OPINI

Gowa Hari ini Seperti Kehilangan Fokus. Bukan Karena tak Punya Masalah, Melainkan Terlalu Banyak Drama

Penulis: Dito – Tokoh Pemuda Kabupaten Gowa

ruminews.id – Gowa Bersejarah bukan hanya sekedar slogan belaka. Sebab, jika kita tamasya sebentar saja ke pertengahan abad ke-17, maka kita akan paham betul mengapa disematkan kata “Bersejarah” di belakang nama “Gowa”.

Yah, Kerajaan Gowa mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-17. Sebelum pecah Perang Makassar pada tahun 1666, dan disaat perdagangan wilayah barat dan timur nusantara telah berhasil dimonopoli oleh VOC sebagai perserikatan dagang dari Negeri Kincir Angin Belanda, pelabuhan-pelabuhan yang ada di wilayah teritorial kerajaan Gowa sangat ramai aktivitas dagang dan strategis dalam jalur perdagangan dunia (Baca: Fadli “Hegemoni Kerajaan Gowa dan Perang Makassar”).

Yahh, sebuah kerajaan tak akan mungkin mencapai masa kejayaannya tanpa keberanian dan kebijaksanaan dari sosok pemimpinnya. Siapa yang tidak kenal Sultan Hasanuddin, sosok yang dijuluki oleh Belanda “Ayam Jantan dari Timur” karena kegigihannya mempertahankan kedaulatan Kerajaan Gowa.

Hingga pada akhirnya, Maetsuyker sebagai sosok pemimpin imperium kolonial dari Istana Batavia mengirim Cornelis Speelman untuk meruntuhkan dominasi perdagangan sekaligus mengakhiri kejayaan Kerajaan Gowa (Baca:Bernard H.M. Vlekke “Nusantara Sejarah Indonesia”).

Lalu, 5 Abad berselang, tepatnya saat ini tahun 2026, tampaknya puncak kejayaan Kerajaan Gowa betul-betul hanya jadi sejarah masa lalu belaka tanpa menjadikannya cermin dalam termin pembangunan daerah hari ini.
Bagaimana mungkin, Gowa yang pada pertengahan abad-17 dengan susah payah diruntuhkan oleh kolonialisme, hari ini justru disajikan dengan “drama ranjang” pemimpinnya.

Bagian Kerajaan Gowa dan Sultan Hasanuddin berhasil memberi kontras antara “kejayaan masa lalu” dan “kegaduhan hari ini”. Gowa yang dulunya riuh dengan aktivitas perdagangan, hari ini justru gaduh oleh isu dugaan perselingkuhan orang nomor satunya.

Nyaris tak kenal tempat, baik di rumah, di jalan, maupun di tiap-tiap di meja perkopian, semuanya sibuk bergosip ria tentang drama ranjang tiada henti ini.

Bupati Gowa Terseret Dugaan Perselingkuhan
Sebagai orang nomor satu di Kabupaten Gowa, legitimasi Bupati Husniah Telentang terus menerus tergerus. Sorotannya bukan karena ia mengelola tata pemerintah dengan buruk, apalagi terseret kasus korupsi.
Beberapa pekan terakhir ini, Bupati perempuan pertama di Kabupaten Gowa ini justru terseret dugaan skandal amoral perselingkuhan.

Semakin hari, sosial media semakin ruih dengan dugaan skandal ini. Meski begitu, tak lantas membuat saya mengaktifkan mode riset “ON” untuk mengumpulkan keping demi keping gosip ini.

Bagi saya, muak rasanya ruang dan diskursus publik secara terus menerus dijejali dengan drama ranjang seperti ini. Sebab, apapun itu drama ini betul-betul berhasil menyedot perhatian publik hingga hal-hal yang menyangkut hajat hidup orang banyak tak mendapatkan tempat di ruang publik kita.

Lagi pula, saya bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan pribadi seseorang, termasuk tindakan amoral selama tidak merugikan orang lain, apalagi sampai merangsek ke urusan ranjangnya.

Selama tidak ada dugaan penyalahgunaan jabatan serta menggunakan fasilitas kenegaraan dan anggaran negara, mau selingkuh ratusan kali pun saya tidak peduli. Itu bukan urusan saya.

Gowa hari ini seperti kehilangan fokus. Bukan karena tak punya masalah, melainkan terlalu banyak drama yang menyita perhatian publik.

