OPINI

Kado Terindah yang Berubah Menjadi Luka Bagi Kader

Penulis: Riswan – Ketua Bidang Jaringan Informasi dan Advokasi

Ruminews.id – Jika ada satu tempat di mana anak muda Massenrempulu di perantauan metropolitan seharusnya menemukan rumahnya, maka itu adalah Himpunan Pemuda Massenrempulu (HPMM).

HPMM didirikan bukan untuk sekadar menjadi paguyuban kedaerahan yang membawa harum nama Enrekang di kota orang. Lebih dari itu, ia adalah wadah ideologis untuk membina mahasiswa yang tengah mencari jati diri, untuk mengubah potensi menjadi kekuatan peradaban.

Tujuannya sangat jelas dan sakral: mencetak kader yang unggul dalam ilmu pengetahuan, kreatif dalam gagasan, teguh dalam iman dan takwa, bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab untuk mewujudkan masyarakat Massenrempulu yang adil dan sejahtera di bawah ridho Allah SWT. Itulah cita-cita The Founding Father yang harusnya kita jaga.

Untuk itu, HPMM berdiri di atas tiga pilar yang tidak bisa dipisahkan: Keislaman, Ke-HPMM-an, dan Kedaerahan. Tiga pilar ini adalah struktur dasar, sekaligus esensi yang akan menentukan apakah organisasi ini mampu membawa kemajuan bagi bangsa dan daerah.

Persoalannya, esensi itu hari ini sedang mengalami degradasi halus. Tanpa disadari, kita sedang bergerak mundur. Dan di saat kemunduran itu terjadi, kita justru melihat Pengurus Pusat HPMM (PP-HPMM) sebagai pemegang mandat tertinggi, masih sibuk dengan polarisasi yang tak berujung. Langkah konkret yang dinanti kader tak kunjung datang.

Pertanyaannya sederhana: Jika fungsi utama HPMM sebagaimana Pasal 9 adalah organisasi perkaderan, lalu perkaderan seperti apa yang sedang kita jalankan?

Perkaderan, dalam makna terdalamnya, bukanlah event tahunan. Ia adalah proses tiada henti untuk mendidik, membina, dan membentuk jiwa kader agar memiliki kemauan dan kemampuan mengemban amanah kemanusiaan, memperjuangkan misi Islam, dan mewujudkan tatanan masyarakat yang adil.

Semangat itulah yang seharusnya hidup dalam Intermediate Training. Forum ini seharusnya menjadi momentum sakral, ruang untuk mempererat silaturahmi antar jajaran, dan laboratorium untuk melahirkan pemimpin yang kritis, dinamis, progresif, inovatif, serta memiliki kemampuan manajerial.

Namun apa yang terjadi? Momentum itu justru melahirkan ambiguitas dan kekecewaan.

Fakta di lapangan berbicara: beberapa jajaran yang telah mengikuti prosedur tidak masuk dalam daftar pencalonan, sementara peserta yang bahkan tidak mengikuti tahapan pendaftaran formal justru diloloskan.

Praktik seperti ini melahirkan tiga pertanyaan besar yang menggantung di benak kader: Apakah PP-HPMM masih memperhatikan jajarannya? Apakah jajaran tertentu sudah tidak lagi dianggap sebagai bagian dari keluarga besar ini? Atau jangan-jangan, ini murni karena persiapan yang tidak matang?

Wajar jika kemudian beberapa kader dengan spirit tinggi memilih mundur dari kepesertaan. Bukan karena mereka tidak cinta HPMM, tapi justru karena mereka terlalu cinta, sehingga tidak rela integritas perkaderan dipermainkan. Ketika integritas hilang, maka esensi organisasi itu sendiri telah hilang.

Jika Intermediate Training hanya dijadikan simbol dan acara seremonial untuk menggugurkan kewajiban, maka kita sedang menggali lubang kejatuhan bagi independensi organisasi. Padahal kader HPMM dituntut untuk menjadi garda terdepan melawan ketimpangan sosial di masyarakat.

Bagaimana mungkin kita melawan ketimpangan di luar, jika ketimpangan itu kita pelihara di dalam?

Sudah saatnya PP-HPMM sebagai Center Point kembali pada khittahnya: menjadi wadah yang inklusif, berintegritas tinggi, dan tidak abai pada hal-hal kecil. Sebab dari hal-hal kecil yang diabaikan itulah, cita-cita besar untuk melahirkan insan cita hanya akan menjadi utopis.

Mari berhenti sejenak dan merefleksikan kembali hakikat perjuangan kita. Karena salah satu penyebab utama kemunduran adalah ketika kita lupa akan makna terdalam dari apa yang kita perjuangkan, dan ketika kita telah terlalu jauh melangkah meninggalkan sejarah kita sendiri.

Share Konten

Opini Lainnya

Sultan Mulia Kusuma Nata Pakunegara
Prancis Bergejolak, Indonesia Waspada: Tantangan Presiden Prabowo Menjaga Stabilitas Sosial dan Demokrasi
Muzakkir (7)
LK II PP - HPMM : Antara Harapan Perkaderan dan Realitas Yang Menggugurkan Integritas
Muzakkir (3)
Eksistensi Perempuan dalam Organisasi: Antara Minat, Tantangan dan Kesedaran Kritis
Muzakkir (4)
Ketika Kampus Lebih Sibuk Menghitung Biaya daripada Memperjuangkan Akses
IMG-20261016-WA0044
Usulan MSCI Mengubah Status Pasar Indonesia Menjadi Standalone Market
Muzakkir (5)
Sebuah Refleksi atas Fenomena Politik Lokal dan Anatomi Kekuasaan di Balik Layar
Muzakkir (4)
Dari Statistik Menuju Keadilan: Kritik atas Perencanaan Pendidikan yang Belum Responsif Gender
Muzakkir (3)
Hutan Terus Terbakar, Udara Semakin Tercemar: Sampai Kapan Kesehatan Masyarakat Harus Jadi Korban?
Muzakkir (3)
Karhutla sebagai Fakta Sosial: A. Muh. Ihsan Amu Soroti Disorientasi Kebijakan dan Desak Negara Bertindak Tegas
Muzakkir (6)
Menagih Hak atas Udara Bersih di Tengah Kepungan Asap
Scroll to Top