5 Februari 2025

Opini

Miladul Khaer ke 78, Himpunanku

ruminews.id- Dahulu di Baghdad ada seorang Ibu yang membawa anaknya untuk belajar pada Imam Junaid al-Baghdadi, beliau adalah sufi besar pada masanya. Ia memohon pada Junaid untuk mengajari zuhud dan ilmu keagamaan lainnya, kepada anaknya. Di tinggalkan Putranya di situ dan disediakan segala yang dibutuhkan. 2 tahun berselang, kembali ibu ini menjenguk putranya. Ia terkejut ketika menemukan putranya tengah membasuh baju, mengelap lantai dan membersihkan toilet. Ia marah besar. Kepada Junaid dan ia berkata, “saya tidak mengirimkan anak saya untuk dijadikan pembantu”. Junaid hanya menjawab singkat “selama ia belum bisa mengikis kesabaran dan keangkuhan dirinya, ia tidak bisa melangkah lebih lanjut mengikuti pelajaranku”. Cerita ini sedikit banyak ada korelasinya dengan proses kita di HMI dan tentu sistem perkaderan lainnya juga. Sebagai anggota baru di HMI kadang kita mengerjakan sesuatu diluar dari keinginan dan kapasitas kita, tapi sadar atau tidak itu adalah awal dari rangkaian proses yang harus di lalui. Banyak orang yang tidak tahan dengan proses ini, lalu pergi meninggalkan segala ceritanya. Tapi tak sedikit yang bersungguh-sungguh mengikuti proses dan menang melawan seleksi alam. Pilihan berproses di HMI haruslah menjadi tangga yang wajib dilalui hingga menjadi sukses, pilihan agar orang terbentuk pribadinya, menjadi cerdas spiritualitasnya. Pilihan yang menempatkan keyakinan sebagai senjata dalam melewati segala badai. Meyakinkan dirinya bahwa Allah tidak akan membiarkan insan yang berkualitas terlantar dan sia-sia. Karena Dia Maha Tahu siapa yang sudah pantas mendapatkan anugrah-Nya. Salah satu inspirasi terbesar yang harus dipelajari semua yang tengah dan telah berproses di HMI adalah kisah kehidupan Nabi Muhammad SAW yang selalu relevan dengan semua orang yang tengah berproses menjadi lebih baik. Terutama bagi kader-kader HMI yang tengah berproses melewati anak tangga perkaderan. Rasulullah SAW menjadi manusia besar yang dipilih menjadi utusan Allah tentu bukan dengan persiapan yang hadir secara tiba-tiba. Nabi muda telah bekerja mandiri sejak usia beliau 15 tahun, menggembala domba : yang ternyata hikmahnya pun luar biasa. Setidaknya, kata Ibnu Hajar Al Asqolani, Rasulullah muda dididik Allah sebagai penggembala domba dengan hikmah istimewa : agar terbiasa dengan kesepian, supaya memiliki sifat yang rendah hati, dan punya gambaran bagaimana cara memenej perasaan. Rasulullah menjadi manusia hebat karena bersungguh-sungguh dan menikmati segala proses yang dilalui. Kita disuguhkan kisah perjuangan Nabi yang 23 tahun ; panjang dan penuh tantangan. Hal ini agar kita sebagai ummatnya tahu bahwa berproses adalah cara kita mengimani sunnatullah. Allah adalah Rabb yang Maha bijaksana, Al Hakim. Dia menetapkan sebuah sistem dimana siapapun yang ingin berjaya; janganlah ia nafikan proses. kata Syaikh Hasan Diddou, “Salah satu tiang yang menyangga kesuksesan Rasulullah adalah berlevel dan berproses”. Mentalitas dan kualitas diri hanya bisa didapatkan dari kesungguhan melalui proses panjang. HMI adalah salah satu wadah yang disediakan, 78 tahun yang lalu oleh Ayahanda Lafran Pane, Dkk agar siapapun yang masuk di dalamnya harus berproses secara baik, di tempat ini kita dididik menjadi kader yang siap mengemban amanah ke-umatan dan ke-bangsaan. Warisan terbaik dalam hidup adalah berbuat kebaikan, dan HMI adalah satu dari sekian sarana untuk berbuat baik pada banyak orang. Melayani orang yang pantas dilayani. Dalam berproses jangan pernah merasa ada yang memaksa untuk menyerahkan kebaikan. Bersihkan tangan kita dari mendapatkan segala sesuatu dari hasil yang tidak baik saat berproses. Sebab apapun kehebatan yang didapatkan dari hasil dan proses yang tidak baik, akan mengantarkan siapapun pada akhir yang tidak bahagia. Jangan sia-siakan kesempatan saat sedang menempa diri di HMI, berproseslah dengan baik dan kaffah, pada akhirnya nanti kita akan tahu betapa nikmatnya ber-HMI. Dalam sofisme moderen, ada yang disebut ecstasy, bisa jadi kita pernah berada dalam keasyikan-keasyikan seperti itu di HMI. Sampai-sampai nyaris lupa selesai Kuliah, Untunglah tiap hari kena semprot dari orang tua. Sekarang menurut saya, HMI harus menarik ghiroh masa lalunya untuk menemukan bentuk pergolakannya hari ini. HMI saat ini seperti kehilangan Common Enemy. Dari tahun 1947 hingga era 80-an dan awal reformasi, HMI selalu menemukan momentum dan dinamika. Selalu ada gerakan dan diskursus yang mengandaikan HMI bergerak dari satu titk ke titik lain. Menjadi dinamik ! Kalau awal mula berdiri HMI punya basic demand, maka sekarang HMI mesti bertanya pada dirinya, apa basic demand HMI hari ini?. Dulu, ada terminologi yang paling agresif di HMI, “bergerak atau kafir?”. Saya di tuturkan oleh senior saat berada di kupang. Sekarang, HMI seakan bergerak, tapi dalam paroki yang amat sempit. HMI tampak sibuk dengan dirinya. Sibuk menyatukan patahan-patahan kecil, hanya karena goncangan ringan di sekitar dengan amplifikasi politik kekuasaan yang remeh temeh. Ingat, HMI pernah melewati goncangan ideologis. Efek goncangan ideologis itu, membelah HMI dalam dua lempengan besar. Efek residunya masih ada hingga hari ini. Itu ujian kekuasaan. HMI mestinya lebih matang dengan situasi demikian. Hari-hari ini, fragmen-fragmen sosial itu menganga lebar, Di depan mata kader HMI. Dikotomi-dikotomi sosial seakan difasilitasi politik kekuasaan. Pilar-pilar demokrasi menjadi lumpuh total. Sumber daya politik dan ekonomi serta sirkulasinya, hanya bergerak di sekitar sekelompok kecil elit yang menguasai 80% sumber daya ekonomi. Demokrasi mengalami konglomerasi. Ruh dari pada aktivisme politik menjadi pudar dan transaksional. HMI mesti secara cepat mereformulasi apa basic demand-nya hari ini !. Dari Narasi diatas, perjalanan saya terasa begitu panjang dan makin menemukan titik-titik rumitnya. Entah pemikiran saya yang makin menemukan relevansi kekinian yang kompleks, atau jangan-jangan pikiran ini tak lazim, tidak berguna hingga sepi dalam keramaian. Oleh RAIS SYUKUR TIMUNG – NALAR PINGGIRAN

