Ruminews.id, Yogyakarta — Ketegangan di tubuh Partai Persatuan Pembangunan (PPP) kembali mencuat di tengah dinamika internal yang terus memanas. Desakan dari beberapa Dewan Perwakilan Wilayah (DPW) PPP yang mengklaim mewakili DPW PPP se-Indonesia untuk melengserkan Gus Yasin dari Sekjen PPP mendapat respon dari berbagai kalangan yang menyatakan keprihatinannya. Seruan moral kemudian bermunculan untuk mengembalikan arah ideologis partai, terutama terkait bagaimana PPP menjaga identitas historisnya sebagai partai yang lahir dari rahim perjuangan ulama.
Salah satu tokoh muda yang ikut bersuara adalah Senior FO Gus Yasin Institute, Gouw Ivan Siswanto, S.H., M.Th., Ia menilai bahwa kondisi PPP saat ini menunjukkan adanya jarak antara praktik politik yang berjalan dengan ruh perjuangan awal partai. Menurutnya, PPP tidak bisa dilepaskan dari akar historisnya sebagai representasi aspirasi umat Islam yang dibangun oleh para ulama, sehingga nilai-nilai tersebut seharusnya tetap menjadi fondasi utama dalam setiap langkah politik partai.
Gouw menyoroti pentingnya menjaga marwah ulama dalam tubuh PPP. Baginya, ulama bukan sekadar simbol legitimasi, melainkan pilar utama yang membentuk identitas dan arah perjuangan partai sejak awal berdiri. Ia mengingatkan para elit partai agar tidak bermain api dengan kehormatan ulama. Menurutnya, PPP adalah rumah besar umat yang fondasi moralnya dibangun oleh tetes keringat para kiai. Ketika peran itu mulai terpinggirkan atau tidak lagi menjadi rujukan utama, maka yang terancam bukan hanya citra partai, tetapi juga konsistensi ideologisnya.
Dalam konteks itu, ia secara khusus meminta kepada pimpinan dan elit PPP saat ini untuk mengambil langkah reflektif. Ia mendorong agar kepemimpinan partai mampu mengembalikan orientasi perjuangan ke jalur yang selaras dengan nilai-nilai keulamaan dan sejarah pembentukan PPP. Seruan tersebut bukan sekadar kritik, melainkan juga ajakan untuk melakukan pembenahan internal secara menyeluruh.
Lebih jauh, ia melihat bahwa tantangan PPP ke depan tidak hanya soal elektoral, tetapi juga soal menjaga identitas di tengah perubahan lanskap politik nasional. Ketika partai-partai politik semakin pragmatis dan berorientasi jangka pendek, PPP justru dituntut untuk tetap konsisten pada nilai dasar yang menjadi pembeda utamanya. Dalam pandangannya, kehilangan ruh perjuangan berarti kehilangan arah, dan pada akhirnya dapat menggerus kepercayaan publik.
Situasi ini memperlihatkan bahwa dinamika internal PPP tidak hanya berkutat pada persoalan struktur dan kepemimpinan, tetapi juga menyentuh dimensi yang lebih dalam, yakni pertarungan antara idealisme historis dan realitas politik kontemporer. Seruan yang muncul menjadi refleksi bahwa sebagian pihak masih melihat pentingnya menjaga kesinambungan antara masa lalu dan masa depan partai, agar PPP tidak sekadar bertahan, tetapi juga tetap relevan dengan identitas yang pernah membesarkannya.







