1 Februari 2025

Opini

DeepSeek Mengguncang Big-Tech As !

ruminews.id – Analysis of trends, strengths and barrier the Ai industry Kemunculan DeepSeek, model kecerdasan buatan (AI) asal China, telah menyebabkan penurunan signifikan pada nilai saham beberapa perusahaan teknologi besar Amerika Serikat AS pada 27 Januari 2025, Nvidia mengalami penurunan nilai pasar terbesar dalam sejarah Wall Street, kehilangan sekitar $589 miliar dalam satu hari. Selain itu, sektor teknologi AS secara keseluruhan mengalami kerugian lebih dari $1 triliun pada hari yang sama. Perusahaan-perusahaan lain seperti Apple, Microsoft, Alphabet (Google), Amazon, dan Meta juga mengalami penurunan nilai saham, meskipun tidak sebesar Nvidia. Penurunan ini dipicu oleh peluncuran asisten AI gratis dari DeepSeek, yang diklaim memiliki biaya jauh lebih rendah dibandingkan teknologi AI yang ada saat ini. Apakah ini bagian dari kelanjutan perang brutal di sektor industry teknologi AS -China? Apakah dominasi As akan runtuh oleh kecepatan china dalam merespon persaingan teknolgi global? Berdasarkan tren eksponensial perkembangan AI di AS dan China, kemungkinan China melampaui AS dalam pengembangan AI bukanlah hal yang mustahil. Namun, ada beberapa faktor utama yang menentukan apakah China bisa benar-benar mengungguli AS: Kekuatan dan hambatan AS dan China dalam Industri Ai Kekuatan As dalam industri ini misalnya, Ekosistem Riset Kuat: Universitas seperti MIT, Stanford, dan Harvard menjadi pusat inovasi AI.kemudian Perusahaan Teknologi Unggulan: OpenAI, Google DeepMind, Microsoft, dan Tesla terus memimpin dalam pengembangan model AI canggih.serat dominasi dalam Hardware: AS menguasai teknologi chip AI (NVIDIA, AMD) dan infrastruktur komputasi cloud yang lebih maju. Namun hambatan juga mengahantui industry ini misalnya Regulasi Ketat, AS semakin ketat dalam regulasi AI, yang bisa memperlambat inovasi dan ketergantungan pada Private Sector dimana banyak inovasi AI dikembangkan oleh perusahaan swasta, bukan pemerintah, sehingga fokusnya lebih ke profit daripada strategi nasional jangka panjang. Kekuatan china dalam industri ini misalnya dukungan Pemerintah yang Kuat Dimana China memiliki strategi nasional yang agresif untuk AI, dengan target menjadi pemimpin dunia pada 2030. Ditambah dengan Data dalam Jumlah Besar, Dengan populasi 1,4 miliar dan sistem pemantauan digital yang luas, China memiliki akses data yang jauh lebih besar untuk melatih model AI, serta peningkatan Cepat dalam Hardware Meski AS membatasi ekspor chip AI (NVIDIA), China semakin maju dalam mengembangkan alternatif seperti chip AI buatan Huawei dan SMIC. Namiun china juga memiliki hambatan misalnya kurangnya Kreativitas dalam R&D AI di China lebih banyak fokus pada aplikasi praktis daripada inovasi fundamental yang benar-benar baru serta sanksi dan Hambatan Teknologi, AS terus berupaya menghambat akses China terhadap teknologi semikonduktor canggih. Tren Eksponensial: Siapa yang Lebih Cepat? Investasi AI China tumbuh lebih cepat: Dalam beberapa tahun terakhir, investasi China dalam AI meningkat lebih dari 50% per tahun, sementara AS tumbuh sekitar 30% per tahun. Kualitas vs. Kuantitas: AS masih unggul dalam inovasi fundamental (seperti GPT-4 dan Sora), sementara China lebih fokus pada penerapan AI di sektor industri, militer, dan pengawasan. Regulasi AS bisa memperlambat inovasi: Jika regulasi AI di AS terlalu ketat, China bisa mengejar dan melewati AS dalam beberapa dekade ke depan. Kesimpulan: Apakah China Bisa Mengalahkan AS? ✔ Dalam jangka pendek (5-10 tahun), AS kemungkinan besar masih akan memimpin karena keunggulan dalam hardware dan model AI tercanggih. ✔ Dalam jangka menengah hingga panjang (10-20 tahun), jika China berhasil mengatasi hambatan teknologi dan meningkatkan inovasi fundamental, mereka berpotensi mengejar atau bahkan melewati AS dalam beberapa aspek AI. ✔ Jika tren eksponensial China terus berlanjut, mereka bisa mengungguli AS dalam penerapan AI di sektor militer, industri, dan ekonomi digital, tetapi inovasi murni (fundamental research) mungkin tetap didominasi AS. Faktor penentu terbesar adalah apakah China bisa mandiri dalam teknologi chip AI dan apakah AS tetap mempertahankan keunggulan dalam riset fundamental. Jika China bisa mengejar di kedua aspek ini, maka dominasi AS dalam AI bisa terancam. Di sisi lain India telah menunjukkan komitmen yang kuat dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI), termasuk pengembangan chatbot yang sebanding dengan ChatGPT misalnya Haptik, Perusahaan yang berbasis di Mumbai ini telah mengembangkan berbagai chatbot AI untuk layanan pelanggan, penjualan, dan dukungan teknis, kemudian ada Yellow.ai didirikan di Bangalore menawarkan platform chatbot AI yang digunakan oleh berbagai perusahaan untuk otomatisasi layanan pelanggan dan interaksi dengan pengguna , lalu ada Niki.ai Berbasis di Bengaluru, mengembangkan chatbot AI yang membantu pengguna dalam berbagai tugas, seperti pembelian online dan pembayaran tagihan, melalui antarmuka percakapan yang sederhana. Selain itu, pemerintah India telah meluncurkan inisiatif IndiaAI Mission dengan investasi sebesar $1,25 miliar untuk mendorong pengembangan startup AI dan infrastruktur AI domestik. Inisiatif ini bertujuan untuk memfasilitasi pengembangan model bahasa besar (LLM) dan aplikasi AI lainnya yang dapat bersaing dengan platform seperti ChatGPT. Lalu di Indonesia bagaimana dengan perkembangan Ai? Eitss…tunggu dulu, energi anak bangsa kita sibuk dengan pagar laut yang tak kunjung selesai.

