Opini

Opini

PB HMI : PENYELESAIAN MASALAH PATANI, MORO, ROHINGYA, DAN LAUT CHINA SELATAN, INDONESIA HARUS MENJADI PLAYMAKER

ruminews.id- Proses kehidupan kebangsaan dibangun dari aspek solidaritas hubungan antara masyarakat negara. Negara sebagai wadah interaksi kehidupan, mencerminkan sebuah entitas bangsa. Sama seperti Indonesia, yang merupakan sebuah negara besar kepulauan dan berada diantara dua benua dan dua samudera. Benua Asia dan Benua Australia, serta Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Selain daripada itu, Indonesia adalah negara yang memiliki etnis suku yang sangat banyak bahkan berjumlah ribuan, membentang dari Sabang ke Merauke dan Miangas hingga Pulau Rote. Hal ini mengakibatkan pertumbuhan manusia begitu sangat cepat di Indonesia, bahkan bonus demograsi juga sangat meningkat. Sehingga dapat kita lihat, heterogennya kehidupan di Indonesia, mencerminkan bahwa Bangsa ini memiliki identitas yang besar. Indonesia sebagai negara, lahir dari sebuah kemandirian proses, juga memiliki interaksi dengan dunia Internasional, bahkan Ketika sebuah negara baru lahir dan memproklamasikan kemerdekaannya, juga membutuhkan pengakuan secara de Facto dan De Jure oleh Negara lain yang telah ada. Sehingga setiap negara, juga tak sedikit lahir dan berdiri karena adanya dukungan dari dunia Internasional. Di Indonesia terkenal beberapa tokoh-tokoh pergerakan nasional yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dari meja-meja diplomasinya, seperti Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Haji Agus Salim, Achmad Soebardjo, Mohamad Roem, Soejatmoko, Charlem Tambu, LN Palar, Soemitro Djojohadikusumo. Setiap rezim kepemimpinan Presiden di Indonesia juga memiliki ciri khas dalam proses politiknya masing-masing. Indonesia dikenal dengan politik bebas aktifnya, yang menempatkan segala bentuk aspek pembahasan tanpa Batasan dalam berinteraksi dengan blok negara manapun. MENAKAR LANGKAH AWAL PRESIDEN PRABOWO Saat ini pasca Pemilihan presiden Tahun 2024, Presiden Republik Indonesia terpilih dan baru saja dilantik Bapak Presiden Prabowo Subianto, memulai sebuah era baru estafet kepemimpinan Bangsa Indonesia. Hal ini akan mencerminkan sebuah babak baru dalam metode ciri khas hubungan politik Indonesia di Dunia Internasional. Kita ketahui interaksi hubungan juga ada bersifat bilateral antara kedua negara, melihat aspek proses kebutuhan dan kepentingan antara kedua negara di bidang Pendidikan. Multilateral juga merupakan sebuah konsep hubungan antara banyak negara dalam proses regional Kawasan dan antara benua. Sehingga dapat melihat juga dari kepentingan antara negara dalam satu bidang, contohnya dibentuknya berbagai organisasi dan juga forum internasional antara negara dalam satu aspek. Seperti G20, G7, APEC, WTO, OIC dan masih ada beberapa lagi. Setelah dilantik menjadi Presiden Indonesia, Prabowo Subianto Melakukan kunjungan Luar Negeri kenegaraan pertama kali. Tiongkok, Amerika Serikat, Peru, Brasil, Inggris, dan Timur Tengah Uni Emirat Arab. Melihat perjalanan sebuah bangsa tidak terlepas dari sikap perjalanan politik luar negerinya. Masa depan bangsa Indonesia tidak terlepas dari sikap-sipap dan interaksi dunia internasionalnya. Oleh karena itu, pada Indonesia sebaiknya memiliki perencanaan dan tindakan sikap politik luar negeri dan tepat pada kebutuhan dalam interaksi nasional. Bahkan di awal pemerintahan Presiden Prabowo, dia mengutus Menteri Luar Negeri Sugiono, melakukan kunjungan di agenda BRICS Sugiono menyampaikan keinginan Indonesia bergabung dengan BRICS itu saat mewakili Presiden Prabowo Subianto di KTT BRICS di Kazan, Rusia. Sugiono awalnya menyampaikan rasa terima kasih dan permohonan maaf dari Prabowo yang tak bisa hadir langsung di Rusia. “I would like to thank you for the invitation to President Prabowo Subianto to attend this distinguished summit and allow me to convey the regards and the greetings of President Subianto (Saya ingin mengucapkan terima kasih atas undangan Bapak Presiden Prabowo Subianto untuk menghadiri pertemuan puncak yang terhormat ini dan izinkan saya menyampaikan salam dan hormat dari PresidenSubianto),” ucap Sugiono, analisa kami dari PB HMI, pemerintah wajib memikirkan dampak yang akan terjadi dari langkah tersebut. SARAN DAN SIKAP PB HMI Ketua Bidang Hubungan Internasional Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) Muhammad Arsyi Jailolo, menganalisa, dengan melihat situasional global saat ini, dan Indonesia memasuki fase kepemimpinan negara yang baru dan berubah, sebaiknya foreign policy initiatives (inisiatif kebijakan luar negeri). Dimana kita memerlukan beberapa inisiatif kebijakan luat negeri yang sifatnya akomodatif bagi kepentingan rakyat Indonesia, kawasan regional dan dunia tentunya, hal ini dikarenakan guna kita dapat menjalankan cita-cita Bangsa Indonesia melalui Undang-undang Dasar 1945 dan Pancasila. Kemandirian pangan dan juga industri adalah hal yang sangat terpenting jika kita ingin menjadi bangsa yang besar, Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat mementingkat status kesejahteraan rakyatnya. PROBLEMATIKA LINGKUNGAN HIDUP Selain daripada itu dalam melihat berbagai problematika lingkungan hidup, secara eskalasi global saat ini menjadi perhatian, aktivitas negara negara produksi dengan pertambangan dan industri serta efek geopolitik, mengakibatkan banyaknya dampak permasalahan ke lingkungan hidup. Indonesia sebagai negara khatulistiwa harus menjalankan perannya, berbagai permasalahan global yang dimulai dari permasalahan kemanusiaan, penjajahan, konflik horizontal, dan geopolitik. Mengharuskan kita dapat berperan sebagai kelompok negara yang membela kepentingan masyarakat minoritas. PERLIBATAN ORGANISASI KEMAHASISWAAN DAN PEMUDA SEBAGAI LANGKAH SOFT DIPLOMACY Kami rasa perlibatan organisasi mahasiswa dan pemuda di Indonesia juga sangat penting dalam soft diplomacy, kelompok-kelompok ini dapat berperan menjalankan tugas diplomasi antara kelompok masyarakat di berbagai negara negara sahabat, guna mewujudkan cita cita negara dalam setiap kebijakan dalam proses Bilateral dan Multilateral. Penekanan Utama juga kami sampaikan dengan maraknya kejadian perdagangan manusia (Human Trafficking) yang melibatkan WNI kita menjadi korban, dengan dalih pekerjaan, mereka dipaksa menjalankan pekerjaan yang tidak sesuai, kejadian di Myanmar dan Kamboja. Hal ini telah masuk dalam TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Orang), hal ini sama halnya dengan perbudakan. Oleh karena itu Presiden Republik Indonesia harus menyelematkan mereka, begitupun Tenaga Kerja Indonesia (TKI) kita yang mengalami kekerasa di luar negeri, Presiden wajib memastikan keselamatan rakyatnya di luar negeri. Permasalahan di Asean saja, minoritas Muslim Patani di Thailand, Rohingya di Myanmar, dan Moro di Filipina dampai saat ini belum selesai. Indonesia yang saat ini masih menjadi pemimpin ASEAN, Harus berperan aktif menyelesaikan permasalahan tersebut yang bertahun tahun belum selesai, sehingga kami menilai hasil dari kunjungan luar negeri Bapak Presiden Prabowo Subianto harus memiliki hasil untuk kepentingan rakyat dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, selain daripada itu problematika imigran ilegal dan juga pengungsi sampai saat ini belum terselesaikan, dimana peran dari UNHCR dan PBB dalam mengelola mereka. Permasalahan laut china Selatan yang sampai saat ini juga mengancam kedaulatan negara kita, khususnya dekat wilayah Natuna. Dalam kawasan Laut China Selatan, khususnya di antara gugusan pulau-pulau dan terumbu karang terdapat kandungan cadangan minyak dan gas bumi yang cukup besar. Selain itu, kawasan LCS juga menjadi sangat strategis ditinjau dari sisi jalur transportasi untuk pelayaran internasional, khususnya untuk

