31 Mei 2025

Makassar, Olahraga

Bupati Barru dan Putra Daerah Barru Ikut Kegiatan MHM 2025

ruminews.id- Makassar, Ribuan peserta meramaikan ajang Makassar Half Marathon (MHM) 2025 yang digelar pada Sabtu pagi (31/5/2025), dengan titik start di Anjungan Pantai Losari, Makassar. Di antara peserta, tampak Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, S.H., M.Si., dan Putra Daerah Barru, Andi Ikram Rifqi, yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang 8 BPD HIPMI Sulsel, ikut serta dalam kategori lari 5 kilometer (5K). Rute lomba melintasi sejumlah jalan protokol kota, di antaranya Jl Nusantara, Jl Sulawesi, dan Jl Jenderal Ahmad Yani, dan berakhir di depan Balai Kota Makassar. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian agenda olahraga tahunan Kota Makassar yang bertujuan mendorong partisipasi publik dalam aktivitas fisik terbuka sekaligus membangun semangat kebersamaan. Selain sebagai ajang olahraga, MHM juga menjadi sarana edukasi akan pentingnya gaya hidup sehat dan aktif di tengah masyarakat. Dalam keterangannya, Bupati Barru Andi Ina Kartika Sari menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan ini sebagai bentuk sinergi antardaerah melalui olahraga. “Kami hadir bukan hanya untuk berlari, tetapi juga untuk memperkuat koneksi sosial lintas daerah. Kegiatan seperti ini sangat positif dalam membangun kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan dan semangat kebersamaan,” ungkapnya usai menyelesaikan rute. Senada dengan itu, Andi Ikram Rifqi menilai MHM sebagai ajang yang tepat untuk mendorong keterlibatan aktif generasi muda. “Ini bukan hanya soal olahraga, tetapi soal bagaimana kita, sebagai pemuda daerah, ikut serta dalam gerakan positif dan inspiratif. Harapannya, lebih banyak pemuda yang terdorong untuk terlibat dalam kegiatan produktif dan menyehatkan seperti ini,” tuturnya. Ajang ini diikuti peserta dari berbagai latar belakang, termasuk komunitas lari, pelajar, tokoh publik, hingga pelari dari luar daerah. Pelaksanaan kegiatan berlangsung tertib dan lancar, dengan pengawalan dari aparat kepolisian dan panitia pelaksana. Masyarakat pun turut antusias menyambut dan menyemangati para pelari di sepanjang rute, menciptakan suasana yang semarak dan penuh energi. Makassar Half Marathon 2025 tidak hanya menjadi momentum olahraga, tetapi juga memperkuat pesan penting mengenai hidup aktif, keterlibatan sosial, dan promosi potensi daerah. Partisipasi tokoh publik dalam kegiatan seperti ini diharapkan menjadi contoh positif yang dapat menginspirasi masyarakat luas, khususnya generasi muda.

Opini

Dari Hierarki Menuju Kolaborasi: Redefinisi Peran Profesi Kesehatan

ruminews.id – Di tengah derasnya arus modernisasi sistem kesehatan global, Indonesia masih kerap dihadapkan pada warisan paradigma lama yang belum sepenuhnya ditinggalkan. Salah satunya adalah anggapan bahwa perawat hanyalah “pesuruh dokter”. Pernyataan seperti ini bukan sekadar menyakitkan bagi insan keperawatan, namun juga menandakan miskonsepsi mendasar tentang bagaimana pelayanan kesehatan seharusnya dibangun yakni melalui kolaborasi, bukan subordinasi. Model pelayanan kesehatan berbasis hierarki vertikal, di mana satu profesi mendominasi yang lain, sudah lama dikritik karena tidak efektif dalam menjawab kompleksitas kebutuhan pasien modern. Kini, dunia kesehatan bergerak menuju interprofessional collaborative practice sebuah pendekatan yang menempatkan setiap profesi kesehatan sebagai mitra sejajar dengan kontribusi unik dan tanggung jawab profesional masing-masing. Bukan Pembantu, Tapi Profesional Keperawatan, misalnya, bukan sekadar “membantu dokter”, tetapi sebuah profesi dengan ilmu, filosofi, dan metode praktik sendiri. Dari Florence Nightingale yang memperkenalkan praktik keperawatan berbasis kebersihan dan lingkungan, hingga Jean Watson yang menekankan pada filosofi caring, keperawatan telah berkembang menjadi pilar penting dalam pelayanan kesehatan modern. Dengan pendekatan holistik bio-psiko-sosio-spiritual, perawat bertugas memberikan asuhan keperawatan yang berkesinambungan selama 24 jam, melakukan penilaian mandiri, mengambil keputusan klinis, dan memberikan edukasi kesehatan. Mengabaikan fungsi otonom perawat tidak hanya merendahkan martabat profesi, tapi juga menghambat terbentuknya sistem layanan yang efektif. Hal serupa berlaku untuk profesi lain seperti apoteker dengan kompetensinya dalam farmakoterapi, tenaga kesehatan masyarakat dalam promotif dan preventif, serta fisioterapis dalam rehabilitasi fungsional. Setiap profesi memiliki body of knowledge, scope of practice, dan tanggung jawab profesional yang tidak bisa digantikan oleh profesi lain. Kolaborasi Dimulai dari Bangku Pendidikan Transformasi sistem kesehatan sejatinya harus dimulai dari pendidikan. Salah satu contoh baik adalah kehadiran Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (LKMI), yang menghimpun mahasiswa dari berbagai disiplin kedokteran, keperawatan, kedokteran gigi, farmasi, hingga kesehatan masyarakat dalam satu wadah kolaboratif. Ini membuktikan bahwa kesadaran akan pentingnya kolaborasi sudah mulai tertanam sejak dini, dan perlu terus diperkuat agar menjadi budaya kerja di masa depan. Kolaborasi interprofesional bukan sekadar idealisme, melainkan kebutuhan nyata. Studi-studi menunjukkan bahwa tim kesehatan yang kolaboratif menghasilkan outcome klinis yang lebih baik,komunikasi yang lebih efektif, dan kepuasan pasien yang lebih tinggi. Dalam konteks ini, peran setiap profesi bukan untuk “membantu” satu sama lain dalam konteks subordinatif, melainkan untuk saling melengkapi dalam pelayanan yang terintegrasi. Membangun Sistem Kesehatan Tanpa Feodalisme Profesi Kini saatnya meninggalkan feodalisme profesi dalam sistem kesehatan. Profesionalisme sejati tidak lahir dari jabatan, tetapi dari akuntabilitas, kompetensi, dan komitmen bersama terhadap kesehatan masyarakat. Kita tidak lagi bertanya, “Siapa membantu siapa?” tetapi “Bagaimana kita berkolaborasi memberikan yang terbaik untuk pasien?” Mengembalikan martabat profesi kesehatan termasuk perawat berarti juga memperjuangkan sistem kesehatan yang lebih adil, manusiawi, dan efektif. Redefinisi peran profesi kesehatan dari model hierarkis ke model kolaboratif bukan hanya soal etika profesi, tetapi juga tentang masa depan layanan kesehatan Indonesia.

Scroll to Top