Opini

Tips Dunia Kerja Bagi Gen Z.

ruminews.id – Corey Seemiller, Ph.D dikenal sebagai “The Gen Z Speaker” karena reputasinya yang luas sebagai pembicara dan ahli dalam memahami karakteristik dan perilaku Generasi Z. Dr. Corey Seemiller melakukan penelitian berbasis data survei dan analisis tren, bekerjasama dengan mahasiswa dan akademisi untuk memahami bagaimana Generasi Z berpikir, belajar, dan berinteraksi dengan dunia. Gen Z adalah generasi pertama yang tumbuh dalam dunia yang sangat terdigitalisasi, dengan internet dan media sosial sebagai bagian integral dari kehidupan sehari-hari mereka, sehingga sering disebut iGen atau Zoomers. Meskipun ada sedikit perbedaan dalam rentang tahunnya, sebagian besar penelitian sepakat bahwa Gen Z adalah generasi yang lahir setelah Millennial (1981 – 1996) dan sebelum Generasi Alpha (2010 ke atas). Dan yang paling sering disebut adalah mereka lahir pada rentang tahun 1997 – 2012. Menurut Dr. Seemiller, berbeda dengan generasi sebelumnya, yang mengalami transisi antara dunia analog dan digital, Generasi Z adalah “digital natives” sejati yang sejak lahir sudah terbiasa dengan internet, media sosial, dan perangkat teknologi lainnya. Mereka memiliki akses yang sangat cepat dan mudah terhadap informasi, serta mengandalkan teknologi untuk mencari solusi dari berbagai masalah yang mereka hadapi. Salah satu karakteristik utama Generasi Z adalah kemandirian mereka dalam mencari informasi dan solusi. Mereka lebih suka mengandalkan perangkat teknologi untuk memecahkan masalah, baik itu melalui pencarian di Google, mengikuti tutorial di YouTube, atau bergabung dalam forum-forum diskusi online. Selain itu, Generasi Z juga dikenal lebih realistis dan praktis dalam hal keuangan. Mereka sangat berhati-hati dalam mengelola uang, mengingat pengaruh dari krisis ekonomi yang mereka saksikan sejak kecil. Banyak dari mereka yang lebih memilih untuk berwirausaha atau mencari cara alternatif untuk menghasilkan uang tanpa mengandalkan utang. Selain itu, Generasi Z memiliki tingkat kepedulian yang tinggi terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan diri. Mereka lebih terbuka untuk membicarakan masalah kesehatan mental dan cenderung menganggap terapi atau konseling sebagai hal yang positif dan dibutuhkan. Isu seperti stres, kecemasan, dan depresi yang dipicu oleh tekanan sosial atau media sosial menjadi perhatian besar bagi mereka. Generasi Z dikenal sebagai purpose-driven generation, yang berarti mereka mencari pekerjaan atau kegiatan yang tidak hanya memberikan penghasilan tetapi juga memiliki makna dan dampak sosial. Mereka lebih tertarik untuk bekerja di tempat yang mendukung nilai-nilai yang mereka percayai, seperti keberlanjutan lingkungan atau keadilan sosial. Mereka juga menginginkan fleksibilitas dalam bekerja, seperti pekerjaan jarak jauh atau jam kerja yang fleksibel, yang memungkinkan mereka untuk menyeimbangkan kehidupan pribadi dan pekerjaan dengan lebih baik. Generasi Milenial, yang lahir antara tahun 1981 hingga 1996, memiliki pandangan yang unik terhadap pekerjaan. Mereka cenderung melihat pekerjaan sebagai bagian dari identitas diri mereka. Bagi mereka, pekerjaan bukan sekadar untuk mencari penghasilan, tetapi juga untuk menemukan makna dan tujuan. Milenial termotivasi oleh peluang untuk mencapai tujuan yang lebih besar, mendapatkan pengakuan atas pencapaian mereka, serta bekerja dalam tim dan berkolaborasi. Mereka juga sangat menghargai teknologi dan inovasi, dan cenderung ingin mendapatkan umpan