Penulis: Muh. Fathurrahman – Penggiat Literasi
ruminews.id – PBAK seharusnya menjadi ruang pertama mahasiswa baru mengenal dunia akademik, kebebasan berpikir, dan keberanian menyampaikan pendapat. Namun, ketika suara “Tolak Militer Masuk Kampus” justru berujung pada ancaman Drop Out, PBAK berubah menjadi ruang pertama mahasiswa belajar tentang ketakutan.
Antonio Gramsci menjelaskan bahwa kekuasaan tidak selalu bekerja melalui kekerasan. Kekuasaan dapat bekerja melalui hegemoni, yakni ketika orang akhirnya mengatur dan membatasi dirinya sendiri karena telah menerima batas-batas yang ditanamkan oleh kekuasaan.
Ancaman sanksi terhadap mahasiswa baru memiliki efek physikologi yang jauh lebih luas daripada sekadar menghukum beberapa orang. Kampus mengirim pesan kepada seluruh mahasiswa baru: kritik memiliki risiko, perlawanan memiliki konsekuensi, dan diam adalah pilihan yang paling aman.
Di situlah politik fear appeal bekerja. Mahasiswa tidak harus terus-menerus dibungkam. Cukup dibuat takut sekali, kemudian ketakutan itu akan bekerja sendiri.
Jika pola ini berlangsung bertahun-tahun, mahasiswa dapat kehilangan keberanian untuk mengkritik. Organisasi mahasiswa menjadi semakin hati-hati, ruang diskusi semakin sempit, dan fungsi mahasiswa sebagai social control terhadap kekuasaan perlahan melemah.
Kampus tentu memiliki aturan. Tetapi universitas bukan barak dan mahasiswa bukan prajurit. Perbedaan pendapat seharusnya dijawab dengan argumentasi akademik, bukan dengan menciptakan ketakutan.
Dalam perspektif Gramsci, hegemoni paling kuat justru ketika kekuasaan tidak perlu lagi memaksa seseorang untuk diam, karena orang tersebut sudah belajar membungkam dirinya sendiri.
Maka ini bukan sekadar tentang ancaman DO terhadap mahasiswa baru. Persoalannya adalah apakah kampus sedang membentuk generasi yang berani berpikir atau generasi yang takut berbicara.
Sebab ketika mahasiswa mulai takut mengkritik kampus, pada saat itulah fungsi kontrol sosial mahasiswa mulai kehilangan maknanya