20 Agustus 2025

Opini

Mengatasi Fragmentasi Sosial: Strategi Kolaboratif HMI dalam Merajut Gerakan Mahasiswa

ruminews.id, Globalisasi dan era digital seharusnya memberi ruang luas bagiintegrasi sosial, namun kenyataan justru memperlihatkansebaliknya. Di tengah derasnya arus informasi, kita menyaksikanmasyarakat yang semakin terpecah ke dalam kelompok-kelompok homogen. Algoritma media sosial membentuk ruanggema, mempersempit perjumpaan lintas perspektif, dan memperkuat polarisasi. Fragmentasi sosial itu pun merembeshingga ke dunia mahasiswa, kelompok yang seharusnya menjadipelopor integrasi dan pembaharu bangsa. Kita tahu, mahasiswa dalam sejarah Indonesia selalu hadirsebagai penentu arah zaman. Dari Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, hingga Reformasi 1998, suaramahasiswa adalah penanda pergeseran besar dalam perjalananbangsa. Namun hari ini, kita menyaksikan sebuah ironi. Gerakan mahasiswa yang dahulu dipuji sebagai agent of change kinijustru sibuk dengan rivalitas kecil, perebutan isu, dan egoismeorganisasi. Fragmentasi membuat gerakan kehilangan dayapukul kolektifnya, sehingga tak lagi menakutkan bagi penguasa. Demonstrasi bisa dibubarkan, kritik bisa diabaikan, sebab negara tahu suara mahasiswa tidak lagi solid. Kondisi ini tidak lahir begitu saja. Pasca-Reformasi, mahasiswakehilangan musuh bersama yang dahulu merekatkan. Saat Soeharto tumbang, perekat itu lenyap, dan energi kolektif yang sebelumnya terkonsolidasi kini menyebar ke berbagai agenda sektoral. Lebih parah lagi, logika neoliberal mendorongindividualisme, menjadikan banyak mahasiswa lebih fokus pada karier dan kepentingan pribadi ketimbang perjuangan kolektif. Akibatnya, ruang kolaborasi makin menyempit, sementaraprasangka dan perpecahan makin menguat. Ideologi yang seharusnya menjadi arah perjuangan justru seringmenjadi tembok penghalang. HMI dengan identitaskeislamannya, GMNI dengan marhaenismenya, PMKRI denganbasis Katolik, atau KAMMI dengan Islamismenya, masing-masing berjalan sendiri. Perbedaan tafsir yang kaku membuatmereka sulit menemukan titik temu. Padahal, isu-isu besarbangsa seperti ketidakadilan ekonomi, kemunduran demokrasi, hingga krisis iklim adalah masalah struktural yang seharusnyabisa mempersatukan. Alih-alih, kita lebih sering menyaksikanbarisan yang terpecah, aksi-aksi yang tidak berkesinambungan, dan gerakan yang terjebak dalam aktivisme performatif sekadarmencari panggung media. Di tengah situasi ini, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebenarnya memiliki posisi unik. Sejak didirikan oleh Lafran Pane pada 1947, HMI mengemban komitmen ganda: keislamandan keindonesiaan. Komitmen itu memberi legitimasi gandapula: HMI bisa berbicara dengan kelompok religius maupunnasionalis. Lebih jauh, Nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang menjadi landasan ideologis HMI menawarkan kerangkauniversal tentang kemanusiaan, keadilan sosial, dan kemerdekaan