balik secara teratur untuk mengetahui apakah mereka berada di jalur yang benar dalam pekerjaan mereka. Sementara itu, Generasi Z memiliki pandangan yang sedikit berbeda terhadap pekerjaan. Bagi mereka, pekerjaan adalah tempat untuk mengekspresikan diri dan membuat dampak sosial. Mereka sangat menghargai kesempatan untuk berkembang secara profesional, tetapi juga sangat memperhatikan stabilitas finansial dan keamanan dalam pekerjaan mereka. Sebagai generasi yang tumbuh dengan teknologi, mereka sangat terbiasa dengan dunia digital dan memanfaatkannya dalam segala hal, termasuk dalam pekerjaan mereka. Generasi Z juga sangat menghargai keragaman dan inklusi, serta cenderung lebih pragmatis dan realistis dalam pendekatan mereka terhadap dunia kerja. Oleh sebab itu, berikut tips bagi gen Z yang baru memasuki dunia kerja, agar dapat lebih efektif mengelola tekanan kerja dan menjaga kesejahteraan mental sekaligus memberdayakan diri: 1. Kembangkan Keterampilan Kepemimpinan Meskipun mungkin Anda baru memulai, penting untuk mulai mengembangkan kemampuan kepemimpinan. Ini tidak hanya tentang memimpin orang lain, tetapi juga memimpin diri sendiri dalam pekerjaan. Mulailah dengan belajar bagaimana berkomunikasi dengan jelas, bekerja dalam tim, dan mengambil inisiatif. 2. Pahami Karakteristik Generasi Z Anda sudah memiliki kelebihan, yaitu memahami karakteristik diri sendiri sebagai Generasi Z. Ini termasuk kemampuan untuk beradaptasi dengan cepat terhadap teknologi, mencari pekerjaan yang bermakna, dan mengutamakan keseimbangan hidup. Memahami ini akan membantu Anda bekerja dengan lebih efektif. 3. Terus Belajar dan Beradaptasi Dunia kerja selalu berubah, jadi sangat penting untuk terus belajar dan menyesuaikan diri. Ambil kesempatan untuk mengembangkan keterampilan baru, baik itu melalui pelatihan di tempat kerja, kursus online, atau pengalaman sehari-hari. Dengan begitu, Anda bisa tetap relevan dan berkembang dalam karir Anda. 4. Tetapkan Harapan yang Realistis Penting untuk menetapkan harapan yang realistis mengenai apa yang dapat Anda capai dalam waktu tertentu. Hindari menetapkan standar yang terlalu tinggi yang dapat menyebabkan stres berlebihan. 5. Manfaatkan Teknologi untuk Manajemen Tugas Gunakan alat digital seperti aplikasi manajemen tugas atau asisten AI untuk membantu mengatur dan memprioritaskan pekerjaan Anda. Ini dapat membantu Anda tetap terorganisir dan mengurangi perasaan kewalahan. 6. Ambil Istirahat Secara Teratur Luangkan waktu untuk istirahat singkat selama jam kerja. Berjalan-jalan sejenak atau melakukan peregangan dapat membantu meredakan ketegangan dan meningkatkan konsentrasi. 7. Berkomunikasi dengan Rekan Kerja dan Atasan Jika Anda merasa kewalahan, bicarakan dengan rekan kerja atau atasan Anda. Mereka mungkin dapat memberikan dukungan atau membantu menyesuaikan beban kerja Anda. 8. Praktikkan Teknik Relaksasi Luangkan waktu untuk teknik relaksasi seperti pernapasan dalam. Anda juga bisa rutin mendirikan shalat dengan khusyuk. Ini dapat membantu menenangkan pikiran dan mengurangi stres. 9. Tetap Terhubung dengan Teman dan Keluarga Dukungan sosial sangat penting. Luangkan waktu untuk berinteraksi dengan teman dan keluarga untuk mendapatkan dukungan emosional yang Anda butuhkan. @pakarpemberdayaandiri Ayo Gabung Komunitas Pakar Pemberdayaan Diri Untuk Pemograman Pikiran dan Tubuh dengan klik: https://tribelio.page/syahril-syam #thesecretofattractorfactor #changelimitingbeliefs #pakarpemberdayaandiri #SelfAwarenessTransformation

