Ruminews.id, Sleman — Peristiwa 1965 yang dikenal masyarakat Indonesia sebagai G30S atau Gerakan 30 September masih membekas dalam ingatan kolektif hingga kini. Untuk memperingati peristiwa tersebut, Toko Buku Akik menggelar kegiatan Intimate Talk yang membahas buku karya Prof. Dr. Saskia Wieringa berjudul “Kuntilanak Berbau Wangi”.
Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (30/9/2026) pukul 18.00 WIB tersebut menghadirkan Ita Fatia Nadia dari Komnas Perempuan dan Kuncoro Hadi, Dosen Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Diskusi dipandu oleh Dila dari Komunitas Bambu.
Sebelum acara dimulai, para peserta mulai memenuhi pelataran Toko Buku Akik. Para pembicara bersama moderator juga terlihat berdiskusi mengenai sejumlah poin yang akan dibahas dalam kegiatan tersebut.
Acara kemudian dimulai dengan pembukaan oleh moderator dan pengenalan dua pembicara. Dalam pemaparannya, Ita Fatia Nadia membahas sejarah gerakan perempuan yang menjadi salah satu konteks dalam buku “Kuntilanak Berbau Wangi”.
Ita menjelaskan, sejarah gerakan perempuan Indonesia telah berkembang sejak sebelum kemerdekaan. Salah satu momentum penting terjadi pada 1928, ketika selain Kongres Pemuda yang melahirkan Sumpah Pemuda, terdapat pula Kongres Wanita yang menjadi bentuk konsolidasi perempuan Indonesia dalam perjuangan menuju kemerdekaan.
Ia juga menyebut sosok Supeni yang dinilai memiliki peran dalam rangkaian peristiwa bersejarah pada masa tersebut.
Perkembangan gerakan perempuan berlanjut pada 1932 dengan munculnya berbagai sekolah untuk guru perempuan di sejumlah wilayah, mulai dari Jawa Barat hingga Yogyakarta. Ita menyinggung keberadaan Sekolah Mendut dan Wisma Rini yang berada di kawasan sekitar Taman Siswa sebagai ruang yang turut mendorong berkembangnya kebiasaan membaca, menulis, dan berkebudayaan di kalangan perempuan.
Menjelang 1965, gerakan perempuan kembali berkembang melalui Gerwani atau Gerakan Wanita Indonesia. Menurut Ita, setelah peristiwa G30S, gerakan perempuan yang sebelumnya berkembang secara mandiri kemudian menjadi sasaran politik dan mengalami penghancuran pada masa kekuasaan berikutnya.
Perubahan tersebut kemudian memengaruhi konstruksi peran perempuan pada masa Orde Baru. Menurut Ita, perempuan yang sebelumnya digambarkan sebagai sosok kritis, mandiri, otonom, dan berpendidikan kemudian diarahkan menjadi sosok domestik dan penurut serta dijauhkan dari aktivitas politik.
Ia juga membahas konsep “femisida”, yang dalam pemaparannya merujuk pada pembinasaan atau pembunuhan terhadap perempuan dalam rezim militeristik dan otoritarian. Ita menyebut berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan dan gerakan perempuan terjadi di berbagai wilayah Indonesia pada masa Orde Baru, termasuk penyiksaan yang menyasar tubuh dan seksualitas perempuan.
Ita kemudian mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kemungkinan berulangnya pola kekuasaan militeristik yang berdampak terhadap perempuan. Dalam diskusi tersebut, ia mengaitkannya dengan menguatnya kembali peran militer dalam pemerintahan saat ini dan posisi perempuan yang dinilai rentan dalam situasi tersebut.
Setelah pemaparan, diskusi dibuka untuk peserta. Sejumlah pertanyaan kemudian disampaikan, di antaranya mengenai bagaimana Soeharto dan Ali Moertopo membangun ketakutan masyarakat terhadap Gerwani serta apakah diperlukan partai politik yang berbasis feminisme.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Ita menjelaskan persoalan perempuan tidak dapat dilepaskan dari struktur kelas. Menurutnya, penguasaan kelas dalam sistem kapitalisme turut memengaruhi posisi perempuan dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Ia mencontohkan bagaimana konstruksi mengenai fungsi reproduksi perempuan dapat menghasilkan stigma, termasuk penggunaan istilah “mandul” yang lebih sering diarahkan kepada perempuan ketika sebuah keluarga tidak memiliki anak.
Ita juga menyinggung program keluarga berencana (KB) yang menurutnya berkaitan dengan pengaturan fungsi seksual dan reproduksi perempuan. Dalam dunia industri, ia juga menyoroti adanya perbedaan pembagian upah antara perempuan dan laki-laki berdasarkan gender.
Menurut Ita, penghancuran gerakan feminisme kemudian berlangsung bersamaan dengan pembungkaman struktural terhadap berbagai gerakan perempuan yang memiliki keterkaitan dengan politik. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi salah satu persoalan yang membuat gagasan mengenai partai politik berbasis gerakan feminisme sulit berkembang di Indonesia.
Kuncoro Hadi kemudian menambahkan pembahasan mengenai keterputusan sejarah dalam melihat persoalan perempuan, khususnya dalam konteks analisis kelas. Menurutnya, isu yang diperjuangkan Gerwani memiliki keterkaitan dengan isu feminisme, tetapi konstruksi mengenai perempuan yang diarahkan negara kemudian menggeser peran perempuan dari ruang politik ke ranah rumah tangga.
Perubahan tersebut turut memengaruhi cara sejarah Indonesia memandang peran perempuan. Menurut Kuncoro, ketika peran perempuan dalam politik dan gerakan sosial semakin dihilangkan, pengalaman dan kontribusi perempuan dalam sejarah juga berisiko tidak mendapatkan tempat yang memadai.
Di akhir diskusi, moderator menyampaikan harapan agar tulisan dan kajian mengenai perjuangan perempuan semakin banyak dibahas sehingga dapat memperkuat literasi generasi muda mengenai sejarah gerakan perempuan di Indonesia.
Kegiatan Intimate Talk tersebut berakhir sekitar pukul 21.30 WIB dan dilanjutkan dengan sesi foto bersama para pembicara.
***
Kontributor: Angga Riyon Nugroho, S.Pd.
Editor: Iman Amirullah, S.Sos.



