Penulis: DYMM Sultan Mulia Kusuma Nata Pakunegara XV — Sultan Dari Istana Baitul Mulkiah Kesultanan Pakunegara Sanggau
Ruminews.id — Pergantian Menteri Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara pada 14 September 2026 merupakan peristiwa ekonomi penting karena terjadi ketika rupiah masih berada dalam tekanan dan pasar sangat sensitif terhadap kredibilitas kebijakan fiskal.
Suahasil bukan figur baru: ia lama berada di lingkungan Kementerian Keuangan dan sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan. Pasar cenderung membaca pengangkatannya sebagai sinyal penguatan kembali pendekatan teknokratis dan disiplin fiskal.
1. Dampak terhadap makro dan mikro ekonomi
Dari sisi makroekonomi, pergantian ini berpotensi positif apabila Suahasil mampu memperkuat kembali kredibilitas APBN, menjaga defisit, mengendalikan pembiayaan utang, dan meningkatkan koordinasi dengan Bank Indonesia.
Suahasil sendiri menegaskan tidak akan melakukan perubahan kebijakan secara mendadak dan pekerjaan Kementerian Keuangan akan berjalan seperti biasa.
Perbedaan yang mungkin muncul adalah orientasi kebijakan.
Pada masa Purbaya, pendekatan fiskal relatif agresif dalam mendorong likuiditas dan pertumbuhan—antara lain melalui penempatan Rp200 triliun dana pemerintah di Himbara untuk mendorong kredit.
Di bawah Suahasil, saya memperkirakan pendekatannya berpotensi lebih menekankan keseimbangan antara growth dan fiscal credibility.
Pada tingkat mikro, dampaknya akan terasa melalui suku bunga kredit, likuiditas perbankan, belanja pemerintah, proyek infrastruktur, subsidi, insentif pajak, serta daya beli masyarakat.
Jika disiplin fiskal diperketat terlalu cepat, stimulus terhadap sektor riil dapat sedikit berkurang. Sebaliknya, meningkatnya kepercayaan investor dapat menurunkan risk premium dan memperbaiki iklim investasi.
2. Dampak terhadap penguatan rupiah
Dalam jangka pendek, pergantian Menkeu belum otomatis memperkuat rupiah. Pada 14 September rupiah justru ditutup melemah sekitar 0,33% menjadi Rp17.669/USD.
Namun dalam jangka menengah, Suahasil mempunyai peluang memberikan sentimen positif kepada rupiah apabila pasar melihat adanya:
disiplin APBN → defisit terkendali → kebutuhan pembiayaan lebih kredibel → risk premium turun → capital inflow meningkat → permintaan rupiah meningkat → rupiah menguat.
Ini penting karena stabilitas rupiah pada akhirnya bukan hanya persoalan Bank Indonesia. Kredibilitas fiskal menentukan persepsi investor terhadap risiko aset Indonesia.
Karena itu saya melihat pengangkatan Suahasil berpotensi menjadi faktor pendukung rupiah, tetapi tidak cukup sendirian. Rupiah tetap sangat dipengaruhi suku bunga AS, dolar AS, arus modal asing, neraca perdagangan, cadangan devisa, dan kebijakan BI.
3. Dampak terhadap pertumbuhan ekonomi
Di sinilah terdapat trade-off utama.
Purbaya cenderung menggunakan pendekatan yang lebih ekspansif untuk mendorong likuiditas dan pertumbuhan.
Suahasil kemungkinan lebih berhati-hati terhadap kesehatan fiskal. Reuters melaporkan bahwa ia menekankan kredibilitas anggaran dan komitmen menjaga defisit di bawah batas 3% PDB.
Dalam jangka pendek, pendekatan fiskal yang lebih prudent dapat membuat akselerasi pertumbuhan tidak seagresif stimulus fiskal besar.
Namun dalam jangka menengah-panjang, pertumbuhan yang sedikit lebih moderat tetapi berkualitas dan kredibel dapat lebih sehat dibanding pertumbuhan tinggi yang menimbulkan kekhawatiran terhadap APBN, utang, inflasi, atau rupiah.
