Ruminews.id, Semarang — Suasana hening dan hangat mewarnai kegiatan Sarasehan dan Meditasi Bulan Purnama di Sanggar Theosofie Semarang, Sabtu (26/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan spiritual bagi anggota dan sahabat sanggar untuk sejenak berjarak dari kesibukan sehari-hari, sekaligus mempererat persaudaraan dan melatih kesadaran diri.
Kegiatan diikuti Jaya Sumana, Subiyanto, Adi Susmoyo, Yohana Ina, Cahyo, serta sejumlah mahasiswa Universitas Diponegoro, yakni Vivian, Rany, dan Anis. Hadir pula Yudhi yang selama ini menjadi penjaga Sanggar Theosofie Semarang. Ia disebut sebagai generasi ketiga yang menjaga sanggar sejak berdirinya tempat tersebut di Semarang.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan dan pembacaan invokasi yang dipimpin Adi Susmoyo dalam bahasa Jawa dan Indonesia. Invokasi tersebut mengajak peserta merenungkan keberadaan kehidupan, cahaya, dan cinta kasih sebagai sesuatu yang menyatukan seluruh makhluk.
“O Hidup tersembunyi yang bergetar dalam setiap atom.
O cahaya tersembunyi yang bersinar dalam setiap Makhluk.
O cinta kasih tersembunyi yang memeluk semua dalam kesatuan.
Oleh karena itu yang merasa satu dengan-Mu karena itu tahu ia satu dengan yang lainnya.”
Setelah pembacaan invokasi, peserta mengikuti sesi berbagi mengenai makna teks tersebut serta pembahasan mengenai kemelekatan. Dalam sesi ini, peserta diajak memahami gagasan bahwa manusia memiliki keterhubungan satu sama lain dan belajar menjalani berbagai peran dalam kehidupan tanpa kehilangan kesadaran terhadap diri sendiri.
Pembahasan kemudian diarahkan pada upaya melepaskan kemelekatan, kesedihan, dan kemarahan. Kesadaran penuh atau kesadaran murni dipandang sebagai cara untuk mengamati pengalaman dari waktu ke waktu tanpa terlalu melekat pada identitas atau peran yang sedang dijalani.
Peserta juga diajak menerapkan latihan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, yakni memilih satu aktivitas tertentu setiap hari dan menjalankannya dengan perhatian penuh. Latihan tersebut digunakan untuk membangun kebiasaan menyadari apa yang sedang dilakukan dari waktu ke waktu.
Memasuki sesi meditasi, Yohana Ina memandu peserta melakukan persiapan berupa peregangan dan relaksasi ringan. Peserta juga diperkenalkan pada gerakan tangan atau mudra, yakni Hakini Mudra dan Dhyana Mudra, sebagai bagian dari latihan fokus dan kesadaran.
Persiapan dilanjutkan dengan latihan pernapasan atau pranayama yang terdiri dari pernapasan ritmik, Nadi Shodhana, Kapalabhati, dan Brahmari.
Setelah rangkaian persiapan tersebut, peserta mengikuti meditasi hening selama sekitar 20 menit. Sesi meditasi kemudian ditutup dengan afirmasi yang mengajak peserta melakukan refleksi spiritual.
“Bimbing Hamba dari ketidaktahuan menuju kebenaran. Bimbing Hamba dari gelap menuju terang. Bimbing Hamba dari kematian menuju keabadian. Damai di hati damai di bumi selama-lamanya.”
Kegiatan kemudian ditutup dengan ramah tamah dan foto bersama. Pertemuan tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk kembali berinteraksi dalam suasana yang lebih santai setelah menjalani rangkaian sarasehan dan meditasi.
Melalui kegiatan bulan purnama tersebut, Sanggar Theosofie Semarang menjadi ruang pertemuan bagi para peserta untuk melakukan refleksi, berlatih kesadaran, sekaligus membangun hubungan persaudaraan dalam suasana yang tenang.
***
Kontributor: Yohana Ina
Editor: Iman Amirullah



