Penulis: Muhammad Nur – Ketua Bidang PTKP HMI Komisariat Teknik Universitas Bosowa
ruminews.id – Perubahan zaman tidak pernah meminta izin kepada sebuah organisasi untuk datang. Ia hadir melalui teknologi, perubahan cara belajar, pergeseran budaya, perkembangan ekonomi, perubahan perilaku masyarakat, hingga cara generasi muda membentuk pandangan tentang dunia.
Di tengah perubahan itu, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menghadapi tantangan yang cukup mendasar: bagaimana mempertahankan nilai yang menjadi fondasi organisasi sekaligus memastikan cara berpikir dan cara bergeraknya tetap relevan.
Pertanyaan tersebut menjadi semakin penting ketika ruang kehidupan mahasiswa sendiri telah berubah. Informasi yang dahulu diperoleh melalui buku dan forum diskusi kini tersedia dalam hitungan detik melalui perangkat digital. Perdebatan yang sebelumnya berlangsung di ruang-ruang organisasi kini berpindah ke media sosial. Bahkan, perkembangan kecerdasan buatan mulai mengubah cara mahasiswa belajar, bekerja, mencari informakasihmasi, dan menghasilkan pengetahuan.
Perubahan ini tentu tidak otomatis menjadi ancaman bagi HMI. Ia justru dapat menjadi kesempatan untuk memperluas ruang perkaderan. Persoalannya terletak pada kemampuan organisasi dalam membaca perubahan tersebut.
Di sinilah pembaruan menjadi penting.
Menjaga nilai tidak harus berarti mempertahankan semua cara lama. Nilai perlu dijaga, sementara cara menerjemahkannya dapat terus berkembang.
Ketika Nilai Bertemu dengan Zaman
Himpunan Mahasiswa Islam memiliki sejarah panjang dalam membangun tradisi keislaman, intelektualitas, kemahasiswaan, dan kebangsaan. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dari identitas organisasi.
Namun sebuah nilai tidak akan banyak berarti jika hanya tinggal sebagai pengetahuan yang dihafalkan dalam forum perkaderan.
Nilai baru benar-benar hidup ketika mampu memengaruhi cara kader melihat persoalan dan menentukan sikap.
Misalnya, intelektualitas tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan berbicara dalam forum. Ia juga berkaitan dengan kemampuan membaca data, memeriksa informasi, melakukan penelitian, menulis, dan mempertanggungjawabkan sebuah pendapat.
Begitu pula independensi. Independensi tidak hanya berkaitan dengan hubungan organisasi dengan kekuasaan, tetapi juga dengan kemampuan seorang kader untuk membangun sikap berdasarkan pengetahuan dan pertimbangannya sendiri.
Karena itu, tantangan HMI hari ini bukan semata-mata mempertahankan nilai.
Tantangannya adalah menghidupkan kembali nilai tersebut dalam realitas yang sudah berubah.
Persoalan semacam ini sebenarnya mulai menjadi perhatian di berbagai lingkungan HMI. HMI Cabang Semarang, misalnya, sepanjang 2026 mempublikasikan kajian mengenai relevansi Nilai Dasar Perjuangan di era digital dan tantangan kaderisasi dalam perubahan lanskap sosial dan teknologi.
Artinya, pembicaraan mengenai pembaruan bukan lagi sekadar gagasan abstrak. Ia mulai menjadi kebutuhan nyata dalam perkaderan.
Masalahnya Bukan Kekurangan Informasi
Generasi mahasiswa hari ini justru hidup dalam kelimpahan informasi.
Dalam satu hari, seorang mahasiswa dapat membaca berita, menonton video, mengikuti perdebatan politik, menerima berbagai pendapat, dan menggunakan kecerdasan buatan untuk mencari penjelasan mengenai hampir semua hal.
Namun banyaknya informasi tidak selalu menghasilkan kedalaman berpikir.
Di sinilah tradisi intelektual HMI kembali diuji.