54,04 Ribu Penduduk Miskin Tak Akan Kenyang Disajikan Drama Ranjang
Yahh, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Gowa yang dirilis pada Januari 2026, sedikitnya per Maret 2025 ada 54,04 ribu atau 6,64%  penduduk di Kabupaten Gowa masih berada dibawah garis kemiskinan. Persentase penduduk ini hanya turun sekitar 0,21 dari Maret 2024 yang ada di angka 6,85%.

Sebagai kabupaten yang berbatasan langsung dengan Kota Makassar sebagai Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan, ternyata tak mampu menjadikan angka kemiskinan penduduk Kabupaten Gowa mendekati persentase penduduk miskin per Maret 2025 Kota Makassar yang berada di angka 4,43%.

Bahkan, angka persentase kemiskinan penduduk per Maret 2025 6,64% Kabupaten Gowa ini masih kalah dengan beberapa daerah yang letaknya jauh dari pusat Ibu Kota Provinsi. Persentase Penduduk Miskin Kabupaten Gowa masih kalah dengan Kota Parepare (4,44%), Kabupaten Sidrap (4,91), Kabupaten Luwu Timur (5,79%), Kabupaten Wajo (5,86%), dan Kabupaten Bulukumba (6,06%).

Padahal, salah satu program Bupati Husniah Talenrang yang paling banyak di endorse oleh media adalah program pengentasan kemiskinan ekstrem. Meski sudah dibantu oleh Baznas Gowa dan tim khusus Tim Layanan Cepat Atasi Kemiskinan (LACAK) yang dibentuk langsung oleh Bupati faktanya belum berdampak secara signifikan.

Tampaknya, program pengentasan kemiskinan Pemerintah Kabupaten Gowa baru hanya sebatas poles-poles di media, belum berdampak signifikan di masyarakat.

Tentunya, penduduk miskin di Kabupaten Gowa ini tidak akan kenyang jika yang disajikan terus menerus adalah drama ranjang tak berkesudahan ini.

Bukannya Berkurang, Orang Menganggur Semakin Banyak di Kabupaten Gowa
Walau tak signifikan, penurunan persentase kemiskinan di Kabupaten Gowa tak dibarengi dengan penurunan angka penduduk yang menganggur.

Berdasarkan data BPS Provinsi Sulawesi Selatan, Tingkat Pengangguran Terbuka tahun 2025 di Kabupaten Gowa justru mengalami peningkatan.

Data tahun 2024 menunjukkan persentase Tingkat Pengangguran Terbuka di Kabupaten Gowa berada di angka 3,91%. Bukannya mengalami penurunan, justru terjadi peningkatan persentase Tingkat Pengangguran terbuka. Data tahun 2025 menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka berada di angka 4,25%, naik 0,34 dari tahun sebelumnya.

Bahkan, persentase Tingkat Pengangguran Terbuka Kabupaten Gowa 2025 yang berada di angka 4,25% bahkan lebih tinggi 0,04% dibandingkan rata-rata persentase kemiskinan Provinsi Sulsel yang berapa di angka 4,21%.
5 Tahun IPM Gowa Konsisten di Bawah Rata-Rata IPM Sulsel

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah suatu indikator yang menjelaskan bagaimana penduduk suatu wilayah mempunyai kesempatan untuk mengakses hasil dari suatu pembangunan sebagai bagian dari haknya dalam memperoleh pendapat, kesehatan, dan sebagainya.

Dalam hal pembangunan manusia, Kabupaten Gowa masih jauh tertinggal dibandingkan daerah-daerah lain di Provinsi Sulawesi Selatan. Data IPM 2025 yang dirilis oleh BPS Provinsi Sulawesi Selatan, menempatkan Kabupaten Gowa di peringkat 15 dari 24 Kab/Kota dengan poin IPM 74,22, tertinggal 11,44 poin dari Kota Makassar yang menempati urutan pertama dengan poin 85,66. Poin 74,22 IPM Kabupaten Gowa 2025 juga berada di bawah rata-rata IPM Provinsi Sulawesi Selatan dengan poin 75,92.

Bahkan, jika ditarik 5 tahun terakhir dari tahun 2021-2025, IPM Kabupaten Gowa selalu konsisten berada di bawah rata-rata IPM Provinsi Sulawesi Selatan.

Gowa dan Sejuta Lubang Jalanannya
Jika ada yang seseorang bertanya “apa yang ikonik dari Gowa hari ini?”, dengan lantang dan dalam tempo sesingkat-singkatnya saya akan menjawab “jalan rusaknya”.