Hukum, Politik

14 Kepala Daerah Sulawesi Selatan Batal Dilantik Serentak Akibat Sengketa Pilkada

ruminews.id – Makassar, 31 Januari 2025 — Sebanyak 14 pasangan calon kepala daerah terpilih di Sulawesi Selatan yang semula dijadwalkan dilantik serentak pada 6 Februari 2025 terpaksa batal dilantik pada tanggal tersebut. Penundaan ini disebabkan oleh adanya sengketa hasil pemilihan yang masih berproses di Mahkamah Konstitusi (MK). Penjabat Gubernur Sulawesi Selatan, Fadjry Djufry, menyatakan bahwa pelantikan serentak hanya berlaku bagi pasangan calon yang tidak menghadapi sengketa di MK. “Pelantikan serentak ini hanya untuk hasil pilkada yang tidak disengketakan di Mahkamah Konstitusi,” ujar Fadjry Djufry. Di Sulawesi Selatan, terdapat 14 pasangan calon terpilih yang telah menyelesaikan seluruh tahapan penetapan tanpa sengketa. Namun, untuk daerah yang masih menghadapi sengketa hasil pemilihan di MK, pelantikan akan dilaksanakan setelah proses hukum selesai. Fadjry menegaskan bahwa pelantikan bagi daerah bersengketa kemungkinan besar baru akan digelar pada 16 April 2025 karena proses hukum diperkirakan selesai setelah Ramadan. Daerah yang masih bersengketa di MK antara lain Makassar, Parepare, Palopo, Takalar, Pangkep, Jeneponto, Pinrang, Toraja Utara, Bulukumba, dan Selayar. Sengketa hasil Pilkada ini juga termasuk pemilihan gubernur Sulsel. Sebelumnya, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bersama Menteri Dalam Negeri (Mendagri), KPU, Bawaslu, dan DKPP RI telah menyepakati untuk merevisi Peraturan Presiden Nomor 80 Tahun 2024 tentang Tata Cara Pelantikan Kepala Daerah. Hal ini ditetapkan melalui rapat kerja dan rapat dengar pendapat pada 22 Januari 2025. Dengan adanya penundaan ini, masyarakat diharapkan untuk bersabar menunggu proses hukum yang sedang berlangsung demi memastikan kepemimpinan daerah yang sah dan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Scroll to Top