manusia. Nilai-nilai ini sejatinya kompatibeldengan Pancasila, Marhaenisme, maupun diskursus hak asasimanusia. Jika digunakan secara tepat, NDP bisa menjadijembatan ideologis yang menyatukan perbedaan antar organisasimahasiswa. Namun HMI tidak bebas dari masalah. Perpecahan historis antara HMI Dipo dan MPO menjadi pengingat bahwa organisasiini juga rentan terhadap tekanan politik. Selain itu, kedekatandengan jaringan alumninya, KAHMI, sering memunculkandilema: di satu sisi memberi akses sumber daya dan kekuasaan, di sisi lain berisiko menyeret HMI dalam kepentingan pragmatiselit. Jika HMI ingin benar-benar menjadi katalis persatuan, iaharus berani menjaga independensinya, tidak membiarkanagenda moral organisasinya tersubordinasi oleh kepentinganpolitik alumni. Di tingkat aliansi, kelompok Cipayung Plus menjadi contohparadoks legitimasi. Forum yang awalnya lahir sebagai wadahkomunikasi antar-Ormek kini justru kerap dituding telahkehilangan taji kritisnya. Kedekatan dengan kekuasaan membuatsebagian publik menilainya terkooptasi, sibuk berfoto denganpejabat ketimbang mengawal isu rakyat. Padahal, akses yang dimiliki Cipayung Plus seharusnya bisa digunakan untukmenyuarakan advokasi yang benar-benar kritis, bukan sekadarlegitimasi bagi penguasa. HMI dalam hal ini punya tanggungjawab moral untuk mendorong reformasi dari dalam: memperjuangkan rotasi kepemimpinan, transparansi audiensi, dan kode etik yang menjaga jarak kritis dari kekuasaan. Jika HMI mampu menjalankan strategi kolaboratif dengankonsisten, ia berpotensi memutus rantai fragmentasi yang melemahkan gerakan mahasiswa. Kolaborasi berbasis nilaimelalui universalisme NDP dapat menjadi dasar dialog lintasideologi. Kolaborasi institusional dapat memperkuat aliansiformal seperti Cipayung Plus sekaligus merangkul masyarakatsipil—dari serikat buruh, lembaga advokasi hukum, hinggaorganisasi lingkungan. Sementara di tingkat kader, budayakolaboratif harus ditanamkan sejak awal melalui kurikulumkaderisasi dan ruang perjumpaan informal yang membangunkepercayaan lintas organisasi. Gerakan mahasiswa kini berada di persimpangan jalan. Jalan pertama adalah tetap berjalan dalam fragmentasi, sibuk denganego dan simbol, hingga makin ditinggalkan publik. Jalan keduaadalah menempuh jalan persatuan, meski terjal, penuh gesekan, tetapi jauh lebih bermakna. HMI memiliki peluang historis untukmemimpin jalan kedua ini, bukan karena merasa superior, melainkan karena modal sejarah dan ideologinyamemungkinkan. Fragmentasi bukan takdir. Ia bisa diatasi jika ada keberanianuntuk membuka ruang dialog, menyingkirkan egoisme, dan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentinganorganisasi. Jika HMI berhasil menjalankan peran itu, ia tidakhanya menyelamatkan dirinya dari stagnasi, tetapi juga memberisumbangsih besar bagi demokrasi Indonesia. Sebab mahasiswa yang bersatu bukan sekadar suara bising di jalanan, melainkanpenentu arah masa depan bangsa.

