ruminews.id – MAROS, — Sambung Tangan menghadirkan program Sekolah Karakter Mandiri: Tentang Mimpi, Harapan dan Masa Depan bagi anak-anak di Sekolah Kolong, Kampung Bara-Barayya, Dusun Tanete Bulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Program ini menjadi bagian dari upaya mendorong keberlanjutan pendidikan sekaligus menumbuhkan karakter dan kemandirian belajar anak.
Program tersebut dijadwalkan berlangsung dalam tiga batch, yakni pada 10 Oktober, 24 Oktober, dan 7 November 2026. Melalui kegiatan pembelajaran dan lokakarya, anak-anak didorong untuk terlibat aktif dalam proses belajar serta mengembangkan potensi diri.
Sebanyak 19 anak mengikuti program ini dan dibagi ke dalam dua kelas berdasarkan kelompok usia. Kelas A diikuti enam anak berusia di bawah 11 tahun, sedangkan Kelas B diikuti 13 anak berusia 12–13 tahun. Pembagian tersebut dilakukan untuk menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan dan tahap perkembangan peserta.
Rangkaian kegiatan meliputi sesi pembelajaran dan lokakarya yang memberikan pengalaman belajar secara langsung. Anak-anak tidak hanya menerima materi, tetapi juga diajak melakukan eksperimen sederhana untuk mengenal konsep ilmu pengetahuan melalui praktik dan pengamatan.
Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan rasa ingin tahu, menumbuhkan kemandirian, serta mendorong anak-anak untuk melanjutkan proses belajar secara mandiri di rumah.
Soroti Keberlanjutan Pendidikan
Di balik pelaksanaan program tersebut, Sambung Tangan turut menyoroti persoalan keberlanjutan akses pendidikan bagi anak-anak Kampung Bara-Barayya. Founder Sambung Tangan, Dwitriana Ulfi, menilai kegiatan belajar yang bergantung pada kehadiran relawan perlu diikuti dengan langkah konkret untuk menjamin pemenuhan hak pendidikan anak.
“Anak-anak Kampung Bara-Barayya menjadi bukti bahwa akses pendidikan yang layak belum sepenuhnya merata. Ketika proses belajar masih bergantung pada kehadiran relawan, sampai kapan hak pendidikan mereka harus menunggu kepedulian masyarakat?” ujar Dwitriana.
Ia menjelaskan, Sambung Tangan telah berupaya menghubungkan kebutuhan pendidikan anak-anak di wilayah tersebut dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Maros. Menurutnya, diperlukan kepastian mengenai keberadaan tenaga pengajar serta kesempatan bagi anak-anak untuk melanjutkan pendidikan hingga memperoleh ijazah.
“Melalui Sambung Tangan, kami telah berupaya menghubungkan kebutuhan anak-anak Kampung Bara-Barayya dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Maros. Harapan kami jelas, hadirnya guru yang menetap dan mengajar setiap Senin–Jumat, serta kepastian bagi anak-anak untuk melanjutkan pendidikan hingga memperoleh ijazah.
Kami menunggu janji itu menjadi tindakan nyata. Pendidikan bukan bantuan musiman atau sekadar janji di atas meja, melainkan hak anak yang harus dipenuhi,” tegasnya.
Dwitriana juga mendesak Dinas Pendidikan Kabupaten Maros untuk segera merealisasikan penempatan guru, menetapkan jadwal pelaksanaan yang jelas, serta memastikan keberlanjutan pendidikan anak-anak di Kampung Bara-Barayya.
“Yang dibutuhkan kini bukan sekadar komitmen, tetapi realisasi. Anak-anak tidak seharusnya terus menunggu untuk mendapatkan haknya,” tambah Dwitriana.
Libatkan Relawan dan Pemangku Kepentingan
Kegiatan ini turut dihadiri Founder Sambung Tangan, Dwitriana Ulfi, perwakilan Khidmah Pelosok, serta Andi Takdir, Kepala Seksi Kurikulum dan Penilaian SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Maros.
Khidmah Pelosok merupakan pihak yang lebih dahulu mendampingi anak-anak di lokasi tersebut sekaligus menjadi penghubung antara Sambung Tangan dan pihak sekolah.
Dalam setiap batch, kegiatan ini melibatkan delapan orang pengurus dan 15 orang relawan Sambung Tangan. Mereka berperan mendukung pelaksanaan pembelajaran dan lokakarya agar kegiatan berjalan sesuai dengan tujuan program.
Keterlibatan para relawan tidak hanya menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang belajar bagi anak-anak, tetapi juga memperkuat perhatian terhadap persoalan akses dan keberlanjutan pendidikan di wilayah tersebut.
Melalui program Sekolah Karakter Mandiri: Tentang Mimpi, Harapan dan Masa Depan, Sambung Tangan berupaya menghadirkan pengalaman belajar yang mendukung perkembangan akademik, membangun kemandirian, dan membuka ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan potensi diri.
Namun, keberlanjutan program pembelajaran tersebut perlu berjalan beriringan dengan langkah konkret dari pemangku kepentingan terkait. Dengan demikian, anak-anak Kampung Bara-Barayya tidak hanya memperoleh kesempatan belajar melalui kegiatan relawan, tetapi juga memiliki kepastian untuk mengakses pendidikan yang layak secara berkelanjutan.
Tentang Sambung Tangan
Sambung Tangan merupakan inisiator Community Involvement and Development (CID) yang berdiri sejak 2024 dan berlandaskan prinsip ISO 26000 tentang tanggung jawab sosial.
Dalam setiap kegiatan sosialnya, Sambung Tangan mengedepankan nilai-nilai tanggung jawab sosial yang mencakup transparansi, akuntabilitas, penghormatan terhadap hak asasi manusia, perlindungan lingkungan, serta pelibatan pemangku kepentingan.
Berlandaskan prinsip tersebut, Sambung Tangan mendorong gerakan sosial yang strategis, partisipatif, dan berkelanjutan. Pendekatan ini diarahkan agar setiap inisiatif sosial tidak hanya merespons kebutuhan sesaat, tetapi juga berkontribusi dalam membangun tatanan sosial yang lebih inklusif dan transformatif.



