OPINI

Ketika Buku Dianggap Aneh Di Ruang Publik: Ironi Literasi Zaman Kini

ruminews.id, – Sebagai seorang yang masih suka dengan proses reading sering kali di anggap aneh dan kuno ketika berkunjung di kedai kopi, atau kafe ketika menenteng buku. ini adalah fenomena aneh dalam dunia perkopian. Aktivitas membaca dan menenteng buku di ruang publik seharusnya menjadi positive habits bukan malah di anggap aneh atau kuno. Fenomena ini bukan terjadi di sudut-sudut desa tapi fenomena ini lahir dari sudut-sudut kota pendidikan salah satunya Malang. Dunia perkopian yang dulunya menjadi episentrum pertumbuhan intelketual bahkan cikal bakal revolusi di eropa kini menjadi tempat bagi para penggosip.

Membawa dan membaca buku di tempat publik seharusnya menjadi keindahan di sudut-sudut kota. Kopi dan buku menjadi ismpirasi bagi orang-orang yang belum terpikat oleh kesenengan membaca. Potret orang yang duduk dan membaca di cafe menjadi Inspirationsbilder bagi para pemotret dengan mata mereka. Namun sayang aktivitas itu sering kali di anggap kuno dan jadul bagi sebagian orang. Akibat di anggap kuno dan jadul oleh stigma lingkungan sosial, membaca dan membawa buku bukan lagi suatu hal yang indah dan menarik tapi suatu hal yang tabu.

Membawa dan membaca buku di tempat publik sering kali menjadi pusat perhatian, tapi perhatian ini bukan perhatian yang di inginkan. Komentar-komentar halus sering kali di jumpai seperti wah, kok bawa buku sih, kayak belajar aja’ atau ‘ini ngapain bawa buku, bukannya nongkrong aja? Komentar-komentar halus ini ahirnya membuat orang-orang menghindari aktivitas itu lagi. Alih-alih merasa bangga karena membaca di tempat umum, mereka merasa canggung dan akhirnya memilih untuk tidak membawa buku lagi.

Akibat stigma sosial ini, kebiasaan membaca mulai tergeser. Banyak orang yang lebih memilih untuk membuka ponsel mereka daripada membawa buku ke tempat umum, hanya karena mereka takut dianggap ‘nerd’ atau ‘kuno’. Padahal, literasi adalah satu hal yang sangat penting, terutama di dunia yang semakin berkembang ini. Jika kebiasaan ini terus berlanjut, kita bisa kehilangan kesempatan untuk menciptakan generasi emas seperti yang harapkan.

Sudah saatnya kita hari ini tidak memikirkan sudut pandang itu, sudah saatnya kita mengubah perspektif itu. Membawa dan membaca buku di tempat publik adalah satu kegiatan positif dan seharunya kita merasa bangga akan hal itu. Jika kita mulai membawa buku tanpa merasa malu, kita bisa menginspirasi orang lain untuk melakukan hal yang sama. Mari kita jadikan budaya membaca di ruang publik sebagai sesuatu yang biasa dan keren, karena dengan begitu, kita bisa memperkuat literasi dan menjadi generasi emas bukan generasi cemas.

Mulailah bergerak untuk melakukan kegiatan positif, hentikan stigma jadul dan kuno tentang membawa buku ke kafe, taman jadikanlah itu sebagai potret indah bagi para penikmat dengan mata mereka. Biarkanlah orang lain menganggap kuno yang penting kita tidak di anggap bodoh.

Salam Lietrasi.

Share Konten

Opini Lainnya

Yudi Latif
Konghucu untuk Indonesia
Merah Muda Abstrak Lucu Halaman Kosong A4 Landscape_20260823_225440_0000
Luka Spiritual dan Rentannya Tanah Air: Membaca Kebakaran Kalimantan serta Gempa Tektonik NTT dari Kacamata Ekoteologi
81 Tahun Indonesia Merdeka
Refleksi 81 Tahun Indonesia Merdeka: Ketika Pembangunan Mengabaikan Manusia
Muzakkir (1)
Merdeka untuk Siapa? Catatan 81 Tahun bagi Perempuan Indonesia
anunya rumi
Salah Arah Belanja Parepare
Muzakkir (1)
Menakar Arsitektur APBN 2026-2027, Antara Ekspansi Fiskal dan Disiplin Anggaran
81 Tahun Indonesia
Merdeka dari Apa? 81 Tahun Indonesia dan Cengkraman Represi
81 Tahun Indonesia Merdeka
81 Tahun Indonesia Merdeka: Merayakan Kebebasan atau Menghadapi Kenyataan
Muzakkir (1)
Suara Kritis: Musuh Baru Penguasa Kampus?
Muzakkir (1)_edit_3152669649042474
Kedangkalan Bernalar. Ketika Kritik Dijawab dengan Label “Syiah”
Scroll to Top