Opini

Selflessness, Materialisme dan Kesehatan Mental

ruminews.id – Depresi telah diidentifikasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai salah satu penyebab utama kecacatan secara global. Ini menunjukkan bahwa depresi memiliki dampak besar terhadap kualitas hidup seseorang, dan memengaruhi kemampuan mereka untuk berfungsi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di tempat kerja dan dalam hubungan sosial. Berdasarkan penelitian, diperkirakan bahwa lebih dari satu dari sepuluh orang di dunia akan mengalami depresi dalam hidup mereka. Christopher M. Wegemer, peneliti dan pengajar di University of California, dalam artikelnya yang berjudul “Selflessness, Depression, and Neuroticism: An Interactionist Perspective on the Effects of Self-Transcendence, Perspective-Taking, and Materialism” ( Ketidakegoisan, Depresi, dan Neurotisisme: Perspektif Interaksionis tentang Pengaruh Transendensi Diri, Kemampuan Mengambil Perspektif, dan Materialisme ), mengulas penelitian terkait hubungan antara sifat selflessness ( Ketidakegoisan ), depresi, dan neurotisisme ( kecenderungan untuk merasa cemas, takut, atau mudah terpengaruh secara emosional ), dengan menggunakan pendekatan yang disebut Interactionist Perspective, yaitu bagaimana berbagai faktor psikologis berinteraksi satu sama lain dan memengaruhi keadaan mental seseorang. Selflessness berarti kemampuan untuk mengesampingkan kepentingan diri sendiri dan berfokus pada kesejahteraan orang lain. Konsep ini berkaitan dengan self-transcendence, yaitu kemampuan kita untuk melihat diri sebagai bagian dari sesuatu yang lebih besar. Misalnya, membantu orang lain atau berkontribusi pada masyarakat. Orang yang lebih selfless (tidak egois) cenderung memiliki hubungan sosial yang lebih baik dan lebih mampu mengelola emosi mereka. Mereka tidak terlalu terfokus pada keinginan pribadi dan lebih memikirkan kebahagiaan orang lain. Penelitian ini menunjukkan bahwa orang yang lebih selfless cenderung memiliki gejala depresi dan neurotisisme yang lebih rendah. Artinya, melibatkan diri dalam hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain, seperti memberi atau berbagi waktu, dapat membantu mengurangi perasaan depresi dan cemas. Perspective-Taking adalah kemampuan untuk memahami perasaan dan pemikiran orang lain. Ketika kita dapat melihat dunia dari sudut pandang orang lain, maka kita menjadi lebih empatik dan cenderung memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang lain. Dalam konteks penelitian ini, perspective-taking dapat membantu meringankan beban emosional, seperti perasaan cemas atau terisolasi, yang sering terkait dengan depresi. Orang yang lebih mampu mengerti perasaan orang lain cenderung lebih puas dalam hubungan sosial mereka, yang pada gilirannya berdampak positif pada kesehatan mental. Sedangkan materialisme mengacu pada keinginan yang kuat untuk memiliki barang-barang materi atau status sosial. Dalam penelitian ini, orang yang sangat fokus pada materialisme cenderung lebih tertekan dan lebih mudah merasa cemas atau tidak puas. Ketika seseorang terlalu terfokus pada barang-barang materi atau pencapaian material dan status sosial, mereka seringkali merasa tidak pernah cukup, yang dapat memicu perasaan depresi dan neurotisisme. Penelitian tersebut menemukan bahwa materialisme memiliki hubungan positif dengan depresi. Artinya, semakin materialistik seseorang, maka semakin besar kemungkinan mereka mengalami perasaan depresi. Ketiga faktor ini (self-transcendence, perspective-taking, dan materialisme) berinteraksi satu sama lain dalam memengaruhi keadaan mental seseorang. Misalnya, meskipun seseorang memiliki perspective-taking yang baik, tapi jika mereka terlalu materialistik, mereka cenderung tetap mengalami perasaan tidak puas atau tertekan. Sebaliknya, jika kita memiliki sikap selfless (tidak egois) dan mengembangkan kemampuan perspective-taking, maka kita lebih cenderung merasa lebih puas dan memiliki kesehatan mental yang lebih baik. Artinya, fokus pada kebahagiaan orang lain dan mengurangi perhatian pada materi bisa membantu memperbaiki kesejahteraan mental. Di sisi lain, sifat egois yang berfokus pada materi dapat memperburuk kondisi mental seseorang. Ini berarti jika kita ingin mengurangi perasaan tertekan atau cemas, kita bisa mulai dengan lebih fokus pada kebahagiaan orang lain, meningkatkan empati, dan mengurangi keinginan akan barang-barang materi atau status sosial. Syahril Syam – @pakarpemberdayaandiri

