ruminews.id – Raja Ampat adalah lebih dari sebuah tempat. Ia sebuah metafora yang hidup. Dalam palet birunya yang memukau, tersembunyi sebuah paradoks, bisa menjadi pusat dari segala sesuatu yang disebut keanekaragaman hayati, sekaligus pinggiran dari peta-peta geopolitik yang digambar dengan tinta besi. Indonesia bukan sekadar tempat apa lagi sebatas nama, melainkan sebuah pertanyaan terbuka yang diteriakkan ombak kepada angin Pasifik. Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik bukanlah pemisah. Mereka adalah penghubung dalam teori Archipelagic Mahan. Yang menghubungkan lalu lalang kapal-kapal perang dan kapal-kapal niaga.
Tak hanya konsep geografis namun menjadi sebuah arena sekaligus penghubung. Sebuah theatre—tempat di mana Amerika Serikat, dengan segala forward presencenya, bercakap-cakap dalam bahasa aliansi. Tempat di mana Tiongkok menulis narasi baru investasi dan sabuk maritim. Di peta yang besar ini, Raja Ampat adalah sebuah titik yang kecil namun bernyali. Keindahannya yang memikat adalah daya tarik tersendiri, sekaligus kerentanannya. Konservasi bahari berkelindan dengan keamanan maritim. Drone bawah air peneliti mungkin berenang di perairan yang sama dengan mata-mata asing. Ini bukan lagi soal siapa yang memiliki apa, tetapi siapa yang dapat mempengaruhi. Dan pengaruh itu adalah bayangan yang jatuh dari kapal induk yang berlayar jauh di utara.
Namun, ada sebuah krisis yang lebih sunyi, yang tak terdengar oleh radar. Permukaan air laut yang naik beberapa sentimeter setiap tahunnya adalah sebuah deklarasi perang yang lambat dan tak bersuara terhadap pulau-pulau. Bagi dunia, ini adalah isu iklim. Bagi masyarakat pesisir Papua, ini adalah soal hilangnya tonggak sejarah, erosi ingatan kolektif yang ditandai oleh pohon dan batu. Di sini, di garis depan perubahan iklim, geopolitik berwajah tampak cemas. Maka, mempercakapkan kedaulatan tak lagi cukup. Yang harus diperjuangkan adalah “ketahanan” (resilience)—ketahanan ekologis, ketahanan pangan, ketahanan budaya. Inilah esensi sebenarnya dari Wawasan Nusantara di abad ke-21. Tidak sekadar menegaskan batas, tetapi memperkuat isi dari dalam.
Masyarakat kita sering terjebak dalam sebuah ilusi dikotomis, globalis versus lokalisme. Seolah harus memilih antara membuka diri sampai tenggelam atau mengunci pintu rapat-rapat. Padahal, masa depan terletak justru pada kemampuan menjadi “glokal” dalam arti berpikir setajam mata elang yang melihat seluruh panorama, namun bertindak selincah cendrawasih yang hanya hidup di hutan asli Papua. Kita harus menjadi tuan rumah yang percaya diri di pesta global, sembari terus merawat kebun sendiri yang berisi umbi-umbian tradisional, bukan hanya tanaman hias untuk dijual.
Di sinilah sebuah organisasi seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menemukan relevansinya yang baru. Sejarah mencatatnya sebagai “kawah candradimuka” bagi calon-calon pemimpin bangsa. Namun, kepemimpinan macam apa yang dibutuhkan hari ini?
Pertama, kader HMI harus menjadi penerjemah yang piawai. Menerjemahkan bahasa hukum laut internasional yang rumit menjadi bahasa gerakan masyarakat adat. Menerjemahkan laporan ilmiah tentang acidifikasi laut menjadi program aksi nyata di kampung-kampung. Mereka mesti menjadi jembatan antara diskusi high-level di Jakarta atau New York dengan realitas sehari-hari di Waisai. Peran ini menuntut kecerdasan yang tidak hanya teknis, tetapi juga emosional, simbolis dan kultural.
Kedua, mereka harus menjadi arsitek kesetaraan. Kesetaraan yang pertama adalah antara pengetahuan barat dan kearifan timur. Ilmu pengelolaan laut modern harus didialogkan dengan sasi laut, hukum adat yang mengatur pantang panen. Kesetaraan yang kedua, dan tak kalah penting, adalah gender. Membangun masa depan bangsa mustahil dilakukan dengan hanya setengah tenaga dan setengah perspektif. Kader HMI, dengan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin, memiliki tanggung jawab moral harga mati untuk memastikan bahwa perempuan tidak hanya hadir, tetapi memimpin—mulai dari diskusi hingga eksekusi di lapangan.
Akhir kata, kita kembali ke laut. Ada sebuah perahu nelayan yang sedang diperbaiki di pantai. Papan-papannya berasal dari pepohonan yang akarnya menghunjam di tanah Papua. Talinya terbuat dari serat alam yang dipintal oleh tangan yang tabah. Perahu itu adalah sebuah dunia kecil, lokal dalam materialnya, namun global dalam semangatnya untuk mengarungi samudera yang tak berbatas. Mungkin itulah perumpaan yang tepat untuk kader HMI hari ini. Menjadi perahu yang kokoh karena asal-usulnya, kemudian berani karena tujuannya.
Masa depan bangsa tidak ditulis di atas air yang bergejolak, melainkan di dalam hati nurani dan pikiran para anak muda yang sanggup merenungi Raja Ampat bukan sekadar sebagai destinasi wisata, melainkan sebagai cermin untuk melihat jati diri kita yang paling dalam di tengah pusaran ketegangan global. Kita berharap, yang terjadi kemudian bukanlah pragmatisme sempit, tetapi sikap tegas organisasi.