OPINI

Reduksionisme dan Fisika Kuantum: Tentang Kesadaran Diri (Bagian Pertama)

Penulis: Rahmatullah Usman (Buruh Tinta)

Ruminews.id – Pertentangan filosofis yang tajam dalam perkembangan sains sejak dua tokoh utamanya memandang alam semesta dengan pandangan yang berbeda yakni, atomisme Demokritos (370 sm) dan organisme Aristoteles (322 sm). Pandangan Demokritos tentang alam semesta terdiri dari banyak bagian terkecil yang tidak dapat dibagi. Oleh karena itu, sifat semua benda-benda dan perilakunya tidak lebih dari konsekuensi dari efek-efek gerak dan pertumbuhan atom-atom.

Pandangan tersebut tidak berlangsung lama untuk mendapatkan tanggapan dan kritik dari Aristoteles yang menekankan adanya kesatuan-kesatuan organis yang mengatasi dan tak dapat diterangkan dengan merujuk pada bagian-bagian. Pandangannya ini dipertahankan dengan kurun waktu begitu lama, sejak dimulainya gerakan dakwah abad pertengahan, yang disebut oleh peradaban Barat sebagai abad kegelapan.

Ketika terbitnya fajar baru yakni, abad “pencerahan” dengan hadirnya para ilmuan sains, terjadi penemuan yang begitu masif membawa terobosan baru pada ilmu pengetahuan. Renaisans membukan wajah baru, yang telah lama usang, gelap, pengap dan penuh dogma. Penelitian-penelitian ilmiah dilakukan secara masif, penemuan-penemuan pun muncul sehingga salah satu terobosan sains yang dilakukan ketika mekanika klasik ditemukan oleh Isaac Newton (m. 1727). Penemuannya meruntuhkan dominasi organismik dalam bidang fisika.

Newton mendakwakan penemuannya tentang cahaya. Menurutnya, adalah butiran-butiran yang pada waktu itu disepakati para ilmuan sains. Kendati demikian, Christian Huygens (m. 1695) tidak sependapat tentang pandangan Newton. Ia berbeda dengan menyajikan teori bahwa cahaya merupakan gelombang. Dalam perkembangan ilmu pengetahuan, apa yang dinyatakan oleh Newton mengenai cahaya ternyata salah. Munculnya Dalton dengan teori atomnya tentang zat-zat kimia memukul telak pandangan organisme Aristoteles dan mengukuhkan pandangan Demokritos.

Penjelasan Newton mengenai cahaya terbukti salah, yang ternyata adalah gelombang. Cahaya tak lebih dari penjalaran gangguan medan elektromaknetik yang bersumber pada pertikel-pertikel bermuatan. Terdepaknya organisme Aristoteles dari kancah perdebatan tentang atom. Meski iate tetap mempunyai dukungan yang dipertahankan oleh para ilmuan biologi untuk menjelaskan tentang mahluk hidup.

Namun, para ilmuan biologi mengalami kebuntuan mengenai organisme Aristoteles tentang kehidupan mahluk hidup. Sebab organisme tersebut menuntut adanya subtansi non-material yang menggerakkan kesatuan organisme mahluk hidup. Dan memang muatan organisme itu memiliki aroma metafisika sebagai sebab pertama dalam filsafat Aristoteles.

Karena kebingungan para ilmuan biologi untuk meneliti yang disebut etelekhi. Karena etelekhi tidak dapat diukur secara ilmiah seperti zat-zat lainnya. Mengapa para ilmuan biologi tidak mampu mengukur dengan takaran ilmiah? Sebabnya adalah para ilmuan biologi itu telah terpapar oleh aliran pemikiran positivisme.

“Ilmuan biologi, yang dipengaruhi oleh aliran positivisme, meninggalkan konsep entelekhi ini dan menggantinya dengan pandangan reduksionisme yang menganggap kehidupan tak lebih dari reaksi-reaksi kimiawi dalam tubuh suatu organisme”, tutur Armahedi Mahzar (43: 2004).

Model reduksionisme menjadi salah satu pengaruh yang merombak secara ekstrem dalam memahami mahluk hidup khususnya manusia. Jiwa, pikiran, dan kesadaran manusia tak lebih dari dogma yang ditaburi oleh informasi teologi.