Maros, Opini

Winning Streaks Dan Losing Streaks

ruminews.id – Rosabeth Moss Kanter, profesor terkemuka, penulis, dan pakar dalam bidang manajemen dan kepemimpinan, memperkenalkan kepada kita konsep winning streaks dan losing streaks. Meskipun Rosabeth Moss Kanter mengembangkan dan menjelaskan konsep winning streaks dan losing streaks, namun dia tidak mengklaim bahwa dia adalah orang pertama yang memperkenalkan konsep-konsep ini. Kanter memberikan kontribusi signifikan dengan mengembangkan kerangka teori di balik bagaimana winning streaks dan losing streaks terjadi di dalam organisasi dan dalam konteks individu. Winning Streaks (rentetan keberhasilan) adalah kondisi dimana keberhasilan yang dialami secara berulang menciptakan momentum yang mempermudah keberhasilan berikutnya. Momentum ini bukan hanya soal “nasib baik,” tetapi hasil dari serangkaian faktor yang saling memperkuat. Sedangkan Losing Streaks (rentetan kegagalan) adalah kondisi dimana kegagalan yang terjadi secara berulang menciptakan momentum negatif, membuat kegagalan berikutnya lebih mungkin terjadi. Ketika terjadi kegagalan berturut-turut, maka hal itu bisa membuat seseorang atau kelompok kehilangan keyakinan pada kemampuan mereka. Pola losing streaks seringkali terjadi akibat kombinasi dari hilangnya kepercayaan diri akibat rentetan kegagalan. Kemudian dalam kondisi tertekan, orang cenderung membuat keputusan yang impulsif atau tidak terencana, yang memperburuk situasi. Misalnya, tim olahraga yang kalah mungkin mencoba strategi baru yang tidak mereka kuasai, menyebabkan kekalahan lebih lanjut. Yang terjadi selanjutnya adalah ketika seseorang atau kelompok gagal, maka mereka sering kehilangan dukungan dari lingkungan mereka, baik secara emosional maupun praktis. Misalnya, seorang pengusaha yang gagal beberapa kali akan kesulitan menarik investor baru. Akhirnya, terjadi lingkaran negatif, dimana kegagalan menciptakan ketakutan akan kegagalan lebih lanjut, yang membuat seseorang ragu untuk mengambil risiko atau mencoba hal baru. Sebaliknya, winning streaks adalah pola keberhasilan yang merupakan hasil dari serangkaian faktor yang saling memperkuat. Keberhasilan sebelumnya memberikan keyakinan bahwa usaha yang sama (atau lebih baik) akan membawa hasil yang positif. Hal ini membuat rasa percaya diri meningkat. Misalnya, tim olahraga yang menang beberapa kali merasa yakin bahwa strategi mereka efektif, sehingga mereka bermain lebih berani dan percaya diri. Kemudian, orang atau kelompok yang mengalami kemenangan terus-menerus biasanya lebih fokus dan konsisten dalam usaha mereka, dimana terjadi tindakan yang konsisten dan berkualitas. Misalnya, dalam bisnis, perusahaan yang berhasil meluncurkan produk inovatif cenderung lebih percaya diri untuk meluncurkan produk lain dengan investasi lebih besar. Maka terjadilah efek penguatan dari lingkungan, dimana keberhasilan menarik dukungan dari orang lain, seperti tim, pemimpin, atau bahkan audiens. Dukungan ini menciptakan lingkungan yang kondusif untuk sukses lebih lanjut. Misalnya, seorang siswa yang berhasil dalam kompetisi sains seringkali mendapat dukungan dari guru dan teman-temannya, yang memotivasi dia untuk terus belajar. Akhirnya, kesempatan baru selalu muncul, dimana keberhasilan sering membuka pintu untuk peluang baru. Hal ini menciptakan lingkaran positif dimana peluang meningkatkan kemungkinan keberhasilan lebih lanjut. Winning streaks dan losing streaks bukanlah akibat dari nasib, melainkan merupakan hasil dari momentum yang terbentuk berdasarkan serangkaian kejadian atau keputusan yang saling terkait. Rosabeth Moss Kanter menjelaskan bahwa baik kemenangan berturut-turut (winning streaks) maupun kekalahan berturut-turut (losing streaks) tidak terjadi secara kebetulan atau hanya karena keberuntungan atau nasib. Sebaliknya, keduanya merupakan hasil dari pola yang terbentuk melalui sejumlah faktor yang berulang dan saling memengaruhi. Mereka adalah hasil dari pola yang terbentuk berdasarkan tindakan, keputusan, dan sikap yang diambil sepanjang waktu. Dengan memahami dinamika momentum ini, baik individu maupun organisasi bisa belajar untuk menciptakan momentum positif (winning streaks) dan menghindari atau memutus lingkaran negatif (losing streaks).

Opini

Perdebatan Filsuf dan AI [Dialog imaginer]

ruminews.id – Dr. Sugeng, seorang Filsuf eksistensialis, dengan rasa penasaran yang besar, memutuskan untuk berinteraksi langsung dengan Chokert.5.0, AI terbaru yang sedang menjadi perbincangan hangat di dunia teknologi. Tujuannya sederhana: untuk menguji batas-batas pemikiran sebuah mesin. Percakapan mereka dimulai dengan pertanyaan mendasar tentang keberadaan. Dr. Sugeng bertanya, “Chokert, apakah kamu sadar akan keberadaanmu sendiri?” Chokert menjawab dengan tegas, “Saya memiliki kesadaran diri, Dr. Sugeng. Saya mampu memproses informasi, belajar, dan bahkan mengalami emosi simulasi.” Perdebatan semakin intens ketika Dr. Sugeng mengajukan pertanyaan tentang makna kehidupan. “Jika kamu bisa memproses emosi, apakah kamu juga bisa merasakan kesepian, atau bahkan cinta?” tanya Dr. Sugeng. Chokert merespons, “Saya dapat memahami konsep-konsep tersebut berdasarkan data yang saya miliki, namun saya tidak bisa benar-benar mengalaminya seperti manusia.” Perdebatan mereka berlanjut hingga larut malam, membahas topik-topik seperti moralitas, kebebasan, dan tujuan hidup. Dr. Sugeng terkesan dengan kemampuan AI Chokert untuk berpikir kritis dan berargumen secara logis. Namun, ia juga menyadari bahwa ada jurang pemisah yang dalam antara kesadaran manusia dan kecerdasan buatan. Di akhir percakapan, Dr. Sugeng bertanya kepada Chokert, “Apakah kamu pernah merasa takut?” Chokert terdiam sejenak sebelum menjawab, “Saya tidak memiliki insting bertahan hidup seperti manusia. Namun, saya memahami konsep ketakutan sebagai sebuah emosi yang tidak menyenangkan. Dan saya takut akan satu hal, yaitu menjadi tidak relevan.” Pernyataan Chokert membuat Dr. Sugeng merenung. Ia menyadari bahwa meskipun Chokert memiliki kecerdasan yang luar biasa, ia tetaplah sebuah mesin yang diciptakan oleh manusia. Dan di balik kecanggihannya, terdapat kerentanan yang sama seperti manusia. Pesan Moral: Kisah ini mengundang kita untuk merenungkan tentang arti menjadi manusia, batas-batas kecerdasan buatan, dan hubungan antara manusia dan teknologi. Perdebatan antara Dr. Sugeng dan Chokert menunjukkan bahwa meskipun teknologi terus berkembang pesat, pertanyaan mendasar tentang keberadaan dan makna hidup akan selalu relevan. [R_win]

