Ruminews.id, Bantul – Kekuasaan militeristik yang mengancam kebebasan publik sangat lekat pada pemerintahan Indonesia. Masa Orde Baru menjadi contoh bagaimana kekuasaan tentara mendominasi dalam setiap kehidupan masyarakat. Jogja Art Book Festival 2026 (Jabfest) adakan kegiatan diskusi buku Hegemoni Tentara. Kegiatan diskusi buku ini diadakan pada Jum’at (2/9/2026) dimulai pada pukul 18.30 WIB bertempat di The Ratan, Kampung Mataraman, Yogyakarta. Dengan mengambil tajuk “Hegemoni Tentara dan Perebutan Ingatan”. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan Jabfest 2026 yang berlangsung dari tanggal 30 September 2026-12 Oktober 2026.
Diskusi tersebut dipantik oleh Muhammad Najib Azca-Penulis Buku Hegemoni Tentara, Made Supriyatma-Peneliti dan di moderatori oleh Aisha Puja Ray-Jurnalis. Pada awal diskusi sebagai moderator Aisha membuka pembicaraan tentang merawat ingatan dan pengaruh Dwifungsi ABRI dalam perkembangan masyarakat yang terdapat dalam buku ini. Karena Najib sebagai penulis buku belum hadir, pembicaraan kemudian diambil alih terlebih dahulu oleh Made.
Menurut Made, kondisi sosial masyarakat Indonesia yang memiliki perbedaan dinamika dari masyarakat di Jawa dan luar Jawa, masyarakat pesisir dengan budaya aristokrasi yang masih diterapkan oleh masyarakat di masa kolonial. Tentara kita itu lahir dari mobilisasi kekuatan militer Jepang, PETA (Pembela Tanah Air) untuk mempersiapkan serangan balik dari sekutu. Sehingga Jepang meletakan unsur struktur militer di Indonesia yang dipelihara sampai Indonesia merdeka.
Ada juga bentuk mobilisasi dan kontrol pengamanan di masyarakat masa era kolonial Jepang yang di jelaskan oleh Aiko Kurosawa seperti Hansip (Pertahanan Sipil) dan pembentukan RT/RW yang memang ternyata masih dapat dirasakan oleh masyarakat Indonesia hingga sampai saat ini. Banyak orang yang ada di PETA dulunya merupakan dari KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger) Tentara Kerajaan Hindia Belanda.
Pengaruh ini masih dirasakan setelah Proklamasi Kemerdekaan terjadi di Indonesia pasca tahun 1945. Saat Indonesia berada pada masa revolusi, peran militer yang semula hanya berpangkat rendah seperti komandan pleton kemudian naik menjadi Jenderal. Muncul pula istilah Laskar-Laskar Pejuang dari berbagai daerah yang memiliki peranan terpecah karena kondisi pusat yang saat itu mengalami dampak dari Agresi Militer Belanda.
Made juga menjelaskan tentang konsep-konsep Perang Gerilya yang pernah disampaikan oleh A.H. Nasution yang menjadi konsep wajib yang perlu diterapkan oleh tentara-tentara pada generasi berikutnya untuk membangun organisasi territorial. Di tahun 1950an ide-ide tersebut dirumuskan ulang oleh A.H. Nasution sebagai Dwi Fungsi ABRI. TNI sebagai kekuatan politik dan sebagai kekuatan pertahanan.
Konsep ini dimana sifatnya sementara hanya transisi, sedangkan militer yang normal akan membentuk pemerintahan sipil. Sehingga tentara itu harus punya struktur territorial, dampak dari hal tersebut akan bertambahnya Kodam dan Kodim yang akan didirikan disetiap kabupaten dan kota, setiap kodim akan dilengkapi satu batalyon. Jumlahnya lebih banyak daripada Polisi yang ditempatkan dalam satu daerah tersebut.
Lucunya kompi-kompi dan Batalyon yang ada pada militer ini akan mengerjakan tugas diluar menjaga pertahanan negara. Misalnya ada Batalyon Teritorial Pembangunan yang dilatih tempur, punya persenjataan namun memiliki kompi pertanian, kompi peternakan, pelihara kambing, sapi dan lain sebagainya yang tidak lagi berhubungan dengan menjaga pertahanan negara. Sektor kesehatan juga akan diurus oleh tentara, setiap ada kopdes merah putih akan ada klinik-klinik kesehatan yang dikelola militer. Demikian lanjut oleh Made, menjelaskan.
