OPINI

Eksistensi Perempuan dalam Organisasi: Antara Minat, Tantangan dan Kesedaran Kritis

Perempuan, Kampus, dan Persoalan Partisipasi Organisasi

Penulis: Zahra Salsabila – Aktivis Perempuan

Ruminews.id – Kampus tidak hanya sekadar ruang untuk memperoleh gelar akademik, melainkan juga ruang pembentukan karakter, pengembangan intelektual, serta penumbuhan kesadaran sosial. Di dalam sebuah kampus, organisasi memiliki peran penting sebagai wadah bagi mahasiswa untuk belajar memimpin, menyampaikan gagasan, membangun solidaritas, dan merespons berbagai persoalan sosial. Namun, di tengah peran tersebut, muncul pertanyaan yang patut direnungkan: sejauh mana perempuan mengambil bagian dalam dinamika organisasi kemahasiswaan?

Fenomena kurangnya minat sebagian mahasiswi untuk terlibat dalam organisasi menjadi persoalan yang perlu diperhatikan bersama. Kondisi ini tidak seharusnya langsung dipandang sebagai bentuk apatisme perempuan. Ada berbagai faktor yang mungkin memengaruhinya, mulai dari padatnya aktivitas akademik, keterbatasan waktu, kurangnya informasi mengenai manfaat organisasi, hingga pengalaman berorganisasi yang kurang inklusif. Karena itu, persoalan ini perlu dikaji secara terbuka tanpa menyederhanakan pilihan perempuan ataupun mengabaikan kondisi yang mereka hadapi. Dalam organisasi juga kita akan belajar bagaimana kita sebagai perempuan yang independen mampu mengatur waktu antara akademik dengan non akademik, antara prioritas dengan tanggung jawab yang telah di mulai. Banyak mahasiswa yang berani memulai namun tidak mampu nuntuk menyelesaikan tanggung jawabnya dengan berbagai penyebab tertentu, salah satu diantaranya yaitu merasa tidak mendapatkan sesuatu hal dalam sebuah organisasi.

Manfaat dari suatu organisasi terkadang memang tidak dapat dirasakan secara langsung perlu tahapan atau waktu yang lama untuk menyadari manfaatnya, namun diluar dari hal tersebut banyak yang berfokus hanya pada apa yang akan diberikan oleh suatu organisasi bukan hal apa yang sebenarnya mampu kita berikan untuk organisasi tersebut secara tidak langsung jika kita berfokus dengan hal tersebut kita akan menikmati proses proses yang ada dalam suatu organisasi dan merasakan sendiri manfaatnya. Ada pula yang beralasan masuk organisasi tersebut karena ikut ikutan atau karena perintah senior yang akrab dengannya hal ini juga kebanyakan yang menjadi alasan mahasiswa yang awalnya semangat tetapi lari pada akhirnya.

Di sisi lain, organisasi kemahasiswaan juga perlu melakukan refleksi. Apakah organisasi telah menjadi ruang yang aman, setara, dan terbuka bagi perempuan untuk menyampaikan pendapat serta mengembangkan kapasitas dirinya? Apakah proses kaderisasi telah memberikan ruang yang adil bagi mahasiswi untuk menjadi pengambil keputusan, bukan sekadar pelengkap kegiatan? Pertanyaan-pertanyaan ini penting agar rendahnya partisipasi tidak hanya dibebankan kepada perempuan, tetapi juga menjadi bahan evaluasi bagi organisasi itu sendiri. Dalam sebuah organisasi terkadang menganggap remeh peran serta pergerakan perempuan sehingga para mahasiswi merasa bahwa perempuan dalam suatu organisasi tidak penting ataupun hanya menjadi suatu bagian dari anggota tidak memilki pengaruh tertentu

Partisipasi perempuan dalam organisasi bukan semata-mata persoalan jumlah anggota. Lebih dari itu, partisipasi berkaitan dengan kesempatan untuk berpikir kritis, menentukan arah gerakan, serta terlibat dalam pengambilan keputusan. Kehadiran perempuan dalam ruang organisasi dapat memperkaya perspektif dan mendorong lahirnya gerakan mahasiswa yang lebih responsif terhadap persoalan ketidakadilan dan kesetaraan. Melihat fenomena yang sering terjadi dalam suatu kampus banyak terjadi pelecehan terhadap perempuan dan hanya memilih untuk diam karena merasa itu sebuah hal yang memalukan, perlu dipahami hal tersebut merupakan tindakan yang salah maka dari itu peran organisasi agar membentuk karakter perempuan agar lebih berani menyuarakan atau melawan tindakan yang merendahkan perempuan.

