Penulis: Rais Syukur Timung – Nalar Pinggiran
ruminews.id – Kurang lebih Tahun 2014 Setelah meyaksikan filem legenda Brazil “Edison Arantes do Nascimento alias Dico atau Pele di Trans Tv.
Pele, yang tiga kali berhasil membawa Brazil menjadi juara world cup.
Di situ pula brazil mengukuhkan karakter dan. kultur persepakbolaannya dengan “jogo Bonito atau Gingga”.
Brazil, tidak cuman tendang bola, mereka menghibur. di lapangan itulah brazil ingin mengatakan, ini kultur sepak bola kami. Ada struktur Nilai yang di bentangkan di atas Lapangan.
Secara cepat-cepat kita melihat, Jogo Bonito atau Gingga, hampir mirip-mirip dengan Tango (Argentina). Hanya saja Jogo bonito lebih mengandalkan ketangkasan tubuh, seluruh badannya bermain bola. mereka seperti menari di lapangan bola, sementara tango mengandalkan kecepatan kaki.
Sosiologi Brazil “Gilberto frayre (1959) menulis, orang Brazil menari (samba) untuk menghilangkan beban pikiran. sebab, itu orang brazil bermain bola seperti menari”. lepas dan menghibur. itu yang membuat saya kepingcut pada Brazil di era Ronaldo, Rivaldo, dan Ronaldinho.
Belakangan kita menyaksikan, transformasi permainan Brazil sangat berbeda. Tak ada lagi Jogo Bonito dan tarian samba yang mereka bentangkan diatas lapangan.
Mereka bukan lagi Brazil yang Dulu membuat Saya Kepingcut.
Padahal, Saya selalu berpegang pada sesuatu yang memiliki Nilai dan strukturnya, termasuk dalam sepak bola; harus filosofis, tidak sembarangan. mereka, negara-negara yang hebat dalam persepakbolaan, selalu punya itu.
Dulu Italy punya kultur sepak bola Catenaccio atau pertahanan grendel. mereka selalu bermain dengan pola menutup dan mengunci rapat-rapat pintu pertahanan, dan di saat lawan frustasi, mereka melakukan counter attack habis-habisan.
Di inggris yang di kenal dengan Pola Kick and Rush. tendang dan serbu. pola ini mengandalkan kecepatan dan fisik. Makanya, Hampir semua pemain-pemain tangguh di inggrish selalu berada di lini sayap.
Di belanda sana. mereka punya kultur permainan yang di kenal dengan Total Football. Filosofi penting dari Total Football ialah kolektivitas. semua penyerang adalah pemain bertahan dan semua pemain bertahan harus bisa menyerang.
Tiki taka yang di populerkan oleh Johan cruyff di tahun 1988-1996. gaya permainan dengan umpan-umpan pendek. melalui setiap saluran dengan tetap mempertahankan penguasaan bola dan akurasi.
Tak lebih dan tak kurang bahwa sepak bola telah menjadi tata nilai di masyarakat dunia, bahkan mungkin saja akan menjadi ideologi.
Sebab itu, dalam hal-hal tertentu perlu ada diferensiasi nilai dan strukturnya yang filosofis dalam mengidolakan Tim kebanggaan.
Jika Wisdom Brazil, dalam sepak bola dengan Jogo Bonito dan Argentina dengan Tanggo. Wisdom indonesia dalam sepak bola itu apa?.
Indonesia adalah Gerbang Nilai-nilai di Dunia, kita punya wisdom yang negara lain tidak punya. Dunia mengukuhkan itu pada Indonesia. tetapi, naas. untuk Menjuarai AFF dan AFC saja Susahnya Minta ampun.
Lalu, dengan Nada sesumbar banyak yang bertutur ; “Setiap Pertandingan memang harus ada yang kalah dan menang. Kalau tidak mau kalah, jangan bertanding”.
Itulah sebabnya, Kita sudah harus mendefenisikan Ulang Nilai (Kearifan / Local Wisdom) yang hendak kita sampaikkan diatas rumput hijau. Sebagaimana keberhasilan Brazil, Argentina, Jerman, Inggris, Belanda, dsb dalam menerjemahkan Kearifan sepak Bola mereka.
