Dokumentasi oleh @peter.joseff
Ruminews.id, Yogyakarta — Kondisi Indonesia saat ini berada dalam fase krusial yang kian menghimpit kehidupan rakyat kecil. Keprihatinan inilah yang membuat Komunitas Ibu Berisik, Wakanda (Wadah Komunikasi Antar Driver Aktif), Sejagad (Serikat Pekerja Gajah Mada) dan Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional mengadakan kegiatan Aksi Damai dan Diskusi Publik di Bunderan UGM (5/6/2026). Aksi ini dilakukan atas keprihatinan terhadap perekonomian nasional yang semakin memburuk dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar. Hal ini tentunya berdampak pada UMKM, pedagang, kelas pekerja ibu rumah tangga dan driver ojek online tentunya. Sehingga aksi damai ini dapat menjadi bentuk solidaritas antara semua elemen masyarakat untuk menyatukan kekuatan menghadapi ketidakjelasan kebijakan pemerintah pada saat ini.
Aksi damai ini dimulai pukul 15.30-17.30 WIB, yang dibuka oleh MC dengan tajuk “Nyerah Jadi WNI”, seluruh peserta aksi damai memakai dresscode baju putih yang merupakan simbol keputusasaan sekaligus protes keras atas ketidakmampuan negara dalam menjamin kesejahteraan warganya. Aksi damai ini diawali dengan menuliskan keluhan sebagai WNI selama dipimpin oleh Prabowo-Gibran dan memasukannya di kotak sambat kemudian dibacakan oleh MC, acara kemudian dilanjutkan dengan memutarkan video kolaborasi mahasiswa Hubungan Internasional UGM-pekerja ojol perempuan, 10 video yang ditampilkan bercerita tentang isu-isu ketidakadilan yang dihadapi perempuan saat bekerja, selama berjalannya kegiatan aksi damai, para peserta aksi juga membawa makanan secara sukarela untuk dimakan bersama dengan rekan-rekan aksi lainnya serta membunyikan bunyi klakson untuk menarik simpati pengguna jalan sebagai bentuk solidaritas dan rasa lelah menjadi WNI.
Dalam aksi ini juga ada orasi dari perwakilan Wakanda, Sejagad dan AJI (Aliansi Jurnalis Independen). Perwakilan dari Wakanda, yaitu Ibu Wuri selaku pekerja ojol perempuan ia mengatakan bahwa kehidupannya sebagai ojol akhir-akhir ini mengalami banyak kesulitan, selain harus bekerja berjam-jam di jalanan, dampak kebijakan perusahaan ojol juga mempengaruhi pendapatan mereka, misalnya seperti orderan yang tiba-tiba di cancel oleh customer karena tahu drivernya adalah perempuan yang berdampak pada rating performa di aplikasi menurun dan sulit mendapatkan orderan berikutnya, sampai kebijakan “Double Order” hanya mendapatkan Rp.1000-Rp.2000,- yang nilainya tidak seberapa dibanding dengan bensin yang mereka keluarkan saat mengantarkan pesanan tersebut. Belum lagi jika ada driver yang mengalami kecelakaan saat mengantarkan pesanan atau penumpang, semua kerugiannya dibebankan kepada kami para pekerja Ojek Online.
Orasi kemudian dilanjutkan oleh perwakilan Sejagad, yang diwakilkan oleh Mbak Nana dan Nabila, sebagai perwakilan dosen UGM. Mereka berdua mengatakan bahwa aksi ini terus dilanjutkan untuk kedepannya, berharap kedepannya semakin banyak yang bergabung dalam Sejagad, untuk seluruh pekerja yang ada di lingkungan UGM agar dapat menyatukan solidaritas antar pekerja dan menyampaikan aspirasi-aspirasi yang belum terwujud kepada sesama pekerja. Sehingga aksi damai semacam ini menjadi wadah bersama untuk menyampaikan aspirasi tersebut.
Perwakilan dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) ikut menguatkan orasi pada sore hari tersebut, bahwa sebagai seorang jurnalis juga banyak terdapat resiko ketidakadilan dalam melaksanakan tugas, kita bisa melihat kasus wartawan Udin, yang dibunuh oleh pemerintahan Orde Baru tahun 1996, dan hingga kini tidak ada kejelasan penyelesaian dari kasus tersebut. Hal ini membuktikan bahwa berbagai bentuk pelanggaran HAM masih menghantui para rekan-rekan jurnalis sampai detik ini. Ditambah lagi dengan beban pekerjaan yang mengharuskan mereka bekerjasama dengan korporasi karena harus menerbitkan iklan dalam surat kabarnya, membuat kerja jurnalis tidak lagi sesuai pada idealismenya dan harus menjadi budak korporasi karena tidak memiliki pilihan.
Pada aksi ini juga disampaikan tuntutan, yaitu: Mendesak pemerintah melakukan stabilisasi ekonomi dan penyelematan rupiah, mengevaluasi total dan penghentian program pemborosan anggaran (MBG, KDMP, Danantara dll.), menuntut memperbaiki tata kelola pemerintahan (perbaikan kebijakan fiskal), dan menuntut perlindungan Hak Sipil dan HAM. Keempat tuntutan ini adalah nilai tawar untuk perbaikan Indonesia kedepannya, hal ini semestinya sudah dilakukan pemerintah agar tidak terulang kembali di masa depan. Sehingga dampak yang baik juga harusnya dapat dirasakan oleh semua pihak, terutama kepada kaum dan kelas pekerja.
Aksi ditutup pukul 17.30 WIB dengan pembacaan doa, pada aksi ini juga menghadirkan pembacaan puisi yang dibawakan oleh anak-anak dari ibu Wuri, pojok baca, games serta mengambarkan emoticon sebagai WNI pada tempat yang sudah disediakan, harapannya aksi-aksi damai seperti ini dapat terus digelar sebagai suluh pergerakan pada kelas pekerja untuk memperjuangkan nasibnya yang masih diabaikan oleh negara. (Angga Riyon Nugroho)