Dalam pandangan mereka interaksi tubuh manusia hanya reaksi kimiawi termaksud kesadarannya. Buntut dari pandangan ini, pertanyaan klasik tentang akal dan jiwa diserahkan oleh wilayah sains, yang lebih populer tentang otak dalam perhitungan yang disebut “kecerdasan artifisial”.

Reduksionisme mengambil posisi yang ekstrem karena paradigma mereka yang terpapar oleh positivisme, mereka memahami esensi manusia akibat reaksi kimia yang saling bertukar antara elektron-elektron yang diantarai oleh molekul-molekul dan atom-atom bereaksi.

Sehingga mahluk hidup termaksud manusia hanya dipahami sebagai peristiwa kimia. Seluruh kesadaran mahluk diukur dengan aktivitas kontak dengan sistem peristiwa sains biologi. Buntutnya, ruh, spritual, agama, intelek manusia menjadi tidak bernilai. Bagi reduksionisme, hal tersebut merupakan kekeliruan. Terlebih lagi, ilmu psikologi menjadi sasaran pengaruh pandangan reduksionisme, yang sebenarnya ilmu tersebut memahami perilaku dan kondisi jiwa sebagai subjek studinya.

“Ekstremitas, atomisme reduksionis menjadi sempurna ketika para ilmuan psikologi mereduksi proses-proses psikologis, yang dahulu dipandang sebagai fungsi-fungsi ruh, menjadi sebatas proses-proses kimia fisika sel-sel saraf otak”, Armahedi Mahzar (43:2004).

Reduksionisme kemudian mempengaruhi para pemikir setelahnya, yang mengalihkan titik penelitian mereka yang berpusat pada kecerdasan artifisial. Ilmuan matematika Alan Turing (m. 1954) mengambil jalur ekstrem, ia melakukan eksperimen untuk mengetahui apakah mesin bisa berpikir. Ia melakukan percobaan mesin pada manusia untuk mengetes apakah mesin itu bisa mengidentifikasi sistemnya dengan mengetahui jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Turing menyebutnya “permainan tiruan” yang hasilnya cukup mencengangkan bahwa mesin itu bisa berpikir.

Akar dari pemahaman reduksionis ini merupakan peninggalan dari paralelisme Descartes (m. 1650) yang menganggap dualisme antara jiwa dan tubuh menjadi populer pada awal abad pencerahan. Pemikiran Descartes kemudian di masukan dalam pandangan doktrin resmi teologi pada waktu itu.

“Doktrin utama agama adalah gagasan bahwa jiwa (atau akal) adalah sesuatu, dan perbedaan tajam harus ditarik antara badan dan jiwa. Yang disebut teori dualitas akal (atau jiwa) ini dikembangan oleh Descartes”, tutur Paul Davies (109: 2020).

Kesulitan memahami jiwa oleh para ilmuan generasi renaisans modern awal, membuka jalan bagai sains setelahnya memfokuskan pada reaksi kimiawi saraf dan organ manusia sebagai pusat esensinya. Cara kerja kimia tersebut, dikontras dengan tindakan dan perilaku manusia dengan hubungannya dengan alam. Oleh karena itu, padangan mekanistik terhadap alam semesta digunakan untuk memahami esensi manusia. Bahkan yang lebih aneh, ketika Descartes menjelaskan tempat jiwa berada pada kalenjer kecil pada otak.

“Descartes percaya kalenjer kecil dalam otak adalah tempat jiwa, atau setidak-tidaknya merupakan struktur yang memberi kaitan erat fisik antara akal dan otak”, tandas Paul Davies (111”2020).

Pikiran, Kesadaran Yang Sama Dengan Komputer

Reduksionisme hampir memengaruhi seluruh paradigma pemikiran yang mengikuti arus positivisme. Tampilnya kritik yang keras dilakukan oleh kalangan romantisme yang bagi mereka alam ini masih mencakup kesatuan organik. Mereka mendukung nilai dari jiwa dan ruh sebagai pencipta kreativitas manusia yang melahirkan seniman dan nsastrawan. Namun, bagaimanapun reaksi protes mereka, tidak mampu membendung arus kuat reduksionisme yang lebih unggul dalam pembuktian sainsnya.

Reduksionisme tak goyah atas kritik dari kalangan romantisme. Mereka merasa di atas angin dengan revolusi sains yang dibangun di atas paradigma reduksionisme atomistik dan mekanistik. Tak berselang lama, kalangan filsafat aliran materialisme marxis yang menganggap atomisme dan mekanis sebagai basis ontologis mereka. Ia tidak sependapat dengan padangan reduksisonisme mekanistik terutama dalam ilmu-ilmu sosial. Sebab padangan reduksionisme terhadap jiwa manusia hanya persoalan reaksi kimiawi, sementara mereka berpendapat bahwa kondisi tersebut dipengaruhi oleh reaksi dialektika kondisi sosial ekonomi.

