perawatan perlengkapan olahraga.

Melalui pendekatan tersebut, inovasi sederhana berbasis eco-enzyme diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya membangun perilaku hidup bersih, pengelolaan lingkungan yang lebih bertanggung jawab, serta budaya kesehatan yang lebih baik di lingkungan olahraga kampus.

Share

Scroll to Top