Kesadaran kritis menjadi salah satu hal penting dalam membangun partisipasi tersebut. Perempuan perlu memiliki kesempatan untuk mengenali potensi dirinya, memahami persoalan di sekitarnya, serta menentukan bentuk keterlibatan yang sesuai dengan nilai dan pilihannya. Namun, kesadaran tersebut juga harus diiringi dengan upaya organisasi untuk menghadirkan lingkungan yang suportif, tidak diskriminatif, dan mampu menghargai keberagaman pengalaman mahasiswi. Tidak sedikit juga mahasiswi yang memang kurang kesadaran akan pentingnya berorganisasi karena berlarut larut akan kenyamanan yang selama ini menjadi kebiasaan, berfokus pada satu hal yaitu akademiknya masing masing, tidak dapat pula dihakimi apabila seseorang mengutamakan akademiknya akan tetapi banyak mahasiswa bukan hanya dikalangan perempuan tapi juga di kalangan laki laki yang telah diberikan tanggung jawab akan tetapi meninggalkan organisasi begitu saja, dari sebuah organisasi pula kita mampu menilai cara kerja seseorang untuk bagaimana ke depannya tanpa disadari hal tersebut akan berpengaruh untuk masa depan seseorang.

Pada akhirnya, eksistensi perempuan dalam organisasi bukan hanya tentang mendorong mereka agar bergabung, melainkan juga tentang membangun ruang yang membuat mereka merasa memiliki, dihargai, dan mampu bertumbuh. Organisasi perlu berbenah, sementara mahasiswa perempuan perlu kesadsaran kritis bahwa perempuan bisa bergerak tanpa harus merasa tertindas, mampu berdiri di kakinya sendiri, serta keluar dari zona nyaman di era sekarang yang serba canggih ini, kesadaran ini sangat penting karena jika tidak kemungkinan terburuknya akan membuat para generasi penerus bermalas malasan dalam melakukan suatu hal yang bermanfaat nantinya dan tergantikan oleh alat alat canggih yang melakukan semua tugas manusia.

Sebab, gerakan mahasiswa yang kuat bukanlah gerakan yang hanya mengajak perempuan hadir, melainkan gerakan yang memberikan ruang bagi perempuan untuk berpikir, bersuara, memimpin, dan menentukan arah perjuangan.

Share Konten

Opini Lainnya

Muzakkir (4)
Ketika Kampus Lebih Sibuk Menghitung Biaya daripada Memperjuangkan Akses
IMG-20261016-WA0044
Usulan MSCI Mengubah Status Pasar Indonesia Menjadi Standalone Market
Muzakkir (5)
Sebuah Refleksi atas Fenomena Politik Lokal dan Anatomi Kekuasaan di Balik Layar
Muzakkir (4)
Dari Statistik Menuju Keadilan: Kritik atas Perencanaan Pendidikan yang Belum Responsif Gender
Muzakkir (3)
Hutan Terus Terbakar, Udara Semakin Tercemar: Sampai Kapan Kesehatan Masyarakat Harus Jadi Korban?
Muzakkir (3)
Karhutla sebagai Fakta Sosial: A. Muh. Ihsan Amu Soroti Disorientasi Kebijakan dan Desak Negara Bertindak Tegas
Muzakkir (6)
Menagih Hak atas Udara Bersih di Tengah Kepungan Asap
Muzakkir (5)
Kabut Menyebar Hingga Ke Daerah: Saatnya Negara Ambil Sikap Tidak Sekedar Menyaksikan
Muzakkir (4)
Loyalitas Tanpa Kemandirian: Ironi Regenerasi dalam Tubuh PMII
Muzakkir (3)
Karhutla dan Kegagalan Negara Menjamin Hak Atas Udara Bersih
Scroll to Top