Daerah, Makassar

FGD Milad ke-21 IPMALUTIM: Sinergi Mahasiswa dan BUMD untuk Kemandirian Daerah

ruminews.id, Makassar, 20 Agustus 2025 – Ikatan Pelajar Mahasiswa Luwu Timur (IPMALUTIM) menggelar Forum Group Discussion (FGD) pada momentum Milad ke-21 di Hotel Max One Makassar dengan tema besar “Narasi Aksi Sinergi.” Acara ini menghadirkan Ittong Sulle, S.T., M.T, Manajer Tambang PT. Luwu Timur Gemilang, sebagai pembicara utama yang memberikan perspektif strategis tentang arah pembangunan daerah melalui peran Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Dalam paparannya, Ittong Sulle, S.T., M.T., menekankan bahwa saat ini daerah menghadapi tantangan besar akibat kebijakan fiskal nasional yang menekan ruang fiskal daerah. Pemangkasan Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) membuat pemerintah daerah harus memutar otak agar tidak hanya bergantung pada transfer pusat. “Di sinilah peran BUMD menjadi ujung tombak. PT. Luwu Timur Gemilang tidak boleh lagi hanya menjadi perusahaan yang fokus pada sektor tambang semata. Kami sedang melakukan transformasi bisnis, mengarahkan strategi perusahaan ke sektor-sektor yang lebih berkelanjutan, inklusif, dan memberi nilai tambah langsung bagi masyarakat Luwu Timur,” jelas Ittong Sulle, S.T., M.T. Ia menjelaskan, salah satu langkah nyata adalah menjajaki potensi ekonomi biru melalui pengembangan rumput laut sebagai komoditas unggulan, penjualan limbah sawit (kernel dan cangkang) untuk kebutuhan industri, serta hilirisasi hasil bumi lokal agar tidak lagi keluar dalam bentuk mentah. Menurutnya, arah baru ini tidak hanya bertujuan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), tetapi juga membuka lapangan kerja, memperkuat rantai nilai lokal, dan menciptakan kemandirian ekonomi masyarakat. “Transformasi ini adalah bagian dari visi Luwu Timur Juara. Kami ingin BUMD hadir bukan sekadar sebagai mesin PAD, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mampu menciptakan peluang usaha, mendorong inovasi, dan menjadi mitra strategis bagi masyarakat serta mahasiswa,” tambahnya. Di hadapan para mahasiswa, Ittong Sulle, S.T., M.T., juga menyampaikan ajakan agar IPMALUTIM berperan aktif dalam mengawal dan memberikan kritik konstruktif. “Mahasiswa adalah mitra strategis. Dengan kapasitas intelektual, riset, dan idealisme yang dimiliki, mahasiswa bisa menjadi pengawas sekaligus mitra dialog untuk memastikan bahwa arah pembangunan BUMD dan kebijakan daerah benar-benar berpihak pada rakyat,” tegasnya. Sementara itu, Ketua Umum PP IPMALUTIM, Haikun Candra, menegaskan bahwa Milad ke-21 ini menjadi momentum bagi mahasiswa untuk berkontribusi lebih nyata. “Milad bukan hanya perayaan, tetapi ruang untuk mengokohkan sinergi. Kami akan terus hadir sebagai mitra kritis, namun juga solutif, demi pembangunan Luwu Timur yang berkelanjutan. Terima kasih banyak kami ucapkan kepada BUMD Luwu Timur, khususnya PT. Luwu Timur Gemilang, atas dukungan penuh terhadap kegiatan ini. Dukungan ini adalah bukti nyata komitmen bahwa pembangunan daerah tidak bisa dikerjakan sendiri, tetapi harus melalui kebersamaan,” ungkap Haikun. FGD ini menghasilkan berbagai masukan dari mahasiswa yang menekankan pentingnya hilirisasi sumber daya lokal, inovasi bisnis daerah, serta transparansi pengelolaan BUMD. Semua sepakat bahwa sinergi antara pemerintah, BUMD, dan mahasiswa adalah jalan bersama menuju Luwu Timur yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan.