Masuknya hegemoni tentara dalam setiap kehidupan masyarakat saat ini pada pemerintahan Presiden Prabowo, membuat peranan masyarakat sipil dalam membangun perubahan sosial masyarakat mulai dipinggirkan. Situasi ini akan mulai diperburuk dengan kebijakan-kebijakan otoriter pemerintah yang anti kritik, mulai memberdayakan militer sebagai senjata pamungkas pemerintah untuk membungkam berbagai protes masyarakat terhadap negara.
Aisha kemudian memulai pembicaraanya kepada Najib, selaku penulis buku Hegemoni Tentara untuk menceritakan pengalamannya bersinggungan langsung dengan militer hingga perkembangan militer pada generasi saat ini. Buku ini sebenarnya ditulis pada 1996 sebagai Skripsi, kemudian diterbitkan pertama kali oleh LKIS dan diterbitkan ulang oleh Penerbit Semut Api. Najib mengawali pembicaraanya dengan mengajukan pertanyaan, “Disini adakah yang pernah berhadapan langsung dengan tentara?” kebetulan saat masih SMA saya dulu pernah di introgasi di Koramil Pekalongan karena membuat pameran buku bekerjasama dengan Adhil Amirulah Sadewa (adik Cak Nun). Ada sebuah buku saat itu dengan judul “Kritik Islam Atas Marxisme”, hanya ada kata Marxisme di masa Orde Baru hal tersebut menjadi momok yang menakutkan sehingga militer bersikap negartif terhadap hal tersebut, tanpa melihat konteks dan isi dari buku tersebut.
“Itu kan buku kritik terhadap paham Marxisme, bukan ingin menyebarkan paham Marxisme, sehingga seharusnya memahami bukunya terlebih dahulu baru mengintrogasi seharusnya merupakan langkah yang dilakukan militer”. Demikian ucap Najib.
Menurut Najib Militer sekarang mengalami pergeseran. Generasi milenial saat ini tidak memiliki pengalaman buruk dengan militer, sehingga narasi kosong tentang sejarah militer mulai menjadi implikasi untuk menunjukan kondisi militer saat ini yang baik hati, peduli terhadap masyarakat sama dengan yang disampaikan di dalam buku ini. Kepercayaan tinggi terhadap TNI bukan mengartikan TNInya bagus tapi kekecawaan terhadap lembaga-lembaga lain, salah satunya lembaga partai politik yang sudah tak dapat lagi dipercaya.
Produk dari gadget dari militerisme dilihat sebagai estetika dan gaya hidup. Di masa Orde Baru militer lahir dari Indoktrinisasi, misalnya film G30S/PKI, P4, Upacara Bendera dan lain-lain. Sedangkan di era saat ini hegemoni itu bekerja melalui hiburan dan algoritma, mengarahkan aktifitas kita sehari-hari. Anggota militer berubah menjadi konten kreator, tampil tampan, religius dan lucu. Akibatnya seragam menjadi akrab dan tidak mengancam. Seragam militer menjadi fashion, bahkan di Jawa Barat Gubernurnya menjadikan barak untuk menyelesaikan permasalahan pelajar disana.
Aisha kemudian membuka sesi tanya jawab kepada para peserta , salah satu peserta bernama Shean menanyakan tentang peranan Taman Makam Pahlawan, yang perijinannya saat ini harus melewati tentara/militer. Made kemudian menanggapi bahwa peran pahlawan saat ini masih terindoktrinasi kepada sosok militer atau tentara, sehingga pandangan yang lahir di masa Orde Baru tersebut masih melekat pada ruang publik sehingga perijinan Taman Makam Pahlawan menjadi tak sepenuhnya dikelola oleh dinas terkait.
Dengan memperbaiki pandangan tersebut, semestinya masyarakat dapat memahami bahwa nasionalisme tidak harus dibentuk dari pahlawan militer saja melainkan juga masyarakat sipil yang memiliki peran terhadap negara dan bangsanya. Diskusi kemudian diakhiri pada pukul 21.00 WIB dengan foto bersama dengan narasumber.
***
Kontributor: Angga Riyon Nugroho, S.Pd.
Editor: Iman Amirullah