Opini

Milad HMI 78 Tahun : Kritik adalah Senjata

ruminews.id-, Sulsel, Indonesia adalah sebuah negara kepulauan, yang berdiri atas dasar persatuan dan kesatuan, memiliki banyak perbedaan baik ras, suku dan agama. Indonesia adalah sebuah bangsa yang merdeka. Sejarah nusantara mencatat bahwa dalam setiap nadi para revolusioner mengalir darah perjuangan untuk menghadapi dan berperang melawan penjajah sangat luar biasa. Jenderal-jenderal yang gagah berani berguguran, tidak hanya itu saja, rakyat biasa pun ikut andil dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Tidak takut akan kebengisan para penjajah, karena bagi mereka perjuangan membela NKRI adalah harga mati. Namun, melihat kondisi saat ini, cita-cita para leluhur sedikitnya telah memudar, masuknya faham-faham barat tersebut yang mulai mempengaruhi tatanan budaya kehidupan sehari-hari. Terlebih bagi para pemeluk agama Islam. Islam dalam ajarannya adalah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Artinya meniadakan tuhan-tuhan melainkan Tuhan yaitu Allah. Meyakini ada tuhan lain saja tidak boleh (Kafir) apalagi meyakini tidak adanya tuhan dalam kehidupan (atheis). Secara individu, seseorang bertanggungjawab atas dirinya, memiliki keyakinan bahwa adanya Tuhan adalah mutlak. Melakukan ibadah adalah caranya berikhtiar terhadap segala ketentuan dari Tuhannya. Sebagai seorang Khalifah (wali pengganti) Tuhan, maka ia harus menjaga hubungannya dengan Tuhan (hablumminallah), berusaha menjadi pribadi yang baik sebagai hamba didunia, dan segala sikap dan perbuatan atasnya itu ganjaran. Karenanya, tugas sebagai individu adalah menjadikan diri berguna sebagai anggota masyarakat. Sebagai seorang individu adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain, memiliki hubungan dan memberikan pengaruh yang baik terhadap sesama manusia (hablumminannas). Selain itu juga seorang manusia harus memiliki hubungan dan memberikan pengaruh yang baik terhadap lingkungan sesama makhluk ciptaan (hablumminal alam). Sebagai warga negara, sudah tentu semua masyarakat memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan dari negara dan memiliki kewajiban untuk memberikan sesuatu yang terbaik bagi negaranya. John Fenneral Kennedy (1961) mengatakan don’t ask what your country can do for you, but ask what you can do for your country, (jangan tanya apa yang bisa negara berikan untukmu, tapi tanyakanlah pada dirimu apa yang dapat kau lakukan untuk negaramu). Selanjutnya, sebagai atensi untuk negaranya,seorang warga negara dapat menyumbangkan ide-ide atau gagasan guna menjadi solusi bagi permasalahan negara yang terjadi, atau mengambil peran dengan bergabung bersama perkumpulan atau kelompok yang memiliki tujuan tertentu yang disebut organisasi. Organisasi yang dipilih atau dibentuk harus menjadi wadah transfer ilmu atau eksistensi diri menjadi lebih baik lagi. Seperti halnya organisasi Himpunan Mahasiswa Islam(HMI). HMI yang memiliki landasan yang jelas, target dan tujuan HMI adalah untuk mencetak dan meregenerasi kadernya menjadi kader intelektual, memiliki leadership skills yang berlandaskan pada ketuhanan dengan Alqur’an dan Alhadits sebagai pedoman. Dengan segala kontroversi yang pernah terjadi karena dianggap tidak berazaskan tunggal yaitu Pancasila, maka azas Islam sebelumnya juga pernah membuat perpecahan pada tubuh organisasi ini sendiri, terpecahnya HMI menjadi HMI DIPO (HMI bersekretariat di Jalan Diponegoro) yang mengganti azas landasan tersebut menjadi pancasila dan HMI MPO (Majelis Penyelamat Organisasi)tetap dengan azas islam. Meskipun HMI DIPO mengubah azasnya, namun tidak pernah mengubah substansi dari arah perjuangannya. Azas Islam itu sendiri yang sampai saat ini masih digunakan sebagai pedoman itu dituangkan