Opini

Bone Memanas: Pajak dan Luka Sosial Bergema dalam dengungan masyarakat

ruminews.id, Kebijakan Pemerintah Kabupaten Bone terkait penyesuaian Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) menimbulkan keresahan luas di tengah masyarakat. Dasar penyesuaian yang merujuk pada Zona Nilai Tanah (ZNT) dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) memang disebutkan karena nilai tanah terakhir diperbarui 14 tahun yang lalu. Namun kenyataannya, kenaikan hingga 300% di lapangan sangat membebani rakyat, terutama di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang belum stabil. Kekecewaan semakin besar ketika pemerintah daerah terkesan absen berdialog dengan masyarakat, terutama ketika Bupati Bone yang merupakan putra asli daerah tidak hadir menemui massa aksi. Sikap DPRD Kabupaten Bone yang terlihat menyetujui kebijakan kenaikan ini juga menambah luka kepercayaan publik terhadap lembaga perwakilan rakyat. Aspirasi rakyat seperti tidak mendapat ruang yang adil untuk didengar. Hal ini memicu aksi unjuk rasa yang berlangsung secara besar-besaran di pusat kota, dan berujung pada bentrokan antara massa aksi dan aparat keamanan. Beberapa demonstran bahkan diamankan dan dibawa ke kantor polisi. Kondisi ini menandakan adanya kegagapan pemerintah daerah dalam merespons keresahan masyarakat. Setelah situasi memanas, barulah muncul pernyataan resmi bahwa kenaikan PBB-P2 akan ditunda dan dikaji ulang. Namun, penundaan ini dianggap sebagai keputusan yang sangat terlambat dan tidak menjawab substansi penolakan rakyat. Sebab penundaan bukan berarti pencabutan. Masyarakat bertanya, mengapa pemerintah harus menunggu adanya pertumpahan darah dan bentrokan fisik terlebih dahulu sebelum menyatakan penundaan? Ini memperlihatkan bahwa suara rakyat baru didengar setelah situasi chaos terjadi. Lebih dari itu, penundaan menyimpan potensi untuk tetap dilanjutkan di waktu lain sehingga rasa waswas publik tetap ada. Secara budaya, peristiwa ini mencederai jiwa pangadereng dan falsafah bugis, sipakatau, sipakainge’, sipakalebbi yang menjadi napas kehidupan masyarakat Bone. Nilai budaya Bone tidak hanya mengatur adab, tetapi juga menuntut pemimpin untuk menjunjung tinggi etika kepemimpinan yang berpihak kepada rakyat. Dalam konteks itu, keputusan sepihak yang memicu bentrokan massa jelas bertentangan dengan filosofi kepemimpinan Bugis yang mengedepankan keadilan dan rasa malu ketika rakyat menderita. Bone dikenal melahirkan banyak tokoh besar, namun hari ini masyarakat bertanya ke mana suara mereka ketika rakyat kecil menjerit menghadapi beban pajak. Saya, Adrian Hidayat, mahasiswa Sistem Informasi Universitas Hasanuddin dan juga putra asli Bone, merasa prihatin dan terpanggil menyuarakan kegelisahan ini. Ketimpangan sosial dan ekonomi di Bone sudah sangat nyata, dan kebijakan kenaikan PBB-P2 hanya akan memperdalam jurang tersebut. Jika alasan penyesuaian pajak adalah modernisasi dan pembaruan data perlu adanya kepekaan sosial, bukan dengan cara yang mengabaikan rakyat hingga timbul bentrokan. Untuk itu, masyarakat tidak hanya menuntut penundaan, tetapi pencabutan penuh kebijakan kenaikan tersebut. Pemerintah daerah perlu membuka ruang dialog secara terbuka, melibatkan tokoh adat, tokoh masyarakat, mahasiswa sebagai penjaga moral masyarakat Bone. Hanya dengan cara itu, kehormatan budaya Bone dan rasa keadilan sosial dapat dikembalikan. Penundaan tanpa keberpihakan adalah siasat sementara; sedangkan keadilan dan keberpihakan kepada rakyat harus menjadi sikap permanen dalam setiap kebijakan publik.

Daerah, Makassar

Forum Pemerhati Keselamatan dan Kesehatan Kerja (FPK3) Laporkan Kasus Fatality di PT Comextra Majora ke Disnaker Sulsel

ruminews.id – Makassar, 20 Agustus 2025 – Forum Pemerhati Keselamatan dan Kesehatan Kerja (FPK3) resmi menyerahkan surat aduan ke Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Provinsi Sulawesi Selatan, terkait peristiwa fatality yang menimpa salah seorang pekerja di perusahaan pengolahan biji kakao, PT Comextra Majora, Makassar. Sulhadrian selaku Ketua FPK3, dalam keterangannya, menyampaikan bahwa pelaporan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian atas keselamatan kerja buruh yang kerap kali diabaikan oleh perusahaan. Menurutnya, kasus kecelakaan kerja yang berujung pada kehilangan nyawa harus ditangani secara serius dan transparan oleh pihak berwenang. “Insiden fatality ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Kami meminta Disnaker Sulsel turun tangan melakukan investigasi menyeluruh, menindak pihak perusahaan apabila terbukti lalai, serta memastikan hak-hak pekerja dan keluarga korban terpenuhi,” tegas Sulhadrian Ketua FPK3. Dalam aduannya, FPK3 menekankan bahwa perusahaan memiliki kewajiban penuh menjamin standar keselamatan kerja sesuai regulasi yang berlaku, termasuk Undang-Undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja serta Peraturan Menteri Ketenagakerjaan terkait Sistem Manajemen K3 (SMK3). Disnaker Provinsi Sulsel sendiri telah menerima surat resmi aduan tersebut dan berjanji segera menindaklanjutinya dengan melakukan pemeriksaan ke lapangan. FPK3 berharap, kasus ini menjadi momentum bagi semua perusahaan di Sulawesi Selatan untuk lebih serius dalam menerapkan standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), agar insiden serupa tidak kembali terulang

Scroll to Top