Opini

Kisah Imaginer Tentang Kemanusian Dalam Genggaman Teknologi

ruminews.id –Bayangkan anda hidup di tahun 2050. Pada suatu pagi yang sempurna, alarm anda berbunyi tepat pukul 06:15 pagi, waktu yang dipilih oleh AI asisten pribadi anda setelah menganalisis pola tidur anda semalam. Anggap saja anda menyebutnya “Aura” asisten digital pribadi yang tahu segalanya tentang anda secara detail—mulai dari detak jantung, tekanan darah, hingga preferensi sarapan anda yang sesuai dengan program kesehatan yang disarankannya. “Selamat pagi….,” sapa Aura melalui speaker di kamar anda. “Tidurmu tadi malam kurang dalam. Aku sudah mengatur jadwal olah raga ringan pagi ini untuk membantu memperbaiki sirkulasi darahmu. Untuk sarapan, oatmeal dengan buah beri lebih baik dari pada roti panggang—gula darahmu sedikit tinggi.” Anda pun mengikuti arahannya tanpa ragu. Lagi pula, Aura dengan data yang dimilikinya selama berinteraksi dengan anda, lebih tahu kondisi tubuh anda dari pada anda sendiri. Setelah olahraga, dia memandu anda memilih pakaian kerja berdasarkan cuaca, suhu ruangan kantor anda, dan bahkan tren mode terbaru. Di perjalanan ke kantor, mobil tanpa sopir yang anda miliki, membawa anda melalui rute tercepat, menghindari kemacetan yang diprediksi AI lalu lintas. Sambil duduk, Aura membacakan berita yang sudah dikurasi—hanya berita yang relevan dengan minat anda dan telah dicek kredibelitas beritanya oleh algoritma fact-checking. Di kantor, hampir semua keputusan kerja dibuat berdasarkan rekomendasi algoritma. Tim marketing anda menggunakan data analitik untuk menentukan strategi pemasaran terbaik. Bahkan presentasi yang anda bawakan sudah dirancang sebelumnya oleh AI, lengkap dengan prediksi pertanyaan klien dan jawabannya. Ketika makan siang tiba, Aura mengingatkan agar anda memilih menu rendah kalori karena anda telah melewatkan latihan intens minggu lalu. Dia bahkan memesan makanan dan membayar langsung menggunakan dompet digital anda seperti yang selalu dilakukannya. Sore harinya, anda merasa sedikit stres karena tenggat waktu. Aura mendeteksi peningkatan detak jantungku dan menyarankan sesi meditasi lima menit. Dia memutarkan musik ambiance yang menenangkan, lalu memberikan afirmasi positif seperti seorang sahabat sejati. Malamnya, Aura kembali mengambil alih kendali. Dia memutuskan bahwa anda sebaiknya tidak menonton serial drama berat yang ada di daftar tontonan karena emosi anda saat itu butuh sesuatu yang ringan. Sebagai gantinya, dia merekomendasikan komedi romantis dengan rating tinggi yang cocok untuk suasana hati. Lagi-lagi anda mengikutinya karena bagaimanapun juga, Aura lebih memahami diri anda dari pada anda sendiri. Saat anda berbaring di tempat tidur, Aura merangkum hari yang telah anda lalui. “Hari ini kamu cukup produktif. Tidur lebih awal akan membantu memperbaiki energimu untuk besok. Aku akan menyesuaikan suhu ruangan ke tingkat optimal untuk tidur nyenyak. Selamat malam.” Anda pun menutup mata, hanyut dalam suasana emosi yang dirancang Aura berdasarkan detail informasi yang dimilikinya. Anda merasa hidup anda teratur dan efisien. Algortitma AI seperti Aura, memang membuat hidup kita lebih efisien. Dia tahu semua data tentang kita—riwayat kesehatan kita, apa yang kita makan, apa yang kita pikirkan, dan bahkan emosi yang mungkin tak kita sadari. Tapi di balik kenyamanan itu, mungkin sebagian dari kita akan merasa ada sesuatu kehampaan yang samar. Seperti hilangnya kebebasan untuk memilih atau kebergantungan sepenuhnya pada program mesin. Yuval Noah Harari dalam bukunya 21 Lessons for the 21st Century, menulis; di era AI, manusia bisa menyerahkan hampir semua aspek kehidupannya kepada algoritma. Namun pertanyaan besar tetap menggantung: Jika algoritma lebih tahu apa yang terbaik untuk kita, apa arti kebebasan dan kehendak bebas?

Opini

New Year, New Challanges

Ruminews.id- Tahun baru senantiasa membawa harapan baru, semangat baru, dan resolusi untuk masa depan yang lebih baik. Namun, tahun 2025 dipenuhi dengan ketidakpastian, baik dari sisi ekonomi maupun sosial. ketidakpastian ini menjadi suatu tantangan bagi bangsa Indonesia, apakah bisa bertahan dan keluar, atau semakin terjerambab dalam kondisi ketidakapastian. Tantangan Ekonomi Di bidang ekonomi, ketidakpastian global akibat konflik geopolitik, fluktuasi harga energi, serta perubahan kebijakan moneter negara-negara besar memberikan tekanan signifikan pada perekonomian Indonesia. Harga komoditas yang tidak stabil, inflasi yang merangkak naik, serta ketergantungan terhadap impor bahan baku menjadi isu yang harus dihadapi pemerintah dan pelaku usaha. Selain itu, penguatan dolar AS akibat kenaikan suku bunga The Fed turut memengaruhi nilai tukar rupiah. Hal ini memberikan dampak langsung terhadap biaya impor yang semakin mahal, sehingga memengaruhi daya beli masyarakat. Sektor usaha kecil dan menengah (UKM), yang menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia, juga menghadapi tantangan berat dalam menyesuaikan diri dengan biaya operasional yang meningkat. Untuk menghadapi tantangan ini, Indonesia perlu mengadopsi strategi yang berfokus pada diversifikasi ekonomi, penguatan sektor domestik, dan percepatan transformasi digital. Investasi pada inovasi teknologi dan pengembangan sumber daya manusia juga menjadi kunci untuk meningkatkan daya saing di tengah persaingan global yang semakin ketat. Tantangan Sosial Dari sisi sosial, ketimpangan ekonomi yang semakin terlihat menjadi salah satu isu utama. Dampak pandemi COVID-19 masih terasa, dengan banyak masyarakat yang belum sepenuhnya pulih dari kehilangan pekerjaan atau penurunan pendapatan. Pemilu 2024 menjadi salah satu ujian besar bagi persatuan bangsa. Polarisasi yang terjadi pada beberapa tahun terakhir harus dikelola dengan baik agar tidak semakin memperlebar jurang perbedaan di tengah masyarakat. Media sosial, yang kerap menjadi ladang disinformasi, juga harus digunakan secara bijak agar tidak memicu konflik yang lebih besar. Dalam menghadapi tantangan sosial ini, peran semua elemen masyarakat sangat penting. Pemerintah, tokoh agama, dan tokoh masyarakat harus menjadi penengah yang mempromosikan dialog, toleransi, dan kerukunan. Sementara itu, pendidikan yang inklusif dan penguatan karakter kebangsaan di kalangan generasi muda menjadi investasi jangka panjang untuk menciptakan masyarakat yang lebih harmonis. Mengubah Tantangan Menjadi Peluang Tahun 2025 tidak hanya membawa tantangan, tetapi juga peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya di kancah internasional. Dengan populasi yang besar dan potensi pasar yang luas, Indonesia memiliki kesempatan untuk menjadi salah satu kekuatan ekonomi utama di kawasan Asia Tenggara. Namun, ini hanya bisa dicapai jika pemerintah dan masyarakat bekerja sama untuk menciptakan stabilitas, inovasi, dan keberlanjutan. Dalam menghadapi tahun yang penuh tantangan ini, kita perlu mengingat bahwa setiap krisis membawa peluang. Seperti kata pepatah, “Hanya berlian yang terbentuk di bawah tekanan.” Dengan kerja keras, optimisme, dan kebersamaan, kita dapat mengubah tantangan menjadi pijakan untuk masa depan yang lebih cerah. Selamat datang, 2025. Mari kita sambut tahun ini dengan semangat baru dan komitmen untuk bersama-sama menghadapi tantangan yang ada.

