Penulis : Muhammad Hafidz Rahman – Sekbid Jaringan Informasi & Advokasi HPMM Kom. PNUP
Ruminews.id, Makassar – HPMM merupakan episentrum bagi pejuang anak muda massenrempulu di kota metropolitan sebuah wadah yang mendorong kemajuan bangsa dan daerah. Organisasi daerah yg membawa sebuah keharuman di untaian kota. Membawa sebuah harapan untuk membina mahasiswa yg sedang mencari jati diri.
Melahirkan kader-kader dengan kecapekan ilmu pengetahuan, kreativitas, keimanan, ketakwaan, bernafaskan islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yg diridhoi Allah SWT. Dengan menopang tujuan tersebut mestilah kader harus di tempa agar mereka bisa terbentuk dan membawa cita-cita founder the father.
Nilai-nilai keislaman, ke-HPMM-an, dan kedaerahan menjadi struktur dasar berdirinya organisasi ini. Esensi oraganisasi inilah yang akan membawa kemajuan bangsa dan daerah. Namun secara halus mengalami degradasi. Ketika hal demikian terus menerus berkembang maka salah satu ciri kemunduran organisasi. Disinilah peran PP-HPMM seharusnya mengambil sebuah langkah yg konkret. Tapi sayang kita lihat hari ini PP-HPMM masih disibukkan dengan polarisasi yg belum bisa ditangani.
Apa kabar PP-HPMM jika hal demikian belum bisa terselesaikan. Pasal 9 fungsi HPMM ialah oraganisasi perkaderan. Jika di telisik lebih dalam makna perkaderan ialah suatu proses secara terus menerus mendidik, membina dan membentuk suatu jiwa yg memiliki kemauan dan kemampuan dalam mengemban amanah kemanusiaan dalam rangka memperjuangkan tegaknya misi islam dan terwujudnya tatanan masyarakat
Massenrempulu yang adil dan sejahtera dalam keridhoan Allah SWT secara khusus dan umat manusia pada umumnya.
Intermediate training menjadi momentum untuk mempererat tali silaturahmi antar jajaran tapi sayang hal ini malah menjadi ambiguitas oleh jajaran. Beberapa jajaran tidak lagi masuk didaftar pencalonan dan ironisnya peserta yg tidak mengikuti tahapan pendaftaran tetap di loloskan sebagai peserta… Melahirkan sebuah diskursus baru Apakah Pengurus Pusat masih memperhatikan jajarannya? Ataukah jajaran tersebut tidak lagi dianggap bagian? Ataukah mungkin persiapan yang tidak matang?
Beberapa kader telah mengundurkan diri sebagai peserta dalam intermediate training ini sebab integritas dari PP-HPMM itu telah kehilangan esensinya.
Bukankah Tujuan intermediate training ialah melahirkan pemimpin yang Memiliki kesadaran intlektual yang kritis, dinamis, progresif, inovatif dalam memperjuangkan misi HPMM serta memiliki kemampuan manajerial dalam berorganisasi.
Suatu kekecewaan terhadap kader yang memiliki spirit tinggi dalam melanjutkan nilai perkaderan kini terpatahkan. Jika perkaderan hanya dijadikan sebagai simbol atau acara seremonial belaka maka independensi sebuah organisasi mulai terpuruk. Katanya kado terindah dibulan ini adalah intermediate training tapi sayang menjadi kado terburuk bagi kader.
Kader HPMM harus menjadi garda terdepan ketika adanya ketimpangan yang terjadi pada masyarakat sebagai bagian integral dari masyarakat untuk bersama-sama membangun peradabannya.
PP-HPMM sebagai Center Point bagi kader HPMM haruslah inklusif serta memiliki integritas yg tinggi. Jika hal-hal kecil saja di abaikan maka mencapai sebuah insan cita adalah utopis. Marilah kita bersama-sama merefleksikan nilai perjuangan dan perkaderan sebab salah satu kemunduran ialah kurangnya memahami hakikat sesuatu dan kita telah jauh dari sejarah.
“HPMM lahir sebagai episentrum perjuangan anak muda Massenrempulu, membawa harapan dan cita-cita luhur. Namun hari ini, sebuah refleksi mendalam perlu kita sampaikan bukan untuk melemahkan, melainkan untuk kembali ke jalur perjuangan yang benar.”