Rupiah Sepekan Melemah 0,83 Persen, Persoalan Geopolitik dan El Nino Membayangi

Rupiah Melemah
Gambaran rupiah yang terus melemah saat ini (Sumber: Kabar Madura)

Ruminews.id, Jakarta — Nilai tukar rupiah melemah 0,83 persen sepanjang pekan perdagangan 14–18 September 2026. Pelemahan tersebut memperpanjang tekanan terhadap rupiah yang telah berlangsung selama tujuh sesi perdagangan berturut-turut.

Mengutip data Bloomberg, rupiah pada perdagangan Jumat (18/9/2026) ditutup di level Rp17.758 per dolar AS, melemah 5 poin atau 0,03 persen dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.753 per dolar AS.

Secara mingguan, posisi tersebut melemah 0,83 persen dibandingkan penutupan Jumat (11/9/2026) di level Rp17.611 per dolar AS.

Sementara berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah pada Jumat berada di level Rp17.745 per dolar AS. Angka tersebut menguat 8 poin dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.753 per dolar AS, tetapi masih melemah sekitar 0,76 persen secara mingguan.

Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan rupiah pekan ini turut dipengaruhi perkembangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk konflik antara Arab Saudi dan kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran.

Menurut Ibrahim, ketegangan tersebut menambah risiko terhadap pasokan minyak global. Kondisi itu menjadi perhatian pasar karena konflik sebelumnya juga telah mengganggu jalur pengiriman energi melalui Selat Hormuz.

“Pasar justru lebih mencermati tanda-tanda Arab Saudi mungkin dapat memulihkan sebagian aliran minyak melalui pipa Timur-Barat miliknya, yang sempat rusak akibat serangan pesawat nirawak (drone) pekan lalu,” kata Ibrahim dalam risetnya.

Namun, prospek pasokan minyak masih menghadapi ketidakpastian. Pada Jumat, Angkatan Laut Garda Revolusi Iran menyatakan sebuah kapal tanker berbendera Togo diserang ketika mencoba melakukan pelayaran yang disebut ilegal melintasi Selat Hormuz.

Perkembangan geopolitik tersebut turut menjadi perhatian pasar karena berpotensi memengaruhi harga dan pasokan energi global.

Selain faktor eksternal, kondisi fiskal Indonesia juga menjadi salah satu sentimen yang diperhatikan pelaku pasar. Realisasi APBN hingga 31 Agustus 2026 mencatat defisit sebesar Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap PDB.

Defisit tersebut berasal dari pendapatan negara sebesar Rp2.055,6 triliun dan belanja negara Rp2.295,7 triliun. Pada periode yang sama, keseimbangan primer masih tercatat positif sebesar Rp154 triliun.

Untuk keseluruhan 2026, pemerintah memperkirakan defisit APBN mencapai sekitar 2,85 persen terhadap PDB atau Rp734,3 triliun. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan target awal APBN sebesar 2,68 persen terhadap PDB.

Pergerakan harga minyak mentah dunia juga menjadi perhatian karena kenaikan harga energi dapat meningkatkan kebutuhan impor energi dan memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan Indonesia.

Di sisi lain, risiko El Nino turut menjadi perhatian. Fenomena tersebut berpotensi meningkatkan suhu dan kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia yang kemudian dapat berdampak terhadap sektor pertanian, ketersediaan air, serta risiko kebakaran hutan dan lahan.

“Persoalannya El Nino bukan hanya tentang perubahan cuaca. Jika tidak diantisipasi dengan baik, fenomena ini dapat memberikan tekanan baru terhadap perekonomian Indonesia, terutama melalui jalur pangan dan inflasi,” ujar Ibrahim.

Memasuki pekan depan, pasar akan mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pada 22–23 September 2026. Selain keputusan suku bunga BI, pergerakan imbal hasil US Treasury juga akan menjadi perhatian pelaku pasar.

Untuk perdagangan Senin (21/9/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp17.750–Rp17.800 per dolar AS.

Sementara sepanjang pekan depan, ia memperkirakan rupiah bergerak pada rentang Rp17.650 hingga Rp18.000 per dolar AS.

Share

Scroll to Top