ruminews.id – Makassar, Selasa (4/8/2026) – Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Makassar kembali menggelar aksi unjuk rasa jilid II di depan AAS Building, Makassar, sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Pulau Lakkang Ca’di yang tengah menghadapi sengketa lahan. Dalam aksi tersebut, massa mengangkat tema “Siasat Pembebasan Lahan Murah Berkedok Gugatan Hukum”.
Aksi ini merupakan lanjutan dari demonstrasi sebelumnya yang menyoroti dugaan praktik mafia tanah melalui mekanisme gugatan perdata di Pengadilan Negeri Makassar. PC PMII Makassar menilai terdapat indikasi penggunaan jalur litigasi sebagai sarana pembebasan lahan yang berpotensi merugikan masyarakat yang telah menguasai, menggarap, dan mewarisi tanah secara turun-temurun.
Sorotan utama massa aksi tertuju pada dua perkara perdata di Pengadilan Negeri Makassar, yakni Nomor 172/Pdt.G/2026/PN Mks dan Nomor 254/Pdt.G/2026/PN Mks, yang berkaitan dengan klaim atas lahan seluas sekitar 70,86 hektare di wilayah Pulau Lakkang Ca’di.
Koordinator aksi, Muhammad Fahril, menegaskan bahwa demonstrasi tersebut merupakan bentuk keberpihakan PMII terhadap masyarakat yang dinilai sedang menghadapi dugaan praktik mafia tanah.
“Aksi ini adalah aksi kedua kami sebagai bentuk solidaritas kepada warga Lakkang Ca’di yang saat ini sedang menjadi korban dugaan mafia lahan. Pada aksi kali ini kami mengangkat tema Siasat Pembebasan Lahan Murah Berkedok Gugatan Hukum sebagai bentuk kritik terhadap praktik-praktik yang kami nilai merugikan masyarakat,” ujar Fahril.
Dalam orasinya, massa juga menyoroti dugaan adanya tekanan terhadap warga selama proses sengketa berlangsung. Menurut PC PMII Makassar, berdasarkan informasi yang mereka himpun, terdapat berbagai bentuk pendekatan kepada masyarakat, mulai dari penawaran pembelian lahan dengan harga murah hingga dugaan pengambilan dokumen pertanahan milik warga.
PMII Makassar turut mendesak aparat penegak hukum melakukan penyelidikan menyeluruh terhadap dugaan praktik mafia tanah yang dinilai telah menimbulkan keresahan di tengah masyarakat Pulau Lakkang Ca’di.
Ketua PC PMII Makassar, Muh. Arfiansyah Aris, mengaku pihaknya juga menghadapi berbagai bentuk tekanan sejak mulai mengawal persoalan tersebut.
“Sejak aksi pertama, saya dan lembaga kami menghadapi berbagai bentuk intimidasi, mulai dari ancaman hingga teror melalui nomor-nomor yang tidak dikenal. Namun hal itu tidak membuat kami mundur. Kami akan tetap berdiri bersama rakyat dan terus mengawal perjuangan masyarakat Lakkang Ca’di hingga memperoleh keadilan,” tegas Pian.
Ia juga mendesak aparat kepolisian untuk segera mengusut dugaan praktik mafia tanah.
“Kami mendesak pihak kepolisian untuk mengusut tuntas dan menangkap para pelaku mafia lahan apabila ditemukan adanya unsur pidana dalam perkara ini. Negara harus hadir memberikan perlindungan kepada masyarakat,” tambahnya.
Massa aksi membawa spanduk dan poster berisi tuntutan agar dugaan praktik mafia tanah di Pulau Lakkang Ca’di diusut secara transparan serta meminta negara menjamin perlindungan terhadap hak-hak masyarakat atas tanah yang telah mereka kuasai secara turun-temurun.
Aksi yang berlangsung di depan AAS Building semula berjalan dengan pengawalan aparat kepolisian. Namun situasi berubah memanas ketika, menurut PC PMII Makassar, sekelompok orang tak dikenal mendatangi lokasi unjuk rasa dan terlibat bentrokan dengan massa aksi. Kelompok tersebut disebut membawa karton bertuliskan “PMII Orderan Mafia Lahan” serta mengenakan masker dan penutup wajah sehingga identitasnya tidak dapat dikenali.
Juru bicara aksi, Firman, menilai insiden tersebut semakin menguatkan dugaan pihaknya bahwa terdapat upaya untuk menghalangi penyampaian aspirasi mereka.
“Dugaan kami semakin kuat. Baru pada aksi kedua ini pihak AAS Building memberikan respons. Menurut dugaan kami, mereka mendatangkan orang-orang yang tidak kami kenal untuk membubarkan aksi PMII. Sebelumnya mereka memilih diam dan menutup mata terhadap persoalan yang kami suarakan,” ujar Firman.
Sementara itu, Fatul menyampaikan bahwa kelompok yang membubarkan aksi didominasi oleh laki-laki dan perempuan berusia lanjut yang mengenakan masker serta penutup wajah. Menurut keterangannya, kelompok tersebut diduga keluar dari area Cafe Coge Lovers sebelum bergerak menuju lokasi unjuk rasa.
“Massa yang membubarkan kami terdiri dari ibu-ibu dan bapak-bapak yang menggunakan masker serta penutup wajah. Berdasarkan pengamatan kami, mereka keluar dari area Cafe Coge Lovers sebelum mendatangi titik aksi,” kata Fatul.
Hingga berita ini diterbitkan, belum terdapat keterangan atau tanggapan resmi dari pihak AAS Building maupun pihak-pihak lain yang disebut dalam pernyataan PC PMII Makassar terkait dugaan tersebut.