Data BI sebelumnya menunjukkan pertumbuhan ekonomi telah meningkat dari 5,39% yoy pada kuartal IV 2025 menjadi 5,61% pada kuartal I 2026, terutama didukung permintaan domestik.
Dengan demikian, tantangan Suahasil adalah mempertahankan momentum tersebut tanpa mengorbankan kesehatan APBN.
4. Dampak terhadap kebijakan moneter dan fiskal
Ini menurut saya merupakan bagian paling strategis dari pergantian tersebut.
Pemerintah dan BI sebelumnya telah menetapkan koordinasi fiskal-moneter 2026: defisit APBN diarahkan sekitar 2,68% PDB, sementara BI menjaga inflasi pada sasaran 2,5±1% sekaligus menjaga stabilitas rupiah.
Dengan latar belakang teknokratis Suahasil, kemungkinan terdapat ruang untuk memperkuat kembali pembagian peran:
- Kementerian Keuangan: menjaga APBN, penerimaan negara, belanja produktif, defisit dan utang.
- Bank Indonesia: menjaga inflasi, rupiah, likuiditas dan stabilitas moneter.
Keduanya kemudian bersinergi melalui kebijakan SBN, likuiditas, stabilisasi pasar keuangan dan dukungan terhadap pertumbuhan.
Ini penting karena apabila kebijakan fiskal terlalu agresif sementara BI harus menjaga rupiah, kebijakan keduanya dapat saling berlawanan. Koordinasi yang lebih baik berpotensi mengurangi ketidakpastian tersebut.
5. Respons market/pasar modal
Respons awal pasar cukup menarik.
IHSG sempat jatuh ke sekitar 6.371, tetapi setelah kepastian Suahasil menjadi Menkeu, indeks berbalik hingga sekitar 6.546, sebelum akhirnya ditutup 6.534 atau hanya turun sekitar 0,10%.
Artinya, terjadi pola:
ketidakpastian reshuffle → panic/selling pressure → nama Suahasil diumumkan → ketidakpastian berkurang → rebound.
Beberapa saham bank besar bahkan mengalami penguatan cukup signifikan. Respons tersebut menunjukkan pasar setidaknya pada hari pertama memberikan benefit of the doubt kepada Suahasil.
Tetapi rebound satu hari tidak boleh langsung dianggap sebagai konfirmasi tren bullish.
Investor selanjutnya akan melihat APBN, defisit, penerbitan SBN, kebijakan pajak, subsidi, program prioritas pemerintah, hubungan Kemenkeu–BI, dan terutama konsistensi Presiden dalam mendukung disiplin fiskal.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, saya menilai pergantian Purbaya – Suahasil berpotensi mengubah titik berat kebijakan dari pendekatan yang relatif agresif dalam mendorong likuiditas dan pertumbuhan menuju kombinasi pertumbuhan + stabilitas + kredibilitas fiskal.
Efek jangka pendek masih dapat volatil karena pasar harus menilai kebijakan konkret Menkeu baru. Tetapi apabila Suahasil mampu menjaga defisit, meningkatkan kualitas belanja, menjaga independensi dan koordinasi dengan BI serta memberikan kepastian kepada investor, dampak jangka menengah berpotensi positif terhadap rupiah, SBN, IHSG dan investasi asing.
Rangkaian transmisinya dapat digambarkan sebagai:
Suahasil → kredibilitas fiskal → risk premium Indonesia → kepercayaan investor → capital inflow → rupiah lebih stabil/menguat → yield SBN lebih terkendali → biaya modal turun → investasi → HSG → pertumbuhan ekonomi lebih berkelanjutan.
Risiko terbesarnya justru apabila disiplin fiskal yang diharapkan pasar tidak diikuti perubahan nyata pada kebijakan, atau terjadi pergantian arah kebijakan yang terlalu sering. Dalam kondisi tersebut, pergantian figur saja tidak cukup untuk menurunkan country risk Indonesia.
Jadi, respons awal pasar dapat dinilai cautiously positive, tetapi pembuktian sesungguhnya akan terlihat dalam beberapa bulan ke depan melalui pergerakan rupiah, yield SBN, foreign flow IHSG, defisit APBN, dan pertumbuhan kredit.