Yahh, Kabupaten Gowa dan jalanan berlubang ibarat dua sisi mata uang, tidak dapat dipisahkan. Meminjam istilah JJ Rizal, tampaknya jauh lebih mudah mencari kuntilanak daripada mencari daerah tanpa jalanan rusak di Kabupaten Gowa.

Data Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Gowa, mencatat dari total 2.184,41 kilometer ruas jalan, sebanyak 699,99 kilometer atau 32,04% berapa dalam kondisi tidak mantap.

Rinciannya, jalan rusak ringan sepanjang 88,99 kilometer dan rusak berat mencapai 611 kilometer. Kerusakan terparah bahkan banyak ditemukan di wilayah dataran tinggi yang selama ini merasa dianak tirikan.

699,99 Kilometer jalan rusak ini bahkan melampaui setengah dari mega proyek Gubernur Jenderal Penjajah Belanda Herman Willem Daendels (1808-1811). Saat menjabat sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Daendels membangun Jalan Raya Pos yang membetang dari Anyer di Banten hingga Panarukan di Jawa Timur yang panjangnya sekitar 1000 kilometer.

Sialnya, disaat ratusan kilometer jalan rusak di Kabupaten Gowa, Bupati Gowa justru menggelontorkan dana Rp1,6 M hanya untuk mempercantik rumah jabatannya yang tiap saat dijaga ketat Satpol PP itu.

Publik, DPRD, dan Bupati Berhentilah Main Kucing-Kucingan! Kalian Bukan Anak Kecil Lagi   
Sejak pertama kali isu dugaan perselingkuhan Bupati Gowa Husniah Talenrang ini menyeruak ke publik, aksi demonstrasi terus digalakkan dengan tuntutan kurang lebih mendesak Bupati Gowa untuk tampil ke publik memberikan klarifikasi.

Melihat desakan publik yang kian hari kian bereskalasi dan hampir berujung pada keributan dua kelompok massa, memaksa DPRD Kabupaten Gowa membuka ruang Rapat Dengar Pendapat (RDP). Dalam RDP tersebut, publik mendesak pembentukan Panitia Khusus (Pansus) untuk mengusut dugaan perselingkuhan Bupati Husniah Talenrang dengan seseorang yang diduga konsultan politik.

Pasca RDP pada Senin, 11 Mei 2025, DPRD Kabupaten Gowa mendesak agar Husniah Talenrang memberikan klarifikasi. 3 hari adalah tenggat waktu yang diberikan DPRD Kabupaten Gowa untuk klarifikasi.

Hingga pada akhirnya 3 hari tenggat waktu yang diberikan, Bupati Gowa tak juga muncul memberikan klarifikasi.
Merasa tak diindahkan, beberapa anggota DPRD kemudian mengejar Bupati Husniah Talenrang ke Kantor Pemerintahan Kabupaten Gowa. Sebuah Surat Permintaan Klarifikasi dilayangkan. Tak ada yang lain, surat klarifikasi tersebut dialamatkan kepada Bupati Gowa Husniah Talenrang.

Saya Pemilih Bupati Husniah Talenrang, dan Saya Kecewa!
Yahh, saya adalah salah satu pemilih Husniah Talenrang – Darmawangsyah Muin pada Pilkada 2024 lalu.
Alasannya cukup sederhana, setelah melewati 4 periode kepemimpinan Kabupaten Gowa yang kesemuanya adalah laki-laki, penasaran juga rasanya bagaimana dan bakal jadi apa Kabupaten Gowa jika dipimpin oleh seorang perempuan.

Dengan terpilihnya Husniah Talenrang yang adalah seorang perempuan sebagai Bupati Gowa, secara tidak langsung juga memperlihatkan kemajuan keadaban masyarakat Gowa yang tidak lagi menempatkan perempuan pada jenis kelamin nomor dua.

Tapi, sekarang ini saya ingin menyampaikan bahwa saya kecewa. Bukan karena beliau terseret dugaan perselingkuhan, melainkan bagaimana beliau merespon isu yang berkembang di masyarakat.

Sekali lagi saya mau sampaikan, selama itu bukan bagian dari penyalahgunaan jabatan serta tidak menggunakan fasilitas kenegaraan dan anggaran negara, mau selingkuh ratusan kali pun saya sama sekali tidak peduli.

Sampai saat ini, saya masih cenderung tidak percaya terhadap dugaan yang dialamatkan kepada beliau. Meskipun misalkan dugaan itu benar adanya, sekali lagi saya tidak peduli. Urusan ranjang adalah urusan masing-masing tiap individu, tak ada satupun individu lainnya yang tak dikehendaki berhak mencampurinya.

