Ruminews.id, Semarang — Sanggar Theosofie Semarang kembali menggelar Sarasehan Rutin pada Sabtu (10/10/2026). Kegiatan ini menjadi ruang refleksi batin dan pendalaman pemikiran Theosofie yang dihadiri pengurus, anggota, serta mahasiswa dari Universitas Diponegoro (Undip) dan Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Sejumlah peserta yang hadir di antaranya Yohana Ina, Herry, Adi Susmoyo, Galih, Lathifah Djadog, Nastifa, Bilal, dan Vian. Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan invokasi dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia yang mengajak peserta merenungkan kesatuan universal seluruh makhluk.
Sarasehan kali ini mengangkat tema pengenalan diri sejati sekaligus mengenang pemikiran dan keteladanan tokoh-tokoh Theosofie yang lahir pada Oktober. Tiga tokoh yang menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut adalah Annie Besant, Nicholas Roerich, dan Clara Margaret Codd.
Annie Besant, yang lahir pada 1 Oktober 1847, dikenal sebagai Presiden Internasional Theosofie kedua. Ia dikenang atas perjuangannya dalam menyuarakan kemanusiaan, kebebasan berpikir, dan persaudaraan.
Sementara itu, Nicholas Roerich, yang lahir pada 9 Oktober 1874 dan wafat pada 1947, merupakan pelukis, penulis, arkeolog, teosof, dan filsuf yang mengabdikan hidupnya untuk mendorong perdamaian dunia melalui seni dan kebudayaan.
Tokoh ketiga, Clara Margaret Codd, lahir pada 10 Oktober 1876 dan wafat pada 3 April 1971. Ia dikenal sebagai penulis asal Inggris, pejuang hak pilih perempuan, feminis sosialis, dan teosofis yang menginspirasi pencarian spiritual.
Melalui pengenalan terhadap ketiga tokoh tersebut, peserta diajak kembali memahami tiga tujuan utama Theosofie. Pertama, membentuk inti persaudaraan universal kemanusiaan tanpa membedakan ras, agama, warna kulit, maupun gender. Kedua, mendorong studi mendalam mengenai perbandingan agama, filsafat, dan sains. Ketiga, menyelidiki hukum-hukum alam yang belum terjelaskan serta daya spiritual yang tersembunyi dalam diri manusia.
Mendalami Diri melalui Jalan Terang
Sesi pendalaman materi dilanjutkan dengan pemaparan oleh Yohana Ina yang membahas karya spiritual Jalan Terang. Melalui materi tersebut, peserta diajak mengenali dan menyelami diri sejati sebagai bagian dari perjalanan kesadaran batin.
Dalam pemaparannya, Yohana menekankan konsep “Aku Sejati” sebagai kesadaran murni yang melampaui dualitas kebahagiaan dan kesedihan duniawi. Dalam pandangan Theosofie, manusia dipahami sebagai percikan ilahi dari Sang Absolut yang menjalani pengalaman di dunia materi melalui tubuh fisik, emosi, dan pikiran.
Pemahaman tersebut mengajak manusia untuk mengambil jarak dari pengalaman hidup tanpa harus menyangkalnya. Seseorang diajak menyadari kehadiran penderitaan maupun kebahagiaan tanpa larut dalam keduanya atau melekat pada pengalaman yang bersifat sementara.
Penyelaman ke dalam diri juga dipandang sebagai jalan untuk mengenali hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Melalui refleksi tersebut, peserta diajak menumbuhkan kesadaran terhadap pengalaman batin sekaligus memahami respons diri terhadap berbagai peristiwa kehidupan.
Latihan Pernapasan dan Meditasi Pelepasan
Setelah pendalaman materi, peserta mengikuti latihan praktis berupa pranayama dan meditasi pelepasan batin. Dua teknik pernapasan yang dipraktikkan adalah Nadi Shodhana, yakni pernapasan bergantian melalui lubang hidung, serta pernapasan ritmik dengan mengatur hitungan saat menarik, menahan, dan mengembuskan napas.
Latihan tersebut menjadi pengantar menuju meditasi pelepasan batin. Dalam sesi ini, peserta dipandu untuk menyadari pengalaman yang tidak nyaman, termasuk rasa sakit hati dan kesedihan yang muncul dalam hubungan dengan orang lain.

Peserta diajak mengakui pengalaman tersebut tanpa menghakimi diri sendiri, kemudian belajar melepaskan keterikatan emosional secara bertahap. Proses ini diarahkan untuk membantu peserta menerima pengalaman masa lalu dan berdamai dengan keadaan yang sedang dihadapi.
Sarasehan ditutup dengan sesi berbagi pengalaman batin dan ramah tamah. Melalui pertemuan ini, Sanggar Theosofie Semarang menghadirkan ruang pembelajaran filosofis dan praktik refleksi diri bagi peserta, sekaligus mendorong penerapan kesadaran diri dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.