” Nos encestres les gaulois etaientt blonds”, demikian yang sering di sampaikkan politisi Jean Marie Le pen”. Kira-kira artinya : ” nenek moyang kita adalah bangsa Gaulis berambut pirang.
Tahun 1996/1997, jelang pemilu di prancis, istilah ini sangat populer. ‘Le pen’ adalah seorang politisi. Sudah menjadi kelaziman seorang politisi membutuhkan isu-isu, yang dengan isu tersebut, mereka bisa mengkapitalisasi untuk kepentingan mereka sendiri.
Sebagaimana “Trump” yang menggoreng isu sejenis itu saat berhadapan dengan Hillary Clinton dalam kontestasi pilpres AS. maka sinisme terhadap Imigran adalah andalan “Le pen”.
Dia menganggap imigran tersebut tidak memiliki Nasionalisme, tidak cinta tanah air. Termasuk sinisnya kepada para pemain prancis yang menyanyikan lagu kebangsaan prancis, tidak dari hati.
Imigran bagi Le Pen adalah pangkal bala permasalahan sosial. Pokoknya, yang buruk-buruk ia nisbatkan pada warga negara prancis keturunan imigran tersebut.
Le pen kalah. Ia kemudian menghilang setelah prancis menggondol juara dunia tahun 1998 dan juara Euro tahun 2000.
Dagangnya merugi. Semua ini karena kontribusi besar para pemain keturunan imigran. Seperti “Zinedine Zidane (Zainuddin Zaidan”, pemain andalan prancis saat itu adalah keturunan imigran asal Aljazair. Lalu Si tembok tegar “Lilian Thuram” dari Gaudeloupe, sebuah daerah di Karibia yang merupakan wilayah koloni Prancis.
Lalu, siapa yang tidak mengenal “Marcel Desailly” yang memiliki darah Ghana serta “Patrick vieira” keturunan Senegal. Ada Si Tampan “Trezeguet”, “Theiry Henry”, dll. Dengan di pimpin oleh pelatih Aime Jacquet dan kapten Diedir Descamps, mereka membuat Prancis terbang tinggi dalam sepak bola dunia.
Le pen, senyap..!
Tahun 2012-2014, “Le pen” muncul lagi. ” DNA” politiknya tidak berubah, masih seperti dulu. “Nos encestres les gaulois etaientt blonds”. Tapi publik prancis tahu, Le pen hanyalah politisi yang sebenarnya tidak mencintai negarannya. Ia hanya memanfaatkan isu sensitif ini untuk kepentingan potiknya. Kepentingan instan, pendek. Parsial dan egoistik.
Di piala Dunia 2018 Rusia, kembali pemain Prancis keturunan imigran menunjukkan Nasionalisme mereka. Di bawah pelatih Didier Deschamps yang dulunya sukses membawa kawan-kawanya tahun 1998 dan 2000.
“Kylian Mbappe” pemain prancis keturunan kamerun dari ayah dan Ibunya dari aljazair, Bahu membahu bersama kawan-kawannya seperti Samuel Umititi, Presnel Kimbempe, Benjamin Mendy, Lucas Hernandez, N’golo Kante, Paul Pogba yang juga keturunan Imigran berhasil membawa Prancis Juara Piala Dunia 2018.
Mereka kembali membuat Didier Deschamps, sang pelatih, memegang trofi piala dunia di dua posisi yang berbeda (pemai-Kapten dan Pelatih) seperti yang pernah di alami oleh “Der Kaizer” Fransz Beckenbauer-Jerman.
Lalu, “Le pen”?. Ia kalah kembali dalam kontestasi pilpres prancis. Saya yakin le pen tidak akan muncul lagi. Sebab, jualannya tidak pernah laku-laku.
Perjalanan sejarah ummat manusia tidak pernah ramah terhadap orang Rasis.
Diaspora itu jika di terjemahkan secara liar, ia merujuk pada pemahaman penduduk dari etnik tertentu dengan penyebabnya tersendiri. mereka terusir dari tanah kelahiran mereka ke berbagai kawasan dunia dan lalu membangun diri sendiri dan budaya mereka.