Kader tidak cukup menjadi orang yang paling cepat mengetahui sebuah isu. Yang lebih penting adalah kemampuan memahami mengapa isu tersebut muncul, siapa yang terdampak, apa datanya, dan bagaimana persoalan tersebut dapat dilihat dari berbagai perspektif.
Perbedaan antara mengetahui dan memahami menjadi semakin penting.
Media sosial dapat membuat sebuah isu menjadi populer dalam waktu singkat. Tetapi popularitas tidak sama dengan kebenaran. Sebuah pendapat dapat memperoleh ribuan tanggapan tanpa memiliki argumentasi yang kuat.
Karena itu, budaya membaca dan menulis tetap memiliki tempat yang penting.
Bukan karena teknologi harus ditolak, melainkan karena teknologi justru membuat kemampuan berpikir kritis semakin diperlukan.
Komisariat dan Masa Depan Perkaderan
Perbincangan mengenai masa depan HMI sering kali berada pada tingkat struktur yang lebih tinggi. Padahal proses pembentukan kader berlangsung jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari mahasiswa.
Di komisariat, kader pertama kali belajar berdiskusi, menyampaikan pendapat, menerima kritik, membaca persoalan, dan membangun hubungan antara ilmu yang dipelajari di kampus dengan realitas masyarakat.
Karena itu, komisariat seharusnya tidak hanya dipahami sebagai unit administratif organisasi.
Ia merupakan ruang pembentukan cara berpikir.
Dari sudut pandang kader yang berada di komisariat, salah satu kebutuhan HMI ke depan adalah memperkuat fungsi tersebut.
Kajian tidak harus selalu menunggu agenda besar. Persoalan di sekitar kampus dapat menjadi bahan penelitian. Masalah transportasi, pembangunan, lingkungan, pendidikan, ekonomi, teknologi, hingga kebijakan publik dapat dibaca dari disiplin ilmu yang dimiliki kader.
Dengan cara seperti itu, perkaderan tidak berhenti pada pembahasan internal organisasi.
Kader mulai belajar bahwa keilmuan yang diperoleh di perguruan tinggi memiliki hubungan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Seorang mahasiswa teknik, misalnya, dapat membaca persoalan pembangunan dan infrastruktur. Mahasiswa hukum dapat mengkaji kebijakan publik. Mahasiswa ekonomi dapat menganalisis persoalan ketimpangan. Mahasiswa kesehatan dapat melihat persoalan pelayanan kesehatan.
Keragaman keilmuan tersebut sebenarnya merupakan modal besar HMI.
Persoalannya adalah bagaimana modal itu diolah menjadi pengetahuan dan kemudian menjadi kontribusi.
Dari Aktivisme ke Gerakan Berbasis Pengetahuan
Tradisi gerakan mahasiswa tetap penting. Kritik terhadap kebijakan publik, advokasi masyarakat, dan kontrol sosial merupakan bagian dari kehidupan demokrasi.
Tetapi bentuk gerakan mahasiswa juga perlu mengalami perkembangan.
Di tengah masyarakat yang semakin kompleks, keberanian menyampaikan kritik perlu berjalan bersama kemampuan memahami persoalan.
Kritik terhadap kebijakan publik akan lebih kuat ketika disertai data.
Advokasi akan lebih bermakna ketika didasarkan pada pemahaman terhadap kebutuhan masyarakat.
Pernyataan publik akan lebih meyakinkan ketika memiliki argumentasi yang dapat diuji.
Dengan demikian, aktivitas mahasiswa tidak berhenti pada produksi pernyataan, tetapi juga menghasilkan pengetahuan.
Ada perbedaan antara reaktif terhadap isu dan mampu membaca isu.
Yang pertama membuat organisasi bergerak setelah sebuah persoalan menjadi ramai. Yang kedua memungkinkan organisasi mengidentifikasi persoalan bahkan sebelum menjadi perhatian publik.
HMI memiliki tradisi intelektual yang cukup panjang untuk mengambil posisi kedua.
