Penulis : Rezky Amelia – Bendahara Umum Kohati
ruminews.id – Di tengah berbagai kampanye kesetaraan gender yang terus digaungkan, perempuan masih menghadapi realitas sosial yang paradoks. Di satu sisi, perempuan didorong untuk menjadi mandiri, berpendidikan, dan sukses.
Namun di sisi lain, mereka masih dihadapkan pada berbagai stereotip yang menempatkan perempuan sebagai kelompok yang lemah, emosional, dan kurang kompeten dibandingkan laki-laki. Kondisi ini tidak hanya menciptakan ketidakadilan sosial, tetapi juga berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri perempuan.
Konsep diri merupakan gambaran, penilaian, dan evaluasi seseorang terhadap dirinya sendiri. Sayangnya, konsep diri perempuan sering kali tidak terbentuk secara bebas, melainkan dipengaruhi oleh konstruksi sosial yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Sejak kecil, banyak perempuan diajarkan untuk menjadi penurut, menjaga citra, dan mengutamakan penilaian orang lain dibandingkan kebutuhan dirinya sendiri. Akibatnya, tidak sedikit perempuan yang tumbuh dengan keraguan terhadap kemampuan yang sebenarnya mereka miliki.
Fenomena ini terlihat jelas pada aspek citra diri. Saat ini perempuan hidup dalam tekanan standar kecantikan yang semakin tidak realistis. Media sosial dipenuhi oleh gambaran tubuh ideal, wajah sempurna, dan kehidupan yang tampak tanpa kekurangan.
Perempuan yang tidak memenuhi standar tersebut sering kali mengalami rasa tidak percaya diri, bahkan merasa dirinya kurang berharga. Ironisnya, nilai seorang perempuan sering kali lebih banyak diukur dari penampilannya dibandingkan kapasitas intelektual atau kontribusinya kepada masyarakat.
Pada aspek ideal diri, perempuan juga menghadapi tekanan yang kontradiktif. Mereka dituntut untuk memiliki pendidikan tinggi dan karier yang cemerlang, tetapi pada saat yang sama tetap dibebani ekspektasi untuk menjadi sosok yang sempurna dalam keluarga.
Ketika perempuan berhasil dalam karier, mereka kerap dianggap mengabaikan keluarga. Sebaliknya, ketika memilih fokus pada keluarga, mereka dianggap kurang produktif. Standar ganda ini menciptakan konflik psikologis yang dapat menghambat perkembangan konsep diri yang sehat.
Masalah yang lebih serius muncul pada harga diri perempuan. Banyak perempuan masih mencari pengakuan sosial sebagai ukuran utama nilai dirinya. Penghargaan terhadap perempuan sering kali bergantung pada status pernikahan, penampilan fisik, atau pandangan masyarakat.
Akibatnya, perempuan rentan mengalami krisis kepercayaan diri ketika tidak memenuhi ekspektasi sosial yang dibangun oleh lingkungan. Padahal, harga diri seharusnya lahir dari kesadaran akan kemampuan, potensi, dan nilai kemanusiaan yang dimiliki setiap individu.
Dalam konteks peran diri, perempuan sering kali dibatasi oleh budaya patriarki yang masih mengakar dalam masyarakat. Perempuan dianggap cocok pada bidang-bidang tertentu dan dipandang kurang layak menduduki posisi strategis atau kepemimpinan.
Padahal, sejarah telah membuktikan bahwa perempuan mampu menjadi pemimpin, ilmuwan, akademisi, aktivis, maupun penggerak perubahan sosial. Pembatasan peran berdasarkan jenis kelamin bukan hanya merugikan perempuan, tetapi juga menghambat kemajuan masyarakat secara keseluruhan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa diskriminasi terhadap perempuan bukan hanya persoalan sosial, tetapi juga persoalan psikologis yang berdampak pada pembentukan identitas diri.
Ketika seseorang terus-menerus menerima stigma bahwa dirinya lemah, tidak kompeten, atau kurang berharga, maka stigma tersebut berpotensi menjadi bagian dari cara pandangnya terhadap diri sendiri. Inilah yang membuat diskriminasi menjadi berbahaya, karena tidak hanya membatasi kesempatan perempuan, tetapi juga merusak keyakinan mereka terhadap potensi yang dimiliki.
Jika ditinjau melalui teori kebutuhan Abraham Maslow, banyak perempuan masih berjuang memenuhi kebutuhan akan rasa aman, penghargaan, dan aktualisasi diri.
Ketika perempuan terus menghadapi diskriminasi, kekerasan verbal, pelecehan, atau ketidaksetaraan kesempatan, kebutuhan tersebut sulit terpenuhi. Akibatnya, proses aktualisasi diri menjadi terhambat dan potensi yang dimiliki tidak dapat berkembang secara maksimal.
Oleh karena itu, persoalan konsep diri perempuan tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengajarkan perempuan untuk lebih percaya diri. Yang perlu diubah adalah sistem sosial yang masih memelihara stereotip dan diskriminasi gender.
Lingkungan keluarga, institusi pendidikan, media massa, dan masyarakat harus berhenti menilai perempuan berdasarkan standar yang sempit. Perempuan perlu diberikan ruang untuk menentukan identitas, cita-cita, dan perannya sendiri tanpa tekanan sosial yang membatasi.
Perempuan bukan makhluk lemah. Yang melemahkan perempuan adalah budaya yang terus mempertahankan ketidaksetaraan dan stigma negatif terhadap mereka.
Ketika perempuan mampu membangun konsep diri yang positif dan masyarakat mampu menciptakan lingkungan yang adil, maka perempuan tidak hanya akan menjadi individu yang percaya diri, tetapi juga menjadi kekuatan besar dalam mendorong perubahan sosial yang lebih manusiawi dan setara.