Namun, karena isu ini sudah terlanjur menjadi konsumsi publik, sebagai seorang pemimpin sudah seharusnya beliau tampil ke publik memberikan penjelasan. Seburuk apapun kritik ataupun aspirasi publik, sudah seharusnya beliau tampil dan memperlihatkan jiwa kepemimpinannya yang aspiratif.

Namun, alih-alih muncul ke ruang publik dan menjawab aspirasi publik, tiga hari pasca desakan DPRD agar kiranya melakukan klarifikasi, Bupati Husniah Talenrang malah memposting sebuah foto di istagram pribadinya.

Di foto tersebut, ia tampak duduk di kursi lipat dengan kaki disilangkan, mengenakan baju dan jilbab biru langit, sembari memamerkan senyumnya yang manis. Postingan tersebut disematkan caption “Senyum Itu Ibadah”.

Saat pertama kali melihat postingan 6 hari lalu itu, kata yang pertama kali terlintas di benak saya adalah postingan ini menurut keyakinan saya menunjukkan sikap “Arogansi”. Jika boleh saya menafsirkan, menurut keyakinan saya melalui postingan tersebut beliau ingin menyampaikan secara tidak langsung bahwa meskipun di tengah tuntutan publik dan desakan DPRD Kabupaten Gowa untuk memberikan klarifikasi dan segala macam tuntutan lainnya, ia tidak akan bisa digoyang dari kursi kekuasaan nya.

Woww, siapapun pembisik Bupati Husniah Talenrang yang mengarahkannya untuk membuat postingan tersebut, sungguh saya sangat ingin bertemu dengannya. Saya sangat ingin bertanya padanya “Bagaimana mungkin kau sebagai pembisik, bukannya mencoba memadamkan api tuntutan publik dan desakan DPRD, kau justru menyiramkan bensin yang membuat tuntutan dan desakan kian bergejolak?”

Tak usah jauh-jauh mengambil contoh, saya adalah salah satu contohnya. Sebelum adanya postingan di instagram tersebut, ajakan demi ajakan untuk menceburkan diri dalam isu ini tidak pernah saya indahkan. Buat apa juga mengurusi ranjang seseorang?

Tapi, setelah munculnya postingan tersebut yang seolah-olah tidak mengindahkan tuntutan publik, sebagai bagian dari publik saya tidak bisa hanya berpangku tangan melihat tuntutan publik disepelekan pemimpinnya.
Jika tidak ada postingan tersebut, maka saya tidak akan mau menghabiskan 2-3 jam duduk menghadap laptop untuk menuliskan keresahan ini.

Saya hanya bisa berharap agar drama ini segera berakhir agar diskursus publik kita di Kabupaten Gowa kembali sehat. Akan jauh lebih substansial jika ruang publik kita diisi dengan perdebatan program pemerintah atau bagaimana menjalankan tata kelola pemerintah yang baik.

Lalu, kapan drama ini akan berakhir? Jangan tanya saya, silahkan saja bertanya langsung ke Bupati Gowa Husniah Talenrang.

Share Konten

Opini Lainnya

IMG-20260520-WA0033
Menenun Sinergi dari Dalam: Refleksi Aktivitas Internal Komunitas BULOG Menuju Kedaulatan Pangan
IMG-20260520-WA0032
Catatan Apresiasi: Terima Kasih, Mas Menteri Nadiem Makarim
IMG-20260519-WA0026
Kalah Dalam Bacaan, Menang Dalam Domino
84a354f4-d8e5-4b93-987b-3cab22f705ad
Menjaga Ruang Kritik, Menjaga Demokrasi
IMG-20260518-WA0038
Dari Reformasi 1998 ke "Pesta Babi": Kembalikan TNI Barak!
IMG-20260518-WA0012
Transformasi Gerakan Kritis Untuk Konstruksi Kepemimpinan Produktif
IMG-20260517-WA0024
Kapitalisme Negara Berseragam Koperasi
IMG-20260517-WA0023
Luwu Timur di Antara Bisik-bisik dan Fakta yang Tak Terbantahkan
IMG-20260517-WA0017
Membaca Arsitektur Politik Penundaan Musda Golkar Sulsel
IMG-20260517-WA0022
Negarawan dengan kualitasnya: Ketika Intelektualitas Dipanggil Dunia, dan Kekuasaan Tersandung Logika Dolar
Scroll to Top