dalam kertas kerja bernama Nilai Dasar Perjuangan (NDP) karya intelektual dari Nurcholis Madjid (Cak Nur). NDP mengatur dan memberikan pedoman bagaimana memahami konsep ketuhanan dalam HMI. Dengan NDP pula, kader-kader diberikan arah untuk berpikir secara intelektual, objektif, kreatif, inovatif dan juga kritis karena ia adalah kader akademik. Bersikap dan bertindak sesuai dengan norma dan syariat yang berlaku karena ia adalah seorang muslim yang bernafaskan islam. Bertanggungjawab atas dirinya, orang lain dan juga organisasinya karena ia adalah  insan yang bertanggung jawab, semuanya atas landasan menjadi Insan kamil yang diridhai Allah SWT. Dinamika Internal Himpunan Mahasiswa Islam telah tumbuh dan berkembang layaknya seorang anak dari pangkuan ibu pertiwi, Rezim demi rezim telah dilalui hingga tak terhitung lagi sumbangsihnya kepada negeri, selain daripada yang telah dijelaskan pada muqaddimah tulisan ini secara garis besar HMI telah “berubah” bak organisasi yang sangat elegan, kaum elitis dan dikelilingi “Privilege” tak jarang mendekat dengan kader-kader hijau hitam, bukan sekadar dekat melainkan “sharing” dan bertukar pikiran terkait konsepsi kenegaraan , kemahasiswaan dan keislaman untuk memberikan gagasan yang pantas untuk memajukan Negara Indonesia tercinta ini. Namun kita ketahui bahwa Organisasi ini adalah tempat belajar dan berkiprah yang sangat jelas, pembentukan karakter serta ritme komunikasi dikedepankan, bukan tidak mungkin pertentangan ideologi bahkan kepentingan acapkali menjadi objek sengketa organisasi, gagasan demi gagasan yang berlandaskan Konstitusi menjadi hal yang tiap saat diperdebatkan dikalangan struktural Himpunan Mahasiswa Islam, sudah betul bahwa organisasi ini telah menua. Berangkat dari hal itu, bahwa kader hmi tak pernah larut dalam pertentangan tersebut karena bahi kader HMI ini adalah proses yang sangat penting sebagai wadah pembentukan mental dan karakter, seperti yang sering dikatakan oleh para penggiat perkaderan “jika proses adalah luka, maka bertahan adalah cinta”. Mungkin itu kenapa kader HMI selalu eksis disetiap kontestasi. HMI adalah Senjata. Senjata bukan sekadar senjata yang kita maksud sebagai pembunuh atau alat menyakiti ke orang lain, namun “senjata” ini dimaksudkan sebagai kritikan besar bagi pemerintah jika kebijakan yang dilaksanakan tidak sesuai dengan kemaslahatan masyarakat, sebagaimana dalam Kualitas insan cita HMI yang ke lima yaitu Insan yang bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridhoi Allah SWT. Senada dengan hal tersebut bahwa John Stuart Mill (1987) menyatakan bahwa “kejahatan dapat terjadi kepada orang lain tidak hanya karena tindakan kita, namun juga karena sikap diam kita, manusia harus bertanggung jawab atas 2 jenis sikap tersebut” Kader HMI kurang lebih, memiliki pengetahuan yang menjelaskan dan mengkritik sistem dan kebijakan yang tidak pro terhadap rakyat, Kritik penjelasan terhadap sistem dan kebijakan tidaklah cukup. Yang kurang kita miliki adalah pengetahuan tentang hambatan-hambatan terhadap perubahan sistem agar dapat sejalan dengan cita-cita bangsa sejak sedia kala. Di antara hal-hal lainnya, kita perlu mengetahui apa yang menghentikan setiap nadi perjuangan kader Himpunan Mahasiswa Islam. Setidaknya dalam perjalanan proses HMI , setiap kader dibekali dengan peluru intelektual, serta senjata kritik demi kemaslahatan Bangsa dan Negara, tidak diam pada ruang-ruang tertentu karena kewajiban andil sebagai perjuangan kader telah mendarah daging sejak keterlibatan mereka sebagai Kader HMI, Pada dasarnya insan cita HMI merupakan “Man of future” insan pelopor yaitu insan yang berfikiran luas dan berpandangan jauh, bersifat terbuka, terampil atau ahli dalam bidangnya, dia sadar apa

