5 Maret 2025

Gowa, Politik

100 Hari Kerja Fokus Program Prioritas “Gowa Bersama”

ruminews.id, GOWA – Bupati Gowa, Husniah Talenrang, mengimbau kepada para pejabatnya agar lebih sering turun ke lapangan melihat dan merasakan langsung kondisi masyarakat. Husniah juga meminta kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemkab Gowa menjadi orangtua asuh bagi warga miskin. Imbauan ini sesuai program 100 hari kerja Bupati dan Wakil Bupati Gowa, Husniah Talenrang-Darmawangsyah yang dijabarkan melalui program prioritas ‘Gowa Bersama’. Gowa Bersama singkatan dari Bersih, Cerdas, Sejahtera, Sehat, dan Aman. “Program ini mencerminkan semangat gotong royong dan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam membangun Gowa yang lebih baik,” ungkap Bupati Gowa dalam rapat koordinasi bersama para pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Baruga Karaeng Pattingalloang, Kantor Bupati Gowa, Senin (3/3/2025). Gowa Bersih fokus pada peningkatan kebersihan lingkungan guna menciptakan Gowa yang lebih sehat dan nyaman. Gowa Cerdas bertujuan menyediakan fasilitas pendidikan yang lebih baik dan merata di seluruh wilayah, termasuk pembiasaan baca Alquran sebelum proses belajar bagi siswa SD dan SMP. Gowa Sejahtera bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat melalui pemberdayaan. Program ini untuk mengurangi kemiskinan ekstrem hingga mencapai 0 persen, dengan melibatkan seluruh SKPD sebagai orangtua asuh bagi masyarakat miskin. Gowa Sehat akan berfokus pada peningkatan layanan kesehatan yang lebih terjangkau dan berkualitas, dengan program seperti pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga yang merayakan ulang tahun, termasuk lansia, serta penanganan masalah stunting. Gowa Aman bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan kondusif bagi seluruh masyarakat Kabupaten Gowa. Untuk memberi contoh pelaksanaan Gowa Bersih dan Sejahtera, Husniah Talenrang mengawali kerjanya pada Rabu (5/2/25), dengan mengunjungi Kecamatan Palangga dan Bajeng. Husniah memantau kebersihan kantor Desa Palangga, Kecamatan Palangga sekaligus memberi arahan kepada kepala desa dan stafnya agar melaksanakan program Gowa Bersih. “Saya meminta kepada pemerintah kelurahan dan desa agar mulai hari ini menjalankan program ‘Gowa Bersih’. Saya juga ingin memastikan, setiap kantor desa dan kelurahan memberi pelayanan kepada masyarakat sesuai standar yang telah ditetapkan. Ini semua adalah upaya Pemkab Gowa untuk terus berbenah dalam memberikan pelayanan yang terbaik untuk warga Gowa,” ujar Husniah, di sela kunjungannya. Dari kantor Desa Palangga, Husniah kemudian lanjut mengunjungi salah satu rumah keluarga miskin di desa tersebut. Kunjungan ini sekaligus untuk memberi contoh kepada seluruh kepala SKPD di Gowa agar menerapkan program Gowa Sejahtera dengan menjadi orangtua asuh. Ketua DPD PAN Gowa ini mengunjungi rumah warga miskin tergolong extreme. Usai berbincang dengan pemilik rumah dan keluarganya, Husniah menyerahkan bantuan sembako. Selanjutnya, Bupati meminta Kepala Desa Palangga untuk memberi perhatian lebih kepada warga miskin extrem lainnya. Di Desa Palangga, Husniah juga menyempatkan berdialog dengan warga lainnya sekaligus menampung aspirasi masyarakat. “Kunjungan ini diharapkan dapat memacu peningkatan kualitas pelayanan publik yang lebih transparan, cepat, dan tepat sasaran. Juga sebagai bentuk perhatian kepada aparat desa agar turun langsung meninjau warga miskin ekstrim,” jelasnya. Dari Desa Pallangga, Husniah bersama rombongan mengunjungi Desa Bone, Kecamatan Bajeng. Di Desa Bone, Husniah juga mengunjungi satu rumah keluarga miskin sekaligus memberikan bantuan sombako. Mendampingi Bupati Gowa dalam kunjungan ke Palangga dan Bajeng, yaitu anggota DPRD Provinsi Sulsel Fraksi PAN Kamaruddin Samad serta sejumlah Kepala SKPD Pemda Gowa.

