Ruminews.id, Yogyakarta – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali membuka lapisan strategi militer yang selama ini tersembunyi. Iran dilaporkan telah membangun jaringan fasilitas bawah tanah raksasa yang dikenal sebagai “kota rudal”, sebuah sistem pertahanan sekaligus serangan yang dirancang untuk tetap bertahan bahkan di tengah gempuran udara berskala besar.
Berbeda dari pendekatan militer konvensional yang mengandalkan dominasi udara, Iran justru mengembangkan kekuatan dari bawah permukaan tanah. Sejak dekade 1990-an, negara ini secara bertahap membangun kompleks terowongan militer di dalam pegunungan, dengan kedalaman mencapai 30 hingga 80 meter. Infrastruktur tersebut dikelola oleh Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) dan menjadi pusat penyimpanan serta operasional berbagai sistem persenjataan strategis.

Di dalam jaringan ini, terowongan panjang membentang hingga puluhan kilometer, dipenuhi rudal balistik, sistem peluncur bergerak, serta silo tersembunyi yang saling terhubung melalui jalur logistik bawah tanah. Iran diketahui menyimpan rudal seperti Ghadr missile dan Emad missile yang memiliki jangkauan hingga sekitar 2.000 kilometer, memungkinkan kemampuan serangan balasan yang cepat dan sulit dilumpuhkan.
Tidak hanya fokus pada rudal, Iran juga membangun pangkalan udara bawah tanah. Salah satu yang paling dikenal adalah Oghab 44, yang terletak di sekitar Strait of Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia. Di dalam fasilitas ini, pesawat tempur seperti F-14 Tomcat dan F-4 Phantom II disimpan, dirawat, diisi bahan bakar, dan bahkan dapat diluncurkan langsung dari “dalam gunung”, menjadikannya hampir mustahil dihancurkan melalui serangan udara konvensional.

Kemampuan militer bawah tanah ini juga terintegrasi dengan perang drone. Iran menyimpan dan menyiapkan peluncuran cepat UAV seperti Shahed dan Arash dari lokasi tersembunyi, memperkuat fleksibilitas serangan tanpa harus bergantung pada pangkalan terbuka. Di wilayah laut, strategi yang dikenal sebagai “mosquito fleet” turut melengkapi sistem ini, dengan mengandalkan kapal-kapal kecil berkecepatan tinggi di Teluk Persia untuk menyerang, menebar ranjau, dan mengganggu kapal perang besar lawan.
Lebih jauh, sejumlah laporan menyebut Iran juga membangun fasilitas umpan dan pangkalan palsu untuk mengecoh satelit pengintai serta sistem intelijen musuh. Taktik ini bertujuan mengalihkan serangan presisi ke target yang tidak penting, sekaligus melindungi infrastruktur utama yang tersembunyi di bawah tanah.
Keseluruhan sistem ini mencerminkan doktrin perang asimetris yang menjadi ciri khas Iran. Sebuah strategi untuk menghadapi kekuatan militer yang lebih unggul secara teknologi dengan cara non-konvensional. Dengan mengandalkan kerahasiaan, operasi intelejen, mobilitas, serta ketahanan infrastruktur bawah tanah, Iran tidak hanya berupaya bertahan, tetapi juga memastikan kemampuan melakukan serangan balasan tetap terjaga dalam situasi paling ekstrem sekalipun.
Di tengah meningkatnya dinamika konflik kawasan, keberadaan “kota rudal” ini menandai perubahan penting dalam lanskap perang modern. Kekuatan tidak lagi semata ditentukan oleh siapa yang menguasai langit, melainkan juga oleh siapa yang mampu bertahan dan menyerang dari tempat yang tidak terlihat.