“jiwa manusia tidak ditentukan secara searah oleh reaksi-reaksi kimiawi atau proses-proses fisika di dalam otak, tetapi lebih secara dialektik oleh proses-proses dan kondisi-kondisi sosial”, tutur Armahedi Mazhar (44:2004). Lebih lanjut ia mengatakan, anehnya, ia mereduksi semua fenomena sosial ke dalam proses-proses ekonomi yang meliputi kebutuhan dasar manusia.

Di dalam gejolak perdebatan itu, muncul kalangan ahli biologi dengan semangat organismik yang dipengaruhi oleh teori evolusi Darwinisme dan relativitas Einstein. mereka menekankan tentang evolusi materi dan evolusi pikiran yang disebutnya sebagai “padangan holisme”. Ilmuan biologi dari Inggiris Jan Christian Smuts (m. 1950) yang memprakarsai pandagan holisme menambah daftar panjang perdebatan tentang kesadaran diri manusia yang menggeser teologi dan spritualitas manusia yang deterministik pada reaksi kimiawi-fisika.

Namun, upaya holisme melihat alam ini secara keseluruhan dengan pendekatan sains yang maju, tetap saja dalam wilayah fisika memiliki bagian-bagian dalam struktur materi. Tapi dalam proses tersebut, pandangan holisme melihat struktur secara keseluruhan dan lebih tinggi.

“ Bagi Smuts, keseluruhan adalah ciri pokok alam semesta yang mengarahkan seluruh proses alam semesta. Holisme ini diciptakan dirinya sendiri, dan struktur akhirnya selalu lebih menyeluruh ketimbang struktur-struktur awalnya”, tandas, Armahedi Mahzar (44: 2004).

Pada perkembangan paradigma holistik yang muncul pada awal abad 20 yang menurut Armahedi (2004) dibangun oleh kreativitas teori evolusinya Henry Bargson (m. 1941), evolusionisme Alexander, dan filsafat organisme yang dikembangkan Alfred Whitehead (m. 1947). Salah satu yang menjadi sasaran kritik mereka adalah reduksionisme matrealistis yang menjadi paradigma epistemologi dan ontologi sains modern. Paradigma yang menguasai sepenuhnya revolusi ilmu pengetahuan pasca masa pencerahan.

Kemajuan sains menafsirkan kesadaran manusia dalam pendekatan mekanistik reduksionis yang sama dengan komputer. Bahkan pikiran yang sebelumnya diagungkan oleh rasionalisme instrumental di Barat, harus tunduk pada sistem berpikir mesin komputer. Bahkan pikiran dengan sistem komputer melampaui rasio.

“Kemajuan saintifik ini diimbangi dengn kemunculan filsafat baru tentang akal, yang terkait-berkelindan dengan gagasan yang dikemukakan di atas, yang disebut fungsionalisme. Kaum fungsionalisme menilai bahwa unsur esensial akal bukan perangkat keras, bahkan pembentuk otak Anda atau proses fisik yang digunakannya tetap perangkat lunak penyusun bahan, atau program”, tutur, Paul Davies (117: 2020).

Generasi holisme melancarkan kritik yang tajam atas paradigma reduksionis. Meski mereka beranjak dari dasar yang sama yakni, perkembangan sains modern. Kedua pandangan tersebut sama dalam menjelaskan unsur-unsur dan sistem cara kerja alam semesta. Meski perbedaan yang tidak terlalu signifikan atas pandangan mereka, namun ilmu pengetahuan dipandang sebagai sarana yang canggih dan otoritatif dalam menjelaskan sistem alam secara menyeluruh yang diukur oleh kemajuan sains modern. Sehingga filsafat harus tunduk dibawa naungan sains. Paradigma tersebut yang menggeser ilmu pengetahuan mengenai jiwa, akal, dan spritualitas dipandang sebagai reaksi saraf otak, seperti kerja komputer.

“Filsafat yang dengan cepat memperoleh landasan dengan munculnya apa yang dikenal sebagai sains kognitif: kecerdasan artifisial, sains komputer, linguistik, cybernetika, dan psikologi. Semua bidang kajian ini menaruh perhatian pada sistem proses informasi dalam satu atau lain hal, baik manusia maupun mesin”, tutur, Paul Davies (117:2020).