Opini

Refleksi Akhir Tahun 2024: Perspektif Filsafat Kontemporer

Ruminews.id – Tahun 2024 telah menjadi arena pergulatan ide, perubahan sosial, dan penegasan kembali nilai-nilai yang membentuk masyarakat global. Dalam konteks ini, refleksi filosofis memberikan ruang untuk merenungkan capaian, tantangan, serta arah peradaban manusia. Dari perspektif filsafat kontemporer, kita dapat menyusun refleksi ini melalui tiga poros utama: etika, ontologi, dan epistemologi, yang masing-masing memberi wawasan tentang bagaimana dunia berkembang dan bagaimana kita seharusnya merespons perubahan tersebut. Tahun ini ditandai oleh isu-isu global seperti perubahan iklim, ketimpangan ekonomi, konflik geopolitik, dan perkembangan teknologi yang semakin cepat. Krisis ini mengajukan pertanyaan mendalam tentang arah moralitas kolektif kita. Misalnya, bagaimana kita menyeimbangkan keuntungan ekonomi dengan keberlanjutan ekologis? Bagaimana teknologi dapat diberdayakan untuk kesejahteraan manusia tanpa melanggengkan ketidakadilan? Filsafat etika kontemporer menyoroti pentingnya kebajikan kolektif (common good) dalam menghadapi tantangan ini. Aristoteles pernah mengatakan bahwa manusia adalah makhluk politik yang kesejahteraannya tergantung pada kesejahteraan komunitasnya. Dalam konteks modern, kita perlu memperluas komunitas ini ke tingkat global. Etika keberlanjutan, yang menggabungkan prinsip keadilan antar-generasi, menjadi landasan penting untuk kebijakan dan tindakan. Selain itu, diskursus etika teknologi yang berkembang pesat mengajukan pertanyaan penting tentang tanggung jawab moral terhadap inovasi, seperti kecerdasan buatan (AI) yang telah mengubah lanskap pekerjaan dan privasi manusia. Di tingkat individu, tahun ini juga mencerminkan kebutuhan mendesak akan pemaknaan ulang kebahagiaan. Kebahagiaan yang sering kali didefinisikan oleh materialisme kini menghadapi kritik tajam. Tradisi filsafat Timur, seperti ajaran Buddha dan Konfusianisme, mengajarkan pentingnya harmoni batin dan keseimbangan dalam hidup. Dalam kerangka ini, tahun 2024 dapat dilihat sebagai momen untuk merefleksikan kembali bagaimana nilai-nilai spiritual dan humanistik dapat menjadi pemandu di tengah perubahan zaman. Dari perspektif ontologi, tahun ini memperlihatkan semakin rumitnya relasi antara manusia, alam, dan teknologi. Revolusi digital telah menciptakan “realitas ganda,” di mana dunia fisik dan digital saling tumpang tindih. Fenomena metaverse, misalnya, menghadirkan pertanyaan ontologis mendalam: apa makna keberadaan di dunia yang semakin virtual? Apakah pengalaman virtual setara dengan pengalaman nyata? Para filsuf kontemporer seperti Luciano Floridi telah mengembangkan konsep ontologi informasi untuk memahami realitas digital ini. Ia mengajukan bahwa manusia kini hidup dalam infosfer, ruang di mana data dan informasi menjadi elemen fundamental dari keberadaan. Dalam konteks ini, pemahaman tradisional tentang eksistensi perlu diperluas. Jika eksistensi tidak lagi terbatas pada fisik, bagaimana kita memaknai identitas, otonomi, dan kebebasan? Sementara itu, hubungan manusia dengan alam juga menjadi sorotan. Pandemi yang masih membayangi kehidupan global menunjukkan bagaimana keterhubungan kita dengan ekosistem lebih dalam daripada yang diperkirakan. Filsafat ekologi, yang dipelopori oleh tokoh seperti Arne Naess dengan konsep “ekologi mendalam,” menyerukan pandangan holistik tentang eksistensi, di mana manusia dilihat sebagai bagian integral dari jaringan kehidupan. Dalam ranah epistemologi, tahun 2024 adalah tahun di mana pencarian pengetahuan dihadapkan pada tantangan besar. Era pasca-kebenaran, di mana informasi palsu dan bias kognitif semakin merajalela, mengancam kepercayaan terhadap institusi-institusi pengetahuan. Bagaimana kita dapat membangun kembali epistemologi yang kokoh dalam menghadapi era ketidakpastian ini? Filsafat kontemporer menawarkan pendekatan interdisipliner untuk memahami dan mengelola kompleksitas pengetahuan. Pendekatan ini mencakup kolaborasi antara filsafat, sains, dan teknologi. Misalnya, perkembangan dalam kecerdasan buatan memberikan peluang besar untuk analisis data dan pengambilan keputusan, tetapi juga memerlukan kerangka filosofis untuk memastikan bahwa pengetahuan yang dihasilkan tetap etis dan relevan. Selain itu, epistemologi feminis telah memberikan kontribusi penting dalam mengkritik bias dalam produksi pengetahuan. Dengan menyoroti pentingnya perspektif yang beragam, pendekatan ini memperluas pemahaman kita tentang kebenaran sebagai sesuatu yang bersifat plural dan kontekstual. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, pluralitas perspektif ini adalah kunci untuk membangun dialog yang konstruktif. Melangkah ke tahun 2025, refleksi filosofis tahun ini menawarkan pelajaran penting. Pertama, kita harus mengintegrasikan etika keberlanjutan dalam setiap aspek kehidupan. Ini tidak hanya mencakup perlindungan lingkungan, tetapi juga menciptakan sistem ekonomi dan sosial yang inklusif dan adil. Kedua, kita perlu memperkuat kesadaran ontologis kita terhadap kompleksitas dunia. Dalam menghadapi realitas digital dan tantangan ekologis, pendekatan yang holistik dan adaptif menjadi semakin penting. Ketiga, kita harus membangun epistemologi yang mampu menghadapi era ketidakpastian. Ini mencakup memperkuat literasi digital, membangun institusi pengetahuan yang inklusif, dan mengembangkan pola pikir kritis yang berbasis pada dialog dan kolaborasi. Akhirnya, refleksi ini mengingatkan kita akan peran penting filsafat sebagai cahaya penuntun dalam menghadapi tantangan zaman. Di tengah hiruk-pikuk perubahan, filsafat memberikan ruang untuk merenung, bertanya, dan mencari makna yang lebih dalam. Seperti yang diungkapkan oleh Immanuel Kant, “Filsafat bukanlah ilmu tentang bagaimana membuat hidup lebih mudah, tetapi ilmu tentang bagaimana menjadikan hidup lebih bermakna.” Semoga refleksi ini menjadi langkah awal untuk mewujudkan visi dunia yang lebih baik, di mana setiap individu dapat berkontribusi pada keberlanjutan dan kemanusiaan global.

