Ruminews.id, Yogyakarta — Menjelang peringatan Hari Buruh Internasional 2026, Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI) Yogyakarta bersama jaringan Global May Day menyuarakan seruan solidaritas lintas negara yang menekankan pentingnya persatuan kelas pekerja dalam menghadapi krisis kapitalisme global dan menguatnya otoritarianisme di berbagai belahan dunia. Seruan ini menjadi bagian dari konsolidasi gerakan buruh internasional yang sejak 2017 terus membangun jaringan perjuangan lintas batas melalui inisiatif Global May Day.
Seruan tersebut dibuka dengan kutipan historis dari James Connolly yang menegaskan pentingnya imajinasi radikal bagi gerakan buruh:
“Semboyan kemenangan kita adalah:
kami ingin dunia dan seisinya!“– James Connolly, We Only Want the Earth (1907)
Dalam pernyataan bersama itu, SINDIKASI Yogyakarta yang menjadi bagian dari Global May Day menggambarkan situasi global yang semakin kontradiktif. Di satu sisi, kapitalisme disebut tengah mengalami kemunduran yang tak terelakkan, namun di sisi lain, kekuatan otoritarian justru kembali menguat. Represi terhadap kelompok anti-fasis, konflik bersenjata di berbagai wilayah seperti Rojava dan Myanmar, hingga gelombang penindasan terhadap generasi muda di Indonesia, Kenya, Madagaskar, Nepal, dan Togo disebut sebagai tanda menguatnya kekuatan reaksioner yang berupaya meredam harapan akan dunia yang lebih setara dan bebas.
Seruan ini juga menyoroti dinamika perjuangan kelas pekerja di berbagai negara, termasuk pemberontakan di Bangladesh pada Juli 2024 yang dinilai sebagai momen penting perlawanan massa. Namun, perkembangan pasca peristiwa tersebut menunjukkan kontradiksi baru, dengan munculnya kekuatan konservatif-fanatik serta tetap bertahannya pengaruh imperialis yang terus menekan kelas pekerja. Dalam konteks ini, pekerja diingatkan untuk tetap kritis terhadap setiap perkembangan politik dan terus memperkuat organisasi kolektif.
Lebih jauh, otoritarianisme dipahami tidak hanya dalam bentuk kekerasan negara atau militerisme, tetapi juga melalui ideologi-ideologi ketidaksetaraan seperti rasisme, seksisme, transfobia, nasionalisme, klasisme, dan chauvinisme. Seluruh bentuk ini disebut sebagai bagian dari struktur penindasan yang saling terkait dan harus dilawan secara kolektif oleh kelas pekerja.
Dalam konteks ekonomi, seruan tersebut menyoroti bagaimana penerapan kebijakan ketenagakerjaan di berbagai kawasan, khususnya Asia Selatan yang semakin mengutamakan liberalisasi ekonomi dan investasi dibandingkan perlindungan hak-hak pekerja, sehingga memunculkan hubungan kerja yang eksploitatif.
Selain itu, meningkatnya militerisasi global juga menjadi perhatian utama. Pemerintah di berbagai negara dinilai terus meningkatkan anggaran militer dengan mengorbankan jaminan sosial, sementara perang-perang yang terjadi pada akhirnya membebani kelas pekerja sebagai korban utama. Seruan tersebut menegaskan bahwa konflik bersenjata di wilayah seperti Kongo (DRC), Gaza, Myanmar, Rojava, Sudan, Tigray, dan Ukraina merupakan bagian dari kekerasan struktural yang terkait dengan kepentingan geopolitik dan kapitalisme global.
Dalam seruan ini, Global May Day mengingatkan kembali bahwa Hari Buruh bukan sekadar peringatan simbolik, melainkan momentum untuk memperkuat kesadaran kolektif dan membangun perlawanan global. Hari Buruh perlu direposisikan sebagai ruang untuk mengingatkan bahwa kelas pekerja merupakan kekuatan mayoritas yang memiliki potensi untuk mengubah tatanan dunia.
Seruan ini juga memberikan perhatian khusus pada perjuangan pekerja perkebunan teh di Bangladesh yang selama ini menghadapi diskriminasi dan eksploitasi sistematis. Upaya mereka dalam menyelenggarakan Konferensi Nasional Pertama Pusat Serikat Pekerja Teh (TWTUC) di Sreemangal, Bangladesh akan menjadi simbol perlawanan yang akan diangkat dalam aksi-aksi May Day tahun ini sebagai bentuk solidaritas internasional.
Dalam penutupnya, aliansi buruh global yang beranggotakan lebih dari 20 serikat buruh, kolektif dan kelompok advokasi buruh dari berbagai negara ini menegaskan bahwa perjuangan buruh tidak dapat dibatasi oleh batas negara.
Kapitalisme beroperasi secara transnasional, dan karena itu, gerakan pekerja juga harus membangun solidaritas global. Persatuan kelas pekerja lintas sektor, lintas identitas, dan lintas negara dipandang sebagai syarat utama untuk mencapai kehidupan yang bermartabat bagi semua.
Dengan mengusung semangat “#1world1struggle” dan “#Globalmayday26”, SINDIKASI Yogyakarta yang turut menjadi penandatangan seruan Global May Day mengajak pekerja di seluruh dunia untuk terus mengorganisir diri, membangun hubungan dengan sesama pekerja lintas negara, serta melawan kekuatan kapital dan otoritarianisme di setiap kesempatan.
“Kaum pekerja di seluruh dunia, bersatulah!
Jangan ada perang antar negara dan jangan ada perdamaian antar kelas!”