Dalam sejarah migrasi dunia, bangsa yahudi adalah yang di kenal mengalami diaspora (586m), mereka di usir dari Judas oleh orang-orang babylonia dan tahun (136M) oleh kerajaan Roma.
Di tanah pengusiran mereka membangun diri dan budaya, serta melakukan gerakan kembali ke tanah asal mereka yang di sebut dengan Zionisme. gerakan inilah yang berhasil melahirkan Israel yang kita kenal sekarang.
Etnik China dan Migrasi WNA yang berduyun-duyun masuk Zamrud khatuliatiwa (Indonesia) itu karena mereka terusir di negerinya atau mau cari makan?.
Etnisitas adalah dasar pemahaman penting tentang pengakuan sejarah kemanusiaan. etnik juga sebagai asas pembelajaran struktur dasar tentang diferensiasi dan pengakuan sosial.
Etnisitas merupakan hal yang istimewa sebagai sumber makna dari identitas dalam menentukan rumusan kultural. Berkenaan dengan itu Saya ingat “Manuel Castells” dari Bolivia yang memberi perhatiannya pada masalah identitas di tengah gempuran globalisasi. Katanya ; “perantau (Urban Movement) akan menjadi sumber penggkritik paling Logis jika kelalaiaan fungsi dari gerakan politik organisasi”.
Maksudnya ialah pentingnya sesuatu yang bersifat lokal ketika globalisasi berlansung. Inilah salah satu paradoks globalisasi yang terjadi dalam langgam politik lokal. dimana orang-orang memproduksi makna dan identitas masing-masing.
Terminologi pribumi itu lebih berkonotasi dan mendapat tempat dalam Diskursus Politik. istilah yang bias, penuh stigma dan tentu saja di ikuti dengan perlakuan eksploitatif dan diskriminatif.
Dalam sejarah, istilah “Pribumi” lebih berkonotasi politis. Jika kata pribumi lebih di gunakan sebagai senjata untuk mengadvokasi kelompok yang di marginalkan oleh sistem, di pakai untuk jargon-jargon pembebasan, Itu sah-Sah saja.
Tetapi, jika Diksi Pribumi di gunakan untuk memantik sentimen primordial itu jelas menyobek Tenun kebangsaan dan mencederai Nilai-nilai luhur pancasila. Sebab hanya Kolonialisme yang kala itu menolak “Pribumi”.
Jika sekarang itu terjadi Maka Wataknya mewujud Kolonialiasme
Harkat manusia melampaui segala hal. apakah warna kulit dan status sosial saat ini lebih Penting.
Secara biologis, menurut pemenang 2 (dua) kali Hadiah Nobel (biologi dan kemanusiaan), Alexis Carrel mengatakan bahwa Betapapun berbedannya manusia, 90 % DNAnya Tetap sama.
Perbedaan warna kulit, Rambut, bentuk mata, warna mata, hidung dst. Hanyalah perbedaan beberapa puluh Gen, diantara kurang lebih milyaran pasangan gen di tubuh manusia.
Artinya, tidak ada satu kelompok yang lebih tinggi di bandingkan kelompok lainnya. Apalagi kalau sekedar Fisik dan Tubuh adalah ukurannya. Sebab mayoritas Fakta sejarah menukilkan bahwa ketika persaudaraan di utamakan maka hasilnya adalah kejayaan dan gilang gemilang peradaban.
Belakangan Timnas Indonesia Gencar Melakukan Naturalisasi Pemain Asing untuk memperkuat Skuad Timnas. Hal ini dianggap Jalan Pintas untuk meningkatkan Performa Tim Nasional secara Instan, yang kurang berprestasi dengan Pemain Lokal.
Apakah benar Pemain Lokal Kita Tak cukup berprestasi?. Tetapi, Apapun itu, sebagaimana Brazil yang Menjadi Juara lima Kali Piala Dunia dengan Jogo Bonitonya atau Prancis Yang Menjadi dua Kali Juara Piala Dunia Dengan banyak Pemain Naturalisasinya.
Kita tentu merindukan Timnas Garuda Indonesia bermain Di Piala Dunia.