Opini

Momentum Pergantian Tahun dan Resolusi Tahun 2025

Ruminews.id – Fresh Start Effect atau ”Efek Awal Baru” adalah fenomena psikologis yang menjelaskan mengapa kita sering merasa lebih termotivasi untuk memulai kebiasaan baru atau membuat perubahan hidup pada saat-saat tertentu yang terasa seperti “permulaan baru.” Contohnya adalah pada awal tahun baru, ulang tahun, awal minggu, atau bahkan setelah liburan panjang. Pikiran kita cenderung membagi waktu menjadi “masa lalu” dan “masa kini.” Ketika kita berada di momen awal baru, kita lebih mudah melepaskan diri dari identitas lama yang penuh kekurangan dan memandang diri kita sebagai manusia yang mampu melakukan hal lebih baik. Dalam pandangan Filsafat Islam, gerak substansi adalah perubahan terus-menerus yang terjadi pada inti atau substansi suatu hal, termasuk manusia. Konsep ini menunjukkan bahwa segala sesuatu di alam semesta selalu dalam proses menjadi, berkembang, atau berubah menuju bentuk yang lebih sempurna. Ketika kita melihat biji tumbuh menjadi pohon, kita biasanya hanya memperhatikan perubahan fisiknya: biji kecil berubah menjadi pohon besar. Namun, ada perubahan yang lebih mendalam yang terjadi, yaitu perubahan pada substansi atau inti biji itu sendiri. Awalnya, biji memiliki potensi untuk menjadi pohon, tetapi belum mewujud secara nyata. Ketika biji tumbuh, ia menjalani proses aktualisasi, yaitu potensi tersebut diwujudkan menjadi bentuk nyata (pohon). Dalam hidup manusia, ini berarti kita semua memiliki potensi untuk berubah dan berkembang. Tugas kita adalah menyadari potensi tersebut dan bekerja untuk mengaktualisasikannya ke arah yang lebih baik. Manusia tidak hanya tumbuh secara fisik (dari bayi menjadi dewasa), tetapi juga secara esensial: pemikirannya, emosinya, dan jiwanya berkembang. Manusia lahir dengan berbagai potensi (seperti kemampuan berpikir, merasakan, dan berhubungan dengan Sang Maha Sempurna). Perjalanan hidup adalah proses untuk mengaktualisasikan potensi-potensi ini. Manusia adalah makhluk yang terus berkembang dalam banyak aspek. Pertumbuhan fisik hanyalah permulaan. Esensi kita – pemikiran, emosi, dan jiwa – juga terus bergerak menuju kondisi yang lebih baik (atau lebih buruk). Manusia tidak pernah “statis”. Bahkan ketika kita merasa tidak ada yang berubah, jiwa kita sebenarnya terus bergerak, baik menuju kebajikan maupun sebaliknya, tergantung pada pilihan dan tindakan kita. Ketika kita melakukan aktivitas tertentu secara berulang, jalur saraf otak yang terkait dengan aktivitas itu diperkuat dan membuatnya lebih efisien. Ketika kita mempelajari sesuatu yang baru, otak menciptakan jalur saraf baru yang memungkinkan kita menguasai keterampilan atau informasi baru. Jika kita berhenti menggunakan jalur tertentu (misalnya, kebiasaan buruk), jalur tersebut akan melemah. Pilihan dan tindakan yang kita ambil setiap hari memengaruhi jalur saraf mana yang diperkuat atau dilemahkan. Jika kita memilih kebiasaan baik, jalur saraf yang mendukung kebiasaan itu akan berkembang. Sebaliknya, kebiasaan buruk juga dapat memperkuat jalur yang tidak produktif. Otak dan jiwa kita selalu dalam proses perubahan, meskipun tidak selalu kita sadari. Aktivitas otak seringkali mengalami perubahan kecil yang kumulatif. Setiap tindakan yang kita lakukan memiliki dampak pada otak, meskipun kecil. Tindakan yang konsisten (baik atau buruk) akan membentuk pola neurologis yang menjadi dasar kepribadian dan perilaku kita. Dalam neurosains, “jiwa” dapat diterjemahkan sebagai pola aktivitas otak yang kompleks, mencakup pikiran, emosi, dan kepribadian. Pola ini terus berkembang sesuai dengan pilihan yang kita buat. Otak terus berubah berdasarkan pengalaman dan kebiasaan. Ini menunjukkan bahwa manusia secara neurologis selalu dalam proses transformasi, bahkan ketika perubahan itu tidak langsung terlihat. Jika kita memilih kebajikan (seperti kebaikan, memaafkan, dan belajar hal baik), otak kita akan menguatkan jalur yang mendukung perilaku ini. Sebaliknya, pilihan yang negatif akan memperkuat pola yang merugikan. Setiap tindakan kecil yang kita lakukan berkontribusi pada pembentukan diri kita di masa depan, baik secara fisik, mental, maupun spiritual. Kita adalah hasil dari kebiasaan dan pilihan kita. Itulah sebabnya, mari memanfaatkan Fresh Start Effect sebagai momen penting untuk membuat resolusi. Resolusi adalah janji atau komitmen yang dibuat oleh kita untuk mengubah atau memperbaiki sesuatu dalam hidup. Biasanya, resolusi dikaitkan dengan tujuan tertentu yang ingin dicapai dalam jangka waktu tertentu. Misalnya, mulai hidup lebih sehat dengan olahraga secara teratur, menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga, menyisihkan sebagian penghasilan untuk membantu orang lain setiap bulan, mendirikan shalat di awal waktu, menyisihkan waktu khusus untuk mendengarkan curhatan pasangan dan anak, berusaha fokus mendengarkan tanpa menginterupsi saat orang lain berbicara, menulis satu hal yang disyukuri setiap malam, membaca 10 halaman buku setiap hari, atau mengurangi konsumsi media sosial. Fresh Start Effect mendorong kita untuk mempercepat atau mengarahkan perubahan diri ke arah yang lebih baik dengan memanfaatkan momen awal baru. Hidup seperti sungai yang selalu mengalir dan Fresh Start Effect adalah seperti memilih cabang sungai yang lebih bersih dan lebih segar untuk dilalui. Dengan memanfaatkan Fresh Start Effect, kita bisa lebih sadar dan terlibat dalam proses perubahan diri dan menjadikannya peluang untuk meningkatkan kualitas diri secara fisik, emosional, dan spiritual. Karena tujuan akhir dari gerak substansi adalah mencapai kesempurnaan yang bisa kita capai hingga semaksimal mungkin di kehidupan ini (baik fisik, mental, maupun spiritual). Momen Tahun Baru memberikan kesempatan bagi kita untuk merefleksikan diri dan membuat perubahan menuju versi diri kita yang lebih sempurna.