Kecerdasan Buatan dan Tantangan Baru Kader
Perkembangan kecerdasan buatan menambah dimensi baru dalam persoalan perkaderan.
AI dapat membantu mahasiswa mencari informasi, menyusun gagasan, mengolah data, hingga mempercepat berbagai pekerjaan akademik. Tetapi kemudahan tersebut juga menghadirkan pertanyaan tentang kemampuan manusia untuk tetap berpikir secara mandiri.
Jika semua jawaban dapat diperoleh secara instan, apakah proses belajar masih berlangsung?
Jika sebuah tulisan dapat dibuat dengan bantuan teknologi, bagaimana memastikan penulis benar-benar memahami gagasannya?
Jika informasi dapat dihasilkan dengan cepat, siapa yang bertanggung jawab ketika informasi tersebut keliru?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak cukup dijawab dengan sikap menerima atau menolak teknologi.
HMI justru memiliki kesempatan untuk masuk ke dalam perdebatan tersebut dengan pendekatan yang lebih kritis.
Kader perlu memahami teknologi sekaligus memahami batas etis penggunaannya.
Teknologi dapat menjadi alat untuk memperkuat kemampuan manusia. Tetapi tanggung jawab intelektual tidak dapat sepenuhnya dialihkan kepada mesin.
Karena itu, literasi digital perlu berjalan bersama dengan literasi intelektual dan etika.
Independensi Dimulai dari Kemampuan Berpikir Independensi HMI sering dibicarakan dalam konteks hubungan organisasi dengan kekuasaan. Namun ada dimensi yang lebih sederhana dan mendasar: kemampuan kader untuk berpikir secara mandiri.
Kader yang terbiasa menerima pendapat tanpa mengujinya akan mudah terbawa arus, baik oleh senioritas, kelompok, media sosial, maupun popularitas seseorang.
Tradisi organisasi yang sehat seharusnya menyediakan ruang untuk bertanya.
Perbedaan pendapat tidak selalu menunjukkan perpecahan. Dalam konteks intelektual, perbedaan justru dapat menjadi cara untuk menguji kualitas sebuah gagasan.
Senioritas semestinya menjadi ruang transfer pengalaman, bukan alasan untuk menghentikan pertanyaan. Sebaliknya, kader muda juga perlu memahami bahwa gagasan baru tidak otomatis lebih baik hanya karena datang dari generasi baru.
Dialog antargenerasi menjadi penting.
Pengalaman dan pembaruan tidak harus dipertentangkan.
Pembaruan Tidak Berarti Menghapus Tradisi
Kekhawatiran terhadap pembaruan biasanya muncul karena adanya ketakutan bahwa perubahan akan membuat organisasi kehilangan identitas.
Kekhawatiran tersebut dapat dipahami. Tetapi pembaruan tidak selalu berarti mengganti apa yang sudah ada.
Ada perbedaan antara nilai dan metode.
Nilai merupakan fondasi. Metode merupakan cara untuk mencapai tujuan.
Fondasi perlu dijaga, sementara metode dapat disesuaikan dengan kebutuhan zaman.
Karena itu, HMI tetap dapat mempertahankan nilai keislaman, intelektualitas, independensi, dan pengabdian sekaligus memperbarui cara perkaderan, pemanfaatan teknologi, produksi pengetahuan, dan pengabdian masyarakat.
Beberapa perkembangan di Sulawesi Selatan juga menunjukkan arah tersebut. Pada Juni 2026, Badan Pengelola Latihan HMI Sulawesi Selatan melakukan audiensi dengan Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan terkait pelaksanaan Latihan Kader II tingkat regional, dengan penekanan pada penguatan wawasan hukum dan kapasitas intelektual kader.
Di sisi lain, dalam ruang KOHATI HMI Sulawesi Selatan, muncul pula gagasan rekonstruksi paradigma kaderisasi agar lebih mampu menjawab dinamika era digital.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan untuk memperbarui metode kaderisasi sudah menjadi bagian dari percakapan organisasi.