Ekonomi, Nasional

Danantara: Lembaga Baru Pengelola Investasi Rp. 9.480 Trilyun

Ruminews.id, Jakarta – Pemerintah Indonesia telah membentuk Danantara, atau Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, sebagai lembaga yang bertugas mengelola investasi dan aset negara secara terpisah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dengan total aset yang dikelola mencapai Rp 9.400 triliun, kehadiran Danantara menimbulkan pertanyaan: apakah ini langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi, atau justru membuka celah bagi risiko tata kelola yang kurang transparan? Danantara diberikan enam kewenangan utama yang mencakup berbagai aspek strategis dalam pengelolaan BUMN dan aset negara: 1. Mengelola dividen dari holding investasi, holding operasional, dan BUMN untuk mengoptimalkan keuntungan negara. 2. Menyetujui penambahan atau pengurangan penyertaan modal BUMN dari hasil pengelolaan dividen, yang bisa berpengaruh terhadap stabilitas keuangan perusahaan negara. 3. Menyetujui restrukturisasi BUMN, termasuk penggabungan, peleburan, pemisahan, atau pengambilalihan, yang berpotensi mengubah struktur bisnis BUMN secara signifikan. 4. Membentuk holding investasi dan operasional, serta BUMN baru, yang berimplikasi pada arah kebijakan ekonomi negara. 5. Menyetujui penghapusan aset BUMN, baik dalam bentuk hapus buku maupun hapus tagih, yang dapat berdampak pada transparansi pengelolaan keuangan negara. 6. Mengesahkan dan mengkonsultasikan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) holding investasi dan operasional kepada DPR RI sebelum implementasi. Dengan kewenangan yang begitu luas, muncul pertanyaan penting: sejauh mana mekanisme pengawasan terhadap Danantara? Apakah DPR dan publik akan memiliki akses penuh terhadap kebijakan investasi yang dibuat, atau justru lembaga ini akan berjalan tanpa kontrol yang memadai? Dalam rapat pimpinan DPR RI, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menegaskan bahwa mekanisme pengawasan terhadap Danantara masih dalam tahap pembahasan, tetapi struktur organisasi dan Dewan Pengawasnya akan ditetapkan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. “Soal siapa yang akan menjadi Ketua Dewan Pengawas, itu sepenuhnya kewenangan Presiden. Sampai saat ini, kami masih menunggu peraturan lebih lanjut dari pemerintah,” ujar Dasco saat ditemui usai rapat pimpinan di Gedung DPR, Senayan. Ketika ditanya mengenai kemungkinan Menteri BUMN Erick Thohir memimpin Dewan Pengawas Danantara, Dasco tidak memberikan jawaban pasti. “Kita lihat nanti, siapa yang ditunjuk Presiden. Yang jelas, semua akan mengikuti mekanisme yang telah ditetapkan,” katanya. Dasco juga menekankan bahwa Danantara akan mengoptimalkan seluruh aset dan investasi BUMN, sehingga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi yang signifikan. “Intinya, kita ingin investasi ini lebih produktif. Namun, kita juga harus memastikan ada mekanisme pengawasan yang jelas,” tambahnya. Antara Fleksibilitas dan Risiko Pengelolaan Aset Negara Salah satu alasan utama pembentukan Danantara adalah untuk memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan investasi agar tidak terhambat oleh birokrasi APBN. Namun, fleksibilitas ini juga bisa menjadi pedang bermata dua. Tanpa transparansi dan tata kelola yang ketat, potensi penyalahgunaan aset negara bukanlah hal yang mustahil. Total aset senilai Rp 9.400 triliun yang dikelola oleh Danantara menjadikannya salah satu lembaga investasi terbesar di Indonesia. Jika dikelola dengan baik, Danantara bisa menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, tanpa pengawasan yang ketat, lembaga ini juga bisa menjadi sarana pengalihan aset negara dengan dalih efisiensi. Apakah Danantara benar-benar solusi untuk mengoptimalkan investasi negara, atau justru menjadi entitas yang rawan disalahgunakan? Publik berhak tahu dan mengawasi.