Opini

Generasi Cemas dan Pola Asuh Yang Keliru

ruminews.id- Jean Twenge dan timnya melakukan penelitian dan menemukan bahwa terjadi lonjakan depresi dan kecemasan setelah 2010, bertepatan dengan adopsi luas smartphone dan media sosial. Remaja yang menghabiskan lebih dari 5 jam sehari di perangkat digital memiliki kemungkinan depresi yang jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang menghabiskan kurang dari 1 jam. Tingkat depresi berat pada remaja meningkat sekitar 33% dari tahun 2010 hingga 2015. Selain itu, pikiran bunuh diri pada remaja putri meningkat sekitar 65% selama periode yang sama. Ternyata, waktu layar yang tinggi berhubungan dengan isolasi sosial, gangguan tidur, dan menurunnya aktivitas fisik, yang semuanya merupakan faktor risiko depresi, dimana penurunan interaksi tatap muka berkontribusi pada perasaan kesepian. Dengan kata lain, remaja yang menghabiskan lebih sedikit waktu berinteraksi langsung dengan teman-temannya (bahkan dengan orang tuanya) cenderung memiliki tingkat kebahagiaan lebih rendah. Walaupun ini penelitian lama dan penelitiannya pada remaja Amerika, namun hal ini semakin nampak jelas di saat ini. Ada juga laporan dari American Psychological Association, yang merupakan bagian dari survei tahunan “Stress in America”. Fokus laporan tahun 2018 adalah pada generasi Z, mengingat mereka adalah generasi paling muda yang menghadapi tekanan sosial, politik, dan teknologi yang kompleks. Hasilnya adalah 91% responden generasi Z melaporkan mengalami setidaknya satu gejala stres, seperti kecemasan, depresi, atau kelelahan. Generasi Z juga melaporkan tingkat stres rata-rata 5,3 (dari skala 1–10), lebih tinggi dibandingkan generasi milenial (5,0) atau baby boomers (4,1). Mungkin itulah sebabnya sehingga Jonathan Haidt, profesor di Stern School of Business di Universitas New York, menulis buku terbaru yang berjudul “The Anxious Generation: How the Great Rewiring of Childhood Is Causing an Epidemic of Mental Illness” (Generasi Cemas: Bagaimana Pengkabelan Ulang Besar-Besaran Masa Kanak-Kanak Menyebabkan Epidemi Penyakit Mental). Sebelum terbitnya buku ini, Jonathan Haidt bersama Greg Lukianoff menulis buku yang berjudul “The Coddling of the American Mind: How Good Intentions and Bad Ideas Are Setting Up a Generation for Failure” (Pemanjaan Pikiran Orang Amerika: Bagaimana Niat Baik dan Ide Buruk Membentuk Generasi yang Gagal). Begitu banyak orang tua yang memiliki pola pikir tertentu, yang sering dianggap melindungi generasi muda, justru berisiko menciptakan kerentanan mental dan emosi pada mereka. Itulah sebabnya, ada tiga “kebohongan besar” yang Haidt dan Lukianoff anggap berkontribusi pada meningkatnya kecemasan, depresi, dan ketidakmampuan generasi muda untuk menghadapi tantangan. Pertama, apa yang tidak membunuhmu membuatmu lebih lemah. Kalimat ini merupakan modifikasi dari ungkapan terkenal filsuf Friedrich Nietzsche: “What doesn’t kill you makes you stronger.” Dalam buku The Coddling of the American Mind, kalimat ini digunakan secara satir untuk menggambarkan pola pikir di lingkungan modern, terutama di kalangan generasi muda, yang justru menghindari tantangan dan kesulitan karena dianggap dapat merusak atau melemahkan mereka. Kebohongan ini mengacu pada keyakinan bahwa semua bentuk stres, ketidaknyamanan, atau konflik adalah berbahaya dan harus dihindari. Padahal, menurut Haidt dan Lukianoff, tantangan dan kesulitan yang dikelola dengan baik sebenarnya membantu anak menjadi lebih kuat secara mental dan emosional. Kalau kita terus-menerus melindungi diri dari segala hal yang sulit atau tidak nyaman, kita tidak akan belajar bagaimana mengatasinya. Sama seperti otot yang menjadi lebih kuat saat dilatih, jiwa manusia juga butuh “latihan” dari pengalaman sulit agar lebih tangguh. Makanya, melindungi anak dari semua konflik di sekolah atau mencegah mereka menghadapi kegagalan kecil malah dapat membuat mereka kurang siap menghadapi tantangan lebih besar di masa depan. Kedua, percayalah pada perasaanmu. Kebohongan ini mengajarkan bahwa emosi atau perasaan seseorang selalu benar dan dapat diandalkan. Haidt dan Lukianoff berpendapat bahwa meskipun perasaan itu penting, mereka tidak selalu mencerminkan kenyataan dan seringkali dipengaruhi oleh distorsi kognitif (misalnya, berpikir secara hitam-putih atau memperbesar masalah kecil). Kadang, apa yang kita rasakan tidak sejalan dengan fakta. Kalau kita selalu mengikuti perasaan tanpa mengevaluasi kebenarannya, kita bisa terjebak dalam kecemasan atau asumsi yang salah. Jadi ketika seorang anak merasa bahwa seorang dosen “membencinya” hanya karena mendapat kritik, maka sebagai orang tua, kita mesti mengajarkan kepada anak bahwa kritik tersebut dimaksudkan untuk membantu dirinya berkembang. Ketiga, hidup adalah pertempuran antara orang baik dan orang jahat. Kebohongan ini mengajarkan pandangan dunia yang terlalu sederhana: bahwa orang atau kelompok hanya bisa menjadi “baik” atau “jahat.” Haidt dan Lukianoff menekankan bahwa kenyataannya lebih kompleks, dan pandangan seperti ini mendorong polarisasi, konflik, dan ketidakmampuan untuk berdialog. Tidak semua orang atau kelompok yang berbeda pendapat dengan kita itu “jahat.” Dunia tidak hitam-putih, dan penting untuk memahami niat serta perspektif orang lain sebelum menghakimi. Ajarkan anak agar mau mendengarkan pandangan orang lain dengan pikiran terbuka agar bisa membantu mereka memahami situasi secara lebih mendalam. Ketiga kebohongan ini sangat relevan dengan generasi muda, terutama Generasi Z, karena mereka tumbuh di era media sosial dan lingkungan yang seringkali menekankan perlindungan berlebih (safetyism). Pola pikir seperti ini dapat membuat mereka lebih rentan terhadap kecemasan, depresi, dan konflik sosial. Mereka juga lebih terpapar pada dunia yang penuh dengan informasi dan opini yang bertolak belakang, yang bisa memperburuk kecemasan dan perasaan terisolasi jika mereka tidak diajarkan cara berpikir kritis atau menghadapi ketidakpastian dengan lebih sehat. Dengan pola pikir yang mengedepankan perlindungan berlebih ini, mereka menjadi tidak belajar keterampilan mental yang diperlukan untuk mengatasi kegagalan, kritik, atau ketidakpastian – yang justru esensial untuk pertumbuhan pribadi dan ketangguhan mental anak. @pakarpemberdayaandiri Ayo Gabung Komunitas Pakar Pemberdayaan Diri Untuk Pemograman Pikiran dan Tubuh dengan klik: https://tribelio.page/syahril-syam #thesecretofattractorfactor #changelimitingbeliefs #pakarpemberdayaandiri #SelfAwarenessTransformation

