Hantavirus Merebak di Kapal Pesiar MV Hondius, Dunia Tingkatkan Kewaspadaan

Ruminews.id, Yogyakarta — Kasus Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius menjadi perhatian internasional setelah sejumlah penumpang dilaporkan jatuh sakit dan beberapa meninggal dunia dalam perjalanan lintas Atlantik.

Wabah tersebut diduga berkaitan dengan strain Andes, salah satu jenis Hantavirus langka yang dalam kondisi tertentu dapat menular antar manusia. Otoritas kesehatan berbagai negara kini melakukan pelacakan terhadap seluruh penumpang dan kru kapal.

MV Hondius merupakan kapal pesiar milik perusahaan Belanda yang berangkat dari Ushuaia, Argentina, pada awal April 2026. Dugaan sementara menyebut paparan virus terjadi saat aktivitas di wilayah Argentina atau Chile, kawasan yang dikenal sebagai habitat hewan pengerat pembawa Hantavirus.

Namun, penyelidikan juga mengarah pada kemungkinan penularan antar manusia di lingkungan kapal yang tertutup dan memiliki interaksi intens antar penghuni.

Hantavirus umumnya menyebar melalui urine, air liur, atau kotoran tikus dan hewan pengerat lain. Penularan dapat terjadi ketika seseorang menghirup partikel virus dari udara yang terkontaminasi, terutama di ruangan tertutup atau lingkungan yang kurang higienis.

Meski penularan antar manusia tergolong sangat jarang, strain Andes yang ditemukan di Amerika Selatan diketahui memiliki kemampuan tersebut dalam kontak dekat berkepanjangan.

Gejala awal Hantavirus sering kali menyerupai flu biasa, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, dan gangguan pencernaan. Dalam beberapa hari, kondisi dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan serius akibat penumpukan cairan di paru-paru.

Pada kasus berat, pasien dapat mengalami gagal napas dan membutuhkan perawatan intensif. Tingkat kematian untuk beberapa jenis Hantavirus juga tergolong tinggi jika terlambat ditangani.

Meski demikian, WHO menegaskan bahwa wabah di MV Hondius belum menunjukkan tanda-tanda ancaman pandemi global seperti COVID-19. Risiko penyebaran ke masyarakat umum dinilai masih rendah.

Sejumlah negara, termasuk Australia, Singapura, Amerika Serikat, dan beberapa negara Eropa, tetap menerapkan langkah antisipasi berupa karantina, pemantauan kesehatan, hingga pemulangan khusus bagi warga mereka yang berada di kapal tersebut.

Pemerintah Indonesia juga meningkatkan kewaspadaan menyusul merebaknya kasus tersebut. Kementerian Kesehatan RI menyatakan telah berkoordinasi dengan WHO untuk memperkuat pengawasan di pintu masuk negara.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut penyebaran virus sejauh ini masih terkonsentrasi pada klaster kapal pesiar dan belum menunjukkan transmisi luas secara global.

Kemenkes turut mengungkapkan bahwa Indonesia sempat memantau seorang warga negara asing yang menjadi kontak erat penumpang terkait wabah MV Hondius setelah melakukan perjalanan dari Argentina ke Indonesia.

Orang tersebut menjalani pemeriksaan kesehatan dan hasil awal dinyatakan negatif Hantavirus. Pemerintah juga menegaskan bahwa jenis Hantavirus yang pernah ditemukan di Indonesia berbeda dengan strain Andes yang dikaitkan dengan wabah di kapal tersebut.

Selain itu, Kementerian Kesehatan mencatat terdapat 23 kasus Hantavirus tipe HFRS di Indonesia sejak 2024 hingga 2026. Namun, pemerintah menekankan bahwa kasus tersebut memiliki karakteristik berbeda dengan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang berkaitan dengan wabah MV Hondius. Pengawasan terhadap penyakit zoonosis pun terus diperketat untuk mencegah potensi penyebaran lebih lanjut.

Pakar kesehatan mengingatkan bahwa pencegahan Hantavirus terutama dilakukan dengan menghindari paparan hewan pengerat serta menjaga kebersihan lingkungan.

Ruangan tertutup yang lama tidak digunakan sebaiknya dibersihkan secara hati-hati agar debu yang mungkin terkontaminasi tidak terhirup. Hingga kini belum tersedia vaksin maupun pengobatan spesifik untuk Hantavirus, sehingga deteksi dini menjadi faktor penting dalam meningkatkan peluang kesembuhan pasien.

Share

PENCARIAN
BERITA LAINNYA
  • All Posts
  • Bantaeng
  • Berau
  • Daerah
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Hulu Sungai Selatan
  • Infotainment
  • Internasional
  • Jakarta
  • Kesehatan
  • Kriminal
  • Kualanamu
  • Luwu Timur
  • Mandalika
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Pali
  • Palu
  • Papua
  • Pemerintahan
  • Pemuda
  • Pendidikan
  • Pertanian
  • Peternakan
  • Politik
  • Soppeng
  • Tekhnologi
    •   Back
    • Makassar
    • Gowa
    • Maros
    • Takalar
    • Palopo
    • Jeneponto
    • Pangkep
    • Pare-pare
    • IKN
    • Bone
    • Bulukumba
    • Towuti
    • Sidrap
    • Purwakarta
    • Pekanbaru
    • Berau
    • Kolaka Timur
    • Enrekang
    • Serang
    • Tangerang Selatan
    • Bima
    • Nusa Tenggara Timur
    • Kolaka Utara
    • Barru
    • Cibubur
    • Jakarta
    • Luwu Timur
    • Luwu Utara
    • Padang
    • Pinrang
    • Polewali Mandar
    • Toraja
    • Selayar
    • Mamuju
    • Donggala
    • Soppeng
    • Parigi Moutong
    • Yogyakarta
    • Jawa Timur
    • Labuan Bajo
    • Mamasa
    • Kualanamu
    • Bantaeng
    • Ambon
    • Sinjai
    • Bombana
    • Jambi
    • Samarinda
    • Sorong
    • Tegal
    • Kendal
    • Kulon Progo
    • Morowali
    • Blora
    • Tual
    • Gunungkidul
    • Banten
    • Cilacap
    • Jayapura
    • Batam
    • Bantul
    • Sleman
    • Halmahera
    • Banjarnegara
    • Toraja Utara
    • Nabire
    • Bangkalan
    • Solo
    • Lamongan
    • Tangerang
    • Papua
    • Luwu
    • Malili
    • Tanah Bumbu
    •   Back
    • Badan Gizi Nasional
    •   Back
    • Dinas Koperasi Makassar
    •   Back
    • DPRD Kota Makassar
    • Prov Sulawesi Selatan
    • Pemerintah Kota Makassar
    • Pemerintah kabupaten Gowa
    • Dinas Koperasi Makassar
Scroll to Top