Ekonomi, Nasional, Politik

Sufmi Dasco: Atas Instruksi Prabowo, Pengecer Kembali Boleh Jual Gas 3 Kg

Ruminews.id, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan agar pengecer kembali diperbolehkan menjual gas LPG 3 kg kepada masyarakat. Keputusan ini disampaikan oleh Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad, dalam konferensi pers di Jakarta pada Senin, 4 Februari 2025. Menurut Dasco, kebijakan ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan LPG 3 kg bagi masyarakat, khususnya bagi mereka yang kesulitan mendapatkan gas bersubsidi setelah adanya aturan pembelian di pangkalan resmi. Dengan instruksi ini, pengecer dapat kembali berjualan seperti biasa, namun tetap diharapkan untuk mendaftar sebagai sub-pangkalan guna memastikan distribusi yang lebih terpantau. “Pak Presiden sudah memberikan instruksi kepada Menteri ESDM agar pengecer bisa kembali menjual LPG 3 kg, tetapi tetap dalam pengawasan agar distribusi lebih rapi,” ujar Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Sebelumnya, pemerintah sempat melarang pengecer menjual LPG 3 kg guna memastikan subsidi tepat sasaran. Namun, kebijakan tersebut justru menyebabkan kelangkaan di beberapa daerah dan harga gas menjadi lebih mahal di tingkat pengecer. Masyarakat pun mengeluhkan kesulitan mendapatkan gas melon karena harus membeli di pangkalan yang sering kali jauh dari tempat tinggal mereka. Dengan kebijakan terbaru ini, masyarakat tidak perlu khawatir kesulitan mencari LPG 3 kg. Namun, pemerintah tetap mengingatkan bahwa pembelian gas subsidi harus sesuai dengan ketentuan, yaitu bagi mereka yang terdaftar dalam sistem dan berhak menerima subsidi. Keputusan ini disambut baik oleh masyarakat dan para pengecer. Salah satu pengecer gas LPG di Jakarta, Rudi (45), mengaku lega dengan kebijakan baru ini. Menurutnya, larangan berjualan LPG sebelumnya telah mempengaruhi pendapatannya, dan banyak pelanggan yang mengeluh karena harus mencari gas lebih jauh. “Kami senang bisa jual lagi. Sebelumnya banyak warga yang kesulitan karena harus beli ke pangkalan yang lokasinya jauh. Sekarang lebih gampang,” kata Rudi. Meskipun pengecer kembali diizinkan menjual gas 3 kg, pemerintah tetap mengimbau agar harga jual tetap sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan. Selain itu, pemerintah juga akan mengawasi distribusi agar tidak terjadi penimbunan atau penyalahgunaan subsidi. Dengan keputusan ini, diharapkan distribusi LPG 3 kg bisa lebih lancar dan tidak lagi menyulitkan masyarakat. Pemerintah juga akan terus memantau implementasi kebijakan ini agar berjalan dengan baik dan tepat sasaran.

Scroll to Top