Penulis: Erwin Lessy – Penulis Buku Filsafat Ekonomi
ruminews.id – Ada sebuah bentuk kedangkalan dalam perdebatan keagamaan yakni ketika seseorang menyampaikan kritik tentang keadilan, kekuasaan, atau ketimpangan, yang dibedah bukan lagi gagasannya, tapi identitas pribadinya.
Namanya Fatimah Az-Zahra? Lalu dicurigai Syiah. Berjilbab dan berbicara lantang tentang keadilan? Dicari-cari afiliasinya. Kritis terhadap penguasa? Label sektarian pun ditempelkan.
Ini bukan argumentasi. Ini ad hominem… menyerang orangnya karena tidak mampu menjawab gagasannya.
Dan kalaupun benar seseorang itu Syiah, lalu apa masalahnya?
Apakah keyakinan seseorang otomatis membatalkan argumen tentang keadilan? Apakah kritik menjadi salah hanya karena datang dari seorang Syiah? Bukankah kebenaran sebuah gagasan semestinya diuji melalui argumentasi, fakta, dan moralitasnya, bukan melalui mazhab orang yang menyampaikannya?
Menariknya, nama Fatimah Az-Zahra sendiri justru merujuk kepada sosok yang sangat mulia dalam tradisi Islam. Maka menjadikan nama itu sebagai “bukti” kesyiahan menunjukkan betapa rapuhnya logika tersebut. Banyak Muslim menggunakan nama Fatimah, Ali, Hasan, Husain, dan nama-nama Ahlulbait tanpa otomatis dapat disimpulkan sebagai penganut mazhab tertentu.
Lebih jauh, jika seseorang benar-benar Syiah, ia tetap seorang warga negara, tetap memiliki hak menyampaikan pendapat, tetap dapat memperjuangkan keadilan, dan tetap harus dinilai secara adil.
Keadilan tidak memiliki mazhab. Kejujuran tidak memiliki sekat kelompok. Dan sebuah argumen tidak menjadi salah hanya karena orang yang mengucapkannya berbeda keyakinan.
Kalau tidak setuju dengan kritiknya, jawab kritiknya.
Jangan mengganti argumentasi dengan stigma.
Sebab ketika label “Syiah” dijadikan senjata untuk membungkam kritik, yang sedang dipertontonkan bukan kekuatan iman, tapi kelemahan nalar.
Sepertinya ada benarnya kata kawanku di warung kopi: “JANGAN MENGAKU KEREN SEBELUM DITUDUH SYIAH!”