Penulis: Iman Amirullah — Managing Editor Suara Kebebasan dan Wapimred Ruminews
Ruminews.id — Colombo, Sri Lanka, menjadi tempat saya berhenti sejenak untuk melihat kembali perjalanan gagasan kebebasan di Asia. Pada 10–September, saya mendapat kesempatan menghadiri Asia Liberty Forum (ALF) 2026 sebagai Managing Editor Suara Kebebasan dengan dukungan Atlas Network.
ALF merupakan salah satu konferensi tahunan yang mempertemukan organisasi, think tank, dan aktivis pro-kebebasan dari berbagai negara di Asia. Tahun ini, ALF mengangkat tema “Focus”. Tema tersebut terasa cukup dekat dengan situasi gerakan kebebasan hari ini. Demokrasi mengalami kemunduran di sejumlah negara, populisme kembali bak zombie yang menginfeksi Asia dan mungkin mayoritas negara di dunia, dan gagasan kolektivisme masih memiliki pengaruh yang kuat dalam kehidupan politik Asia.
Saya datang ke Colombo dengan rasa ingin tahu tentang bagaimana para pegiat kebebasan di berbagai negara melihat situasi tersebut. Dua hari berada di forum ini justru membuat saya kembali memikirkan pertanyaan yang lebih mendasar. Apa yang sudah dicapai gerakan kebebasan? Apa yang masih tertinggal? Dan, apa yang sebenarnya ingin kita perjuangkan beberapa tahun ke depan?
Pertanyaan itu muncul sejak sesi pembuka bertajuk “A Generation in Motion: The Future of Freedom in Asia”. Sesi tersebut dibawakan oleh Direktur Advocata Institute, Daniel Alphonsus, dan dimoderatori Tom G. Palmer, salah satu tokoh penting dalam perkembangan libertarianisme modern.

Percakapan banyak membahas gerakan anak muda di berbagai negara Asia. Nepal, India, Sri Lanka, dan Indonesia memiliki pengalaman politik yang berbeda. Namun, ada keresahan yang terasa serupa di antara berbagai gerakan tersebut. Anak muda mulai mempertanyakan “status-quo” dan semakin berani berhadapan dengan gejala otoritarianisme.
Bagi saya, bagian ini cukup menarik. Tidak semua anak muda tersebut menyebut diri mereka libertarian. Mereka juga datang dari latar belakang dan pandangan politik yang beragam. Namun, ada satu pertanyaan yang terus muncul dalam berbagai gerakan tersebut. Sampai sejauh mana negara boleh ikut menentukan kehidupan individu?
Pertanyaan itu merupakan salah satu fondasi penting dalam pemikiran libertarian. Kebebasan tidak berhenti pada pemilu yang berlangsung secara rutin atau pergantian pemerintahan. Ada persoalan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu kemampuan seseorang untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri tanpa intervensi kekuasaan yang tidak perlu.
Hari pertama kemudian berlanjut dengan sejumlah workshop yang lebih praktis. Salah satunya adalah Marcom 360, yang membahas cara organisasi membangun brand dan komunikasi publik. Bagi organisasi yang bergerak di bidang gagasan, persoalan komunikasi sering kali tidak kalah penting dari gagasan itu sendiri.
Sebuah argumen yang kuat tetap membutuhkan cara penyampaian yang tepat. Organisasi perlu memahami siapa yang ingin mereka ajak bicara, bahasa seperti apa yang digunakan, dan bagaimana mengukur apakah pesan tersebut benar-benar sampai kepada publik.
Pembahasan kemudian beralih pada upaya memenangkan kembali gagasan kebebasan di tengah kebangkitan populisme. Diskusi ini menurut saya menarik karena peserta tidak langsung diarahkan untuk mencari cara mengalahkan populisme. Kami justru diajak melihat populisme sebagai sebuah gagasan politik. Definisinya perlu dibicarakan terlebih dahulu sebelum menentukan bagaimana gerakan kebebasan meresponsnya.
Menjelang akhir hari pertama, pembahasan bergeser ke persoalan organisasi. Bagaimana sebuah think tank atau organisasi dapat tumbuh tanpa terus bergantung pada figur pendirinya?
Pertanyaan tersebut terasa relevan bagi banyak organisasi di kawasan ini. Founder sering menjadi wajah utama organisasi. Mereka membangun reputasi, jaringan, sekaligus arah gerakan. Namun, sebuah organisasi yang ingin bertahan dalam jangka panjang membutuhkan regenerasi. Kepemimpinan baru harus memiliki ruang untuk tumbuh dan membawa organisasi tersebut melampaui generasi pendirinya.

Hari kedua membawa saya pada diskusi yang lebih dekat dengan isu yang selama ini saya kerjakan. Salah satu sesi yang saya ikuti berjudul “Research-Based Advocacy and Public Campaign for Freedom of Religion in Indonesia”. Sesi ini dibawakan oleh Adinda Tenriangke Muchtar, Direktur The Indonesian Institute sekaligus Editor in Chief Suara Kebebasan.
Adinda membagikan pengalaman The Indonesian Institute dalam melakukan advokasi kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia. Salah satu isu yang dibahas adalah pemudahan perizinan pembangunan rumah ibadah.
Saya cukup tertarik dengan proses yang dipaparkan. Advokasi berbasis riset ternyata membutuhkan perjalanan panjang. Dimulai dari pengumpulan data, pemetaan aktor, pembangunan koalisi, sampai membawa hasil riset kepada berbagai pemangku kepentingan. Riset kemudian tidak berhenti sebagai dokumen. Ia perlu diterjemahkan menjadi gagasan yang dapat dipahami dan dibicarakan oleh publik.
Dari sana, diskusi berlanjut pada pertanyaan mengenai akar kebebasan di Asia. Ini menjadi pembahasan yang cukup menarik mengingat kolektivisme masih sangat kuat dalam banyak masyarakat Asia. Nilai tentang kelompok, harmoni sosial, dan kepentingan bersama sering mendapat tempat yang lebih besar daripada gagasan mengenai otonomi individu.
Namun, mungkin justru di ruang seperti inilah gagasan kebebasan perlu terus dibicarakan. Kebebasan individu tidak harus selalu ditempatkan berhadapan dengan kehidupan bersama. Yang perlu dipertahankan adalah ruang bagi setiap orang untuk menentukan hidupnya sendiri.
Hari kedua ditutup dengan Shark Tank. Sejumlah calon pemimpin organisasi kebebasan mempresentasikan gagasan dan rencana yang ingin mereka bawa ke negara masing-masing. Forum juga memberikan Asia Liberty Award 2026 kepada Center for Civil Society (CCS) atas kerja mereka dalam mendorong penghapusan UU 216 di India yang telah kedaluwarsa dan dinilai menghambat perkembangan UMKM.
Dua hari di Colombo akhirnya terasa seperti perjalanan untuk kembali pada pertanyaan awal. Gerakan kebebasan membutuhkan gagasan yang kuat. Ia juga membutuhkan riset, komunikasi, organisasi, dan regenerasi. Semua itu merupakan pekerjaan yang panjang dan tidak selalu menghasilkan perubahan dalam waktu singkat.
Mungkin itulah makna “Focus” bagi saya. Di tengah berbagai perdebatan tentang demokrasi, populisme, dan masa depan politik Asia, gerakan kebebasan perlu terus mengingat alasan paling sederhana mengapa gagasan ini diperjuangkan.
Manusia berhak memiliki ruang untuk menentukan hidupnya sendiri.