Generasi Muda dan Tanggung Jawab Pembaruan
Pembaruan organisasi tidak hanya bergantung pada struktur kepengurusan.
Kader muda memiliki ruang yang cukup besar untuk ikut menentukan arahnya, terutama melalui produksi gagasan.
Menulis adalah salah satu bentuk partisipasi.
Melakukan penelitian adalah bentuk partisipasi yang lain.
Membangun forum diskusi, mengembangkan kegiatan berbasis keilmuan, memanfaatkan teknologi, dan melakukan pengabdian juga merupakan bagian dari proses tersebut.
Kader tidak harus menunggu jabatan untuk mulai memberikan kontribusi.
Justru kualitas seorang kader dapat terlihat dari apa yang ia kerjakan ketika tidak memiliki jabatan apa pun.
Pada titik ini, komisariat memiliki posisi yang menarik. Ia cukup dekat dengan persoalan mahasiswa, tetapi sekaligus menjadi bagian dari organisasi yang lebih besar. Ruang tersebut memungkinkan kader menguji gagasan secara langsung sebelum membawanya ke ruang yang lebih luas.
Bagi saya, di situlah pembaruan yang sehat dapat tumbuh.
Tidak dimulai dari slogan.
Tidak pula dari keinginan untuk menghapus masa lalu.
Tetapi dari kebiasaan kecil untuk membaca lebih banyak, berpikir lebih dalam, menulis lebih serius, dan bekerja berdasarkan pengetahuan.
Menjaga Akar, Memperbarui Langkah
Himpunan Mahasiswa Islam tidak perlu memilih antara tradisi dan perubahan.
Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk mempertemukan keduanya.
Nilai menjadi fondasi. Ilmu menjadi instrumen. Teknologi menjadi alat. Pengabdian menjadi ukuran manfaat.
Dengan cara pandang tersebut, pembaruan tidak lagi menjadi ancaman terhadap identitas organisasi.
Pembaruan justru menjadi cara untuk memastikan identitas tersebut tetap hidup.
Zaman akan terus berubah. Teknologi akan terus berkembang. Persoalan masyarakat akan terus bergeser. Generasi baru akan datang dengan cara berpikir yang berbeda.
Himpunan Mahasiswa Islam tentu tidak mungkin menghentikan perubahan itu. Yang dapat dilakukan adalah memastikan bahwa setiap perubahan dibaca dengan cukup kritis dan direspons dengan kapasitas yang memadai.
Pada akhirnya, masa depan Himpunan Mahasiswa Islam tidak hanya ditentukan oleh mereka yang berada di struktur organisasi. Ia juga dibentuk oleh kader-kader yang hari ini sedang belajar di ruang kelas, berdiskusi di komisariat, melakukan penelitian, menulis, dan mencoba memahami persoalan masyarakat.
Karena itu, pembaruan mungkin tidak perlu selalu dimulai dari panggung yang besar.
Ia dapat dimulai dari ruang yang sederhana.
Dari sebuah buku yang dibaca sampai selesai.
Dari sebuah diskusi yang menghasilkan pertanyaan baru.
Dari sebuah penelitian kecil yang menemukan persoalan di sekitar kita.
Atau dari seorang kader yang mulai berani mempertanyakan apakah cara yang selama ini digunakan masih cukup untuk menjawab kebutuhan zaman.
Menjaga nilai tidak berarti membekukan cara berjuang.
Himpunan Mahasiswa Islam dapat tetap berdiri di atas fondasi sejarahnya sekaligus membuka diri terhadap masa depan.
Tantangannya bukan memilih antara menjadi tradisional atau modern.
Tantangannya adalah bagaimana menjadi organisasi yang tetap memiliki akar, tetapi tidak kehilangan kemampuan untuk tumbuh.
Dan mungkin, pembaruan itu memang seharusnya dimulai dari tempat paling dekat dengan kader yaitu komisariat.