Dari ulasan Paul Davies di atas, bahwa pemikiran dan kesadaran dialihkan pada sistem kerja mesin komputer dan reaksi pada jiwa dan akal hanya bisa dijelaskan melalui prodak sains yang berkembang dan bahkan akal harus bernaung atau lebih rendah dari sistem komputer.

Davies menuturkan “Perkembangan konsep dan bahasa dikaitkan dengan komputer, seperti pembedaan antara perangkat keras dan lunak, kesadaran. Komputer telah memaksa para saintis untuk berpikir lebih jelas ketimbang sebelumnya tentang akal”, (117:2020).

Kritik holisme pada reduksionisme mendapatkan reaksi dari ilmuan setelahnya, mereka membukan jalan pembahasan bagi spritulitas yang disebut meditasi yang diambil dari tradisi timur budisme. Mereka mencoba membawa penelitian mengenai meditasi melalui gaya yang baru dengan pendekatan sains yakni, sibernetika. Gregori Bateson (m. 1980) ahli antropologi yang mensintetiskan hal tersebut. ia adalah tonggak utama yang memulai memasukkan sibernetika dalam pandangan holisme untuk menggantikan peran reduksionisme dalam biologi dan sosial. Bateson menegmbangkan meditasi yang digagas oleh Zen.

Menurut Armahedi, Bateson mengganti ilmu-ilmu biologi dan sosial. Ia menamainya satori, sebagai tingkat pencerahan akhir meditasi Zen. Hal tersebut dianggap baik dan berguna bagi manusia dan mendapatkan pembenaran ilmiah. Upaya mereka untuk menjelaskan spritualitas dan Tuhan dalam pendekatan holisme yang didukung oleh pembenaran ilmiah, sehingga ilmuan mencoba mensintetiskan tradisi Timur yang mistik dan Barat yang saintifik melalui pendekatan holistik.

Cara kerja tersebut didasari atas penelitian mereka terhadap peristiwa fisika, sistem materi dalam kerja fisika yang diteliti melalui prosedur ilmiah sains, eksperimen, observasi dalam mengamati partikel-partikel materi.

“Misalnya, Fritjof Capra seorang fisikawan partikel elementer yang juga melakukan meditasi-meditasi Timur tiba-tiba menyadari bahwa pengalaman mistisnya menghasilkan kesimpulan yang sama dengan teori kuantum relativitik yang digunakannya”, tutur Armahedi Mahzar (46:2004).

Bersambung……….

Share Konten

Opini Lainnya

Merah Muda Abstrak Lucu Halaman Kosong A4 Landscape_20260914_153739_0000
Kekuasaan Menjadi Tujuan : Krisis Moral dalam Politik Indonesia
Wajah Demokrasi
Menatap Wajah Demokrasi yang Mengabur: Replikasi Cara Lama dalam Menghentikan Suara Rakyat
Desain tanpa judul (5)
Panic Buying dan Cara Mudah Menjelaskan Kelangkaan BBM
Kanal Jongaya
Kanal Jongaya dan Politik Persampahan yang Selalu Datang Terlambat
Merah Muda Abstrak Lucu Halaman Kosong A4 Landscape_20260913_000102_0000
Makassar dalam Cengkeraman Krisis Energi: Jika Stok Aman, Mengapa Rakyat Masih Harus Mengantre?
Muzakkir (3)
Stok Aman, Rakyat Mengantre: Membongkar Wacana dan Relasi Kuasa di Balik Kelangkaan BBM dan LPG di Makassar
9cbf9159-cb43-49ea-8153-79dc64944bbf
Pra-apocalypse: Ketika Krisis Bahan Bakar Menjelma Menjadi Awal Kehancuran
Biru Putih Modern Gratis Cek Kesehatan Buruh Kiriman Instagram
Sistem Perpajakan Negara Menimbulkan Kegaduhan Masyarakat Sulawesi Selatan Terhadap Krisis BBM dan LPG 3 Kg
Pemimpin Perempuan
Kepak Sayap Hormuz, Antrean BBM di Makassar
Merah Muda Abstrak Lucu Halaman Kosong A4 Landscape_20260912_122619_0000
Sulawesi Selatan Darurat Energi: MBG, Mana Bahlil Guys?!
Scroll to Top