Opini

Ketika Buku Dianggap Aneh Di Ruang Publik: Ironi Literasi Zaman Kini

ruminews.id, – Sebagai seorang yang masih suka dengan proses reading sering kali di anggap aneh dan kuno ketika berkunjung di kedai kopi, atau kafe ketika menenteng buku. ini adalah fenomena aneh dalam dunia perkopian. Aktivitas membaca dan menenteng buku di ruang publik seharusnya menjadi positive habits bukan malah di anggap aneh atau kuno. Fenomena ini bukan terjadi di sudut-sudut desa tapi fenomena ini lahir dari sudut-sudut kota pendidikan salah satunya Malang. Dunia perkopian yang dulunya menjadi episentrum pertumbuhan intelketual bahkan cikal bakal revolusi di eropa kini menjadi tempat bagi para penggosip. Membawa dan membaca buku di tempat publik seharusnya menjadi keindahan di sudut-sudut kota. Kopi dan buku menjadi ismpirasi bagi orang-orang yang belum terpikat oleh kesenengan membaca. Potret orang yang duduk dan membaca di cafe menjadi Inspirationsbilder bagi para pemotret dengan mata mereka. Namun sayang aktivitas itu sering kali di anggap kuno dan jadul bagi sebagian orang. Akibat di anggap kuno dan jadul oleh stigma lingkungan sosial, membaca dan membawa buku bukan lagi suatu hal yang indah dan menarik tapi suatu hal yang tabu. Membawa dan membaca buku di tempat publik sering kali menjadi pusat perhatian, tapi perhatian ini bukan perhatian yang di inginkan. Komentar-komentar halus sering kali di jumpai seperti wah, kok bawa buku sih, kayak belajar aja’ atau ‘ini ngapain bawa buku, bukannya nongkrong aja? Komentar-komentar halus ini ahirnya membuat orang-orang menghindari aktivitas itu lagi. Alih-alih merasa bangga karena membaca di tempat umum, mereka merasa canggung dan akhirnya memilih untuk tidak membawa buku lagi. Akibat stigma sosial ini, kebiasaan membaca mulai tergeser. Banyak orang yang lebih memilih untuk membuka ponsel mereka daripada membawa buku ke tempat umum, hanya karena mereka takut dianggap ‘nerd’ atau ‘kuno’. Padahal, literasi adalah satu hal yang sangat penting, terutama di dunia yang semakin berkembang ini. Jika kebiasaan ini terus berlanjut, kita bisa kehilangan kesempatan untuk menciptakan generasi emas seperti yang harapkan. Sudah saatnya kita hari ini tidak memikirkan sudut pandang itu, sudah saatnya kita mengubah perspektif itu. Membawa dan membaca buku di tempat publik adalah satu kegiatan positif dan seharunya kita merasa bangga akan hal itu. Jika kita mulai membawa buku tanpa merasa malu, kita bisa menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Mari kita jadikan budaya membaca di ruang publik sebagai sesuatu yang biasa dan keren, karena dengan begitu, kita bisa memperkuat literasi dan menjadi generasi emas bukan generasi cemas. Mulailah bergerak untuk melakukan kegiatan positif, hentikan stigma jadul dan kuno tentang membawa buku ke kafe, taman jadikanlah itu sebagai potret indah bagi para penikmat dengan mata mereka. Biarkanlah orang lain menganggap kuno yang penting kita tidak di anggap bodoh. Salam Lietrasi.

Nasional, Politik

Kawendra Lukistian : Rakyat Kecil Bisa Tersenyum Itu Yang Utama

ruminews.id, – Anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Kawendra Lukistian, menegaskan pentingnya upaya konkret dari pemerintah dalam mengendalikan harga bahan pokok, terutama menjelang momen-momen besar seperti Lebaran. Hal ini disampaikan dalam Rapat Kerja dengan Menteri Perdagangan dan Rapat Dengar Pendapat dengan Direktur Utama Perum Bulog di Gedung DPR RI, Senin (3/3/2025). Kawendra menyoroti komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk menurunkan harga-harga demi kesejahteraan rakyat, khususnya bagi kalangan masyarakat kecil. Ia menegaskan bahwa tujuan utama dari kebijakan ini adalah agar rakyat kecil dapat tersenyum. “Wong cilik iso gemuyu (rakyat kecil bisa tersenyum), itu yang utama. Pak Prabowo ingin menjadi presiden yang mampu menurunkan harga-harga. Artinya, Pak Menteri Perdagangan sebagai pembantu presiden harus memiliki semangat yang sama untuk mewujudkan target ini,” ujarnya. Kawendra juga menilai bahwa lonjakan harga yang selalu terjadi menjelang momen besar seperti Lebaran sudah menjadi pola yang membosankan bagi masyarakat. Oleh karena itu, ia berharap di bawah kepemimpinan Menteri Perdagangan yang baru, situasi ini dapat berubah menjadi lebih baik. “Laporannya bagus, tapi harganya jangan begini. Saya berharap ke depan, dengan kepemimpinan Pak Menteri dan Dirut Bulog, kondisi ini bisa lebih baik demi masyarakat,” tegasnya. Selain itu, Kawendra mengapresiasi langkah efisiensi yang dilakukan oleh pemerintah, termasuk Menteri Perdagangan dan Dirut Perum Bulog, dalam mengawasi anggaran hingga satuan terkecil. Menurutnya, hal ini menjadi kunci untuk memastikan harga bahan pokok tetap terkendali dan terjangkau bagi rakyat. “Kita harus tahu beli ke siapa dan siapa yang belinya. Jangan sampai rakyat terus-menerus jadi korban lonjakan harga,” tambahnya. Lebih lanjut, Kawendra berharap pemerintahan saat ini dapat menghadirkan kebahagiaan bagi rakyat Indonesia melalui kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan masyarakat. “Kita sudah bosan dengan harga yang selalu naik. Kasih rakyat kesempatan untuk merasakan hidup di Indonesia dengan kondisi serba murah. Mudah-mudahan itu bisa terwujud,” tandasnya.

Scroll to Top