Penulis: M. Alqauzar Hikmal – Presiden Forum Literasi Mahasiswa Indonesia
Ruminews.id – Di atas takhta batu yang dingin dan tinggi, menara gading berdiri dengan keangkuhan yang sunyi. Di sanalah para pemetik kata dan penenun teori bersemayam belajar membaca langit, namun lupa cara mencium bau tanah. Dari balik jendela kaca yang buram oleh kabut retorika, mereka memandang dunia melalui bagan, angka, dan jargon yang asing.
Dunia di mata mereka telah menjelma kalkulasi, alam dijadikan komoditas, dan napas kehidupan rakyat kecil diringkas menjadi lembaran naskah yang tak bernyawa. Namun di bawah bayang-bayang keangkuhan itu, dari hamparan Tanah Kajang, terangkut sebuah gema lembut namun sanggup meretakkan dinding-dinding pualam menara tersebut “Tallasa Kamase-Masea”.
“Tallasa Kamase-Masea” bukan sekadar untaian kalimat yang lahir dari tinta peradaban modern, melainkan helai napas yang dihembuskan oleh Suku Kajang dalam balutan kain hitam polos tanpa alas kaki. Hitam mereka adalah telaga kerendahan hati sebuah warna yang menolak silau oleh kilatan permata, sebuah pakaian yang menanggalkan seluruh derajat dan takhta di hadapan bumi dan Sang Maha Pencipta. Ketika para raja akademis dan birokrat menumpuk gelar demi menaikkan tangga keangkuhan, masyarakat Kajang melangkah tanpa alas kaki untuk terus merasa, menyentuh, dan menyatu dengan denyut tanah yang memberi mereka kehidupan.
Falsafah kesederhanaan dan rasa cukup ini menjelma menjadi cermin retak bagi kaum yang bertengger di menara gading. Betapa kerapnya ilmu pengetahuan menjelma pelita yang hanya menerangi diri sendiri, betapa seringnya kebijakan dirajut oleh jemari yang tak pernah merasakan kasar dan perihnya genggaman cangkul. Dari ketinggian menara, para pemikir merumuskan keselamatan hutan tanpa pernah mendengar bisikan daun Borong Karamat, dan membicarakan kemiskinan tanpa pernah mengecap getirnya seteguk air di muara kemalangan. Tallasa Kamase-Masea menyentil kebasnya nurani mereka, bahwa ketamakan terbesar bukan hanya tentang menimbun harta, melainkan menimbun kata dan kuasa tanpa pernah menyentuh hakikat kemanusiaan.
Sudah saatnya para peniup seruling di puncak menara itu melangkah turun, merobohkan benteng keangkuhan intelektualnya, dan membiarkan telapak kaki mereka bersentuhan kembali dengan tanah yang basah. Sebab, kebijaksanaan sejati tidak pernah bersemayam pada tumpukan buku yang berdebu atau megahnya ruangan ber-AC, melainkan pada keberanian untuk merunduk, merasa cukup, dan berjalan seiring bersama sesama. Tanpa mengakar pada kesederhanaan dan cinta luhur ala Kajang, seluruh teori dan kebijakan megah yang ditenun dari atas menara itu hanyalah menara pasir tampak memukau dari kejauhan, namun rapuh dan sia-sia disapu oleh ombak zamannya sendiri.