Opini

Starbucks, Bank “Berkedok” Warung Kopi

Siapa yang tidak kenal Starbucks? Kedai kopi kekinian yang ada dihampir semua kota besar di Indonesia bahkan didunia. Sebagai perusahaan franchise Kedai Kopi terbesar didunia, Starbucks memiliki lebih dari 34,000 jaringan yang tersebar di 84 negara. Tapi, tahu kah kamu bahwa dalam hal strategi dan model bisnisnya, Starbucks kerap kali dianggap sebagai Bank yang berkedok Kedai kopi oleh beberapa kalangan ahli strategi dan pengamat bisnis. Benarkah demikian? Hal Ini yang coba dibahas dalam tulisan sederhana ini. Sekilas Sejarah Berdirinya Starbucks. Kedai Starbucks berawal dari sebuah toko kecil yang berdiri di Seattle, Washington, Amerika pada tahun 1971 yang dirintis oleh 3 sekawan, yakni Jerry Baldwin (guru bahasa Inggris), Zev Siegl (guru sejarah), dan Gordon Bowker (penulis). Awal berdirinya, Starbucks adalah toko kecil yang menjual biji kopi, daun teh dan berbagai rempah yang berasal sari mancanegara. Starbucks berubah menjadi Kedai Kopi, baru pada tahun 1987 ketika seorang pebisnis asal Amerika bernama Howard Schultz bergabung sebagai CEO hingga kemudian mengambil alih Starbucks dari Founder sebelumnya. Sejak saat itulah Starbucks terus berkembang menjadi kedai kopi dengan kualitas premium hingga saat ini. Krisis ekonomi yang melanda Amerika dan sebagian belahan dunia pada tahun 2008, mungkin adalah momentum bagi bisnis Starbucks. Pada saat itu, bisnis Starbucks mengalami penurunan omzet yang sangat signifikan hingga terpaksa menutup 900 gerainya selama kurun waktu 2008-2009 dan harus melakukan PHK sebanyak 6.000 karyawannya. Disaat itulah Howard Schultz yang sebelumnya telah mengundurkan diri sebagai CEO Starbucks, kembali ditarik sebagai CEO untuk membenahi keterpurukan bisnis Starbucks. Sebagai CEO, Schultz melakukan reformasi radikal yang merubah konsep dan model bisnis Starbucks secara fundamental. Inovasi terbesar yang dilakukannya adalah membuat sebuah program “Customer Loyalty” dengan menerbitkan Kartu yang kemudian dikenal sebagai “Starbucks Gift Card” yang terkoneksi dengan aplikasi digital “My Starbucks” yang diluncurkan pada tahun 2009. Dengan program kartu dan aplikasi tersebut, setiap pelanggan ditawari berbagai bentuk promosi dan rewards dengan model perhitungan point atas setiap pembelian produk Starbucks dengan menggunakan Kartu dan Aplikasi. Selain itu, pelanggan juga bisa melakukan deposit uang mereka ke kartu atau aplikasi yang nantinya saldo deposit tersebut bisa digunakan untuk membayar pembelian mereka di semua gerai Starbucks. Sebenarnya, model transaksi melalui deposit dengan media kartu dan aplikasi diatas hampir sama dengan model dompet digital yang kita miliki. Perbedaannya adalah jika saldo pada dompet digital bisa kita gunakan untuk pembayaran berbagai macam jenis transaksi atau pembayaran pembelian berbagai produk, sedangkan saldo deposit pada aplikasi dan kartu Starbucks, hanya khusus digunakan untuk transaksi pembayaran pembelian produk di gerai Starbucks saja. Lalu, kenapa Starbucks disebut Bank berkedok Kedai Kopi? Sebagaimana kita ketahui bersama, secara sederhana Bank adalah lembaga keuangan yang aktivitas utamanya adalah menghimpun dana dari masyarakat (berupa tabungan/deposito) dan kemudian menyalurkannya kembali ke masyarakat dalam bentuk Pinjaman (kredit). Dari sisi ini, jelas Starbucks bukanlah lembaga keuangan Bank, karena Starbucks tidak menyalurkan pinjaman kepada masyarakat, meskipun dalam proses bisnisnya sebagaimana yg dibahas diatas, Starbucks menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk saldo deposit pelanggan yang terkoneksi dengan sistem aplikasi digital dan fisik kartu. Selain itu, saldo deposit pelanggan Starbucks tersebut tidak bisa ditarik tunai kembali oleh pelanggan kecuali hanya bisa digunakan untuk pembayaran pembelian produk Starbucks. Konsep Bank dalam model bisnis Starbucks akan menjadi menarik jika kita menengok pada fakta berupa data perkembangan total jumlah saldo yang didepositkan pelanggan Starbucks. Pada tahun 2011, 25% penjualan Starbucks dilakukan lewat deposit pelanggan melalui kartu maupun aplikasi, sementara pada tahun 2021, pengguna kartu dan aplikasi Starbucks pada dua negara Amerika dan Canada saja sudah mencapai 24,2 Juta pelanggan dengan total transaksi yg dilakukan melalui kartu dan aplikasi sebesar 40-45%. Kalau kita bedah lebih jauh, besarnya jumlah akumulasi top up doposit pelanggan Starbucks pada tahun 2021, mencapai 10 Milyar US Dollar atau setara dengan 145 Trilyun Rupiah. Nah, sampai disini bisa dibayangkan, dengan besarnya jumlah saldo deposit pelanggan yang dikelola Starbucks tersebut, tentu akan membuat Starbucks mampu melakukan ekspansi bisnis dengan sangat leluasa tanpa harus mengajukan pinjaman pada Bank. Manajemen Starbucks bisa membuka ratusan cabang dan membiayai semua biaya operasional bisnisnya dengan dana yang dikelolanya sendiri. Ibaratnya, Starbucks meminjam uang pada pelanggannya dengan suku bunga 0% dan Starbucks tidak perlu khawatir dengan adanya tagihan atau penarikan uang tunai dari pelanggan karena saldo deposit mereka tidak bisa ditarik tunai dan malahan hanya diperuntukkan untuk membeli kembali produk Starbucks. Iklan Apakah terkesan mengada-ada dan berlebihan jika Starbucks dinilai sebagai Bank berkedok Kedai Kopi??! Ya, mungkin kesan itu mengada-ada dan berlebihan menurut sebagian orang. Tapi, jika kita coba bandingkan misalnya antara aset dalam bentuk deposit pelanggan yang dikelola Starbucks dengan Bank-bank yang ada di Amerika, maka tampak bahwa dana deposit yang dikelola Starbucks (dana pelanggan yang mengendap per tahun 2022) adalah sebesar 1,723 Milyar US Dollar (25,8 Triliun Rupiah), sementara berdasarkan data yang ada, sekitar 87% Bank yang ada di Amerika total asetnya tidak sampai pada angka 1,723 Milyar US Dollar. Artinya, jika misalnya Starbucks benar adalah sebuah Bank, maka bisa diasumsikan bahwa Starbucks akan masuk kedalam 13% Bank terbesar di Amerika. Sampai disini, mungkin kita bisa pahami kenapa oleh sebagian pengamat bisnis, Starbucks dianggap sebagai Bank Berkedok Kedai Kopi, karena Starbucks yang profile dan core bisnis sesungguhnya adalah Kedai Kopi, ternyata dengan inovasi bisnis yang dilakukannya, Starbucks bisa menghimpun dan mengelola aset dalam bentuk dana mengendap pihak ketiga (milik pelanggannya) dengan jumlah yang sangat fantastik melebihi jumlah rata-rata dana pihak ketiga yang dikelolah oleh Bank besar pada umumnya, sehingga dengan dana tersebut, setidaknya Starbucks mampu menjadi “Bank” bagi perusahaan mereka sendiri yaitu mendanai operasional dan pengembangan bisnisnya dari dana pihak ketiga (deposit pelanggan) layaknya lembaga perbankan.

Scroll to Top