13 Januari 2025

hmi
Opini

Pemilik mayapada diduga kuat melakukan kejahatan Perbankan, PB HMI : Ini Kejahatan Internasional, Meminta Kejagung dan Mabes Polri mengusut tuntas

ruminews.id Indonesia adalah sebuah negara dengan proses perekonomian yang begitu sangat majemuk, dengan 260.000.000 penduduk dari Sabang sampai Merauke dan Miangas sampai Pulau Rote. Proses perputaran ekonomi Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak terlepas dari berbagai kemampuan tata Kelola dan potensi proses pengembangan ekonomi kerakyatan. Perbankan adalah lembaga keuangan yang membantu menghimpun serta menyalurkan dana masyarakat. Adapun sejarah perbankan di Indonesia bermula dari tahun 1746 ketika VOC mendirikan De Bank van Leening. Perbankan adalah lembaga keuangan yang ada untuk mengelola, menghimpun, serta menyalurkan uang masyarakat. Adapun sejarah perbankan di Indonesia telah ada jauh sebelum merdeka. Perbankan tersebut bermula dari tahun 1746 ketika VOC mendirikan De Bank van Leening, yakni suatu bank yang bertujuan untuk mempermudah aktivitas perdagangan di Indonesia. Sayangnya, bank tersebut tidak beroperasi dengan baik sampai akhirnya gulung tikar. Sekitar 6 tahun berikutnya, VOC kembali mendirikan perbankan dengan nama De Bank Courant en Bank van Leening. ada masa penjajahan Belanda, pemerintah mendirikan sejumlah bank, seperti De Javasche Bank, Hulp en Spar Bank, Nederland Handles Maatschappij, dan lainnya. De Javasche Bank tersebut yang menjadi cikal bakal dari Bank Indonesia. Akhir-akhir ini Indonesia dihebohkan dengan adanya dugaan Kejahatan Perbankan yang dilakukan pendiri dan sekaligus Komisaris Utama Bank Mayapada. Kasus ini mencuat setelah Ted Sioeng, terdakwa kasus penggelapan dan penipuan, menuding Dato’ Sri Tahir sebagai aktor intelektual di balik permasalahan keuangannya dengan bank tersebut. Ternyata, Anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat RI pernah mendesak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menindaklanjuti pengakuan Ted Sioeng, debitur Bank Mayapada yang mengaku setor sejumlah dana ke pemilik bank, Dato’ Sri Tahir. Hal ini merupakan praktik ‘Bank dalam Bank’ yang menjadi tugas OJK untuk mengawasinya. Dalam eksepsi yang dibacakan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Ted Sioeng mengungkap bahwa pinjaman sebesar Rp70 miliar yang ia peroleh dari Bank Mayapada pada tahun 2014 digunakan untuk membeli apartemen milik Dato’ Sri Tahir di Singapura. Pinjaman tersebut, menurut Ted, diberikan atas saran dan dorongan Dato’ Sri Tahir, bahkan tanpa melalui prosedur perbankan yang seharusnya. Hal ini, menurutnya, memperlihatkan adanya konflik kepentingan antara hubungan pribadi dan pengelolaan lembaga keuangan. Terkuaknya dugaan penyimpangan kredit di Bank Mayapada ini, berawal dari pengusaha Ted Sioeng mendapat fasilitas kredit sebesar Rp1,3 triliun, selama 7 tahun (2014-2021). Dinilai tidak menjalankan kewajiban, Bank Mayapada menyita aset Ted serta mempolisikannya. Selanjutnya, Ted bersama putrinya, ditetapkan sebagai tersangka. Ted pernah juga melayangkan surat kepada Menkopolhukam Mahfud MD saat itu. Dia menyampaikan adanya setoran untuk Dato Sri Thahir, selaku pemilik Bank Mayapada yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Angkanya mencapai Rp525 miliar. Bank Mayapada telah menetapkan Ted sebagai debitur yang tidak patuh, namun terus diguyur kredit selama 7 tahun. Tentu saja, cukup aneh. Apakah ada kaitannya dengan kick back Rp525 miliar itu? Nah, keganjilan-keganjilan ini harus dibuka OJK sampai tuntas. Sejatinya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pernah mengaudit pengawasan OJK terhadap perbankan pada 2017-2019. Temuannya, Bank Mayapada berkali-kali mengguyur kredit kepada para debitur bermasalah. Angka kreditnya mencapai Rp4,3 triliun. Selain itu, BPK menemukan Bank Mayapada sering melanggar batas maksimum kredit terhadap 4 korporasi. Jumlahnya mencapai Rp23,56 triliun. Anehnya, OJK diam saja. Tak ada sanksi apalagi upaya menyelidiki lebih jauh pelanggaran ini. Sehingga Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam Melalui Muhamad Arsyi Jailolo selaku Ketua Bidang Hubungan Internasional, menegaskan bahwa Dugaan kasus di Bank Mayapada ini adalah Kejahatan Perbankan dan Kejahatan Perbankan dapat tergolong Kejahatan Internasional juga, apabila melibatkan nasabah lintas negara, Tindak pidana perbankan diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan dan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU PPSK) Merupakan perbuatan melawan hukum yang berkaitan dengan perbankan. Kejahatan perbankan dapat merugikan perbankan, nasabah, atau pihak ketiga lainnya. Jelas Mahasiswa Doktoral Ilmu Hukum Univeristas Padjadjaran Muhammad Arsyi Jailolo. Illegal Bank adalah tindak pidana di bidang perbankan yang diatur dalam Pasal 46 UU PPSK. Dalam pasal tersebut diatur bahwa setiap orang atau badan hukum yang berbentuk perseroan terbatas, perserikatan, yayasan atau koperasi dilarang untuk menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan tanpa izin usaha dari Pimpinan Bank Indonesia. Arsyi Jailolo menambahkan, dengan adanya dugaan kasus perbankan di Bank Mayapada, kami meminta Bapak Presiden Prabowo melalui Kejaksaan Agung untuk menuntaskan kasus-kasus kejahatan Perbankan dan juga seharusnya Otoritas Jasa Keuangan Menjalankan fungsinya sebagai pengawas untuk Lembaga pengelolaan keuangan, atensi Bapak Presiden dan DPR-RI harus ada dalam kasus-kasus seperti ini. Jika memang Komisaris Bank Mayapada ini terbukti melakukan kejahatan perbankan, maka perlu dilakukan Tindakan hukum. Arsyi Jailolo menambahkan, asas strict liability, yang digunakan untuk menuntut pertanggungjawaban pidana terhadap korporasi yang melakukan tindak pidana perbankan. Bank mempunyai sejumlah fungsi. Adapun beberapa fungsi perbankan adalah : Menghimpun dana simpanan masyarakat., Mendukung kelancaran mekanisme pembayaran, Menyimpan barang-barang berharga, Mendukung kelancaran transaksi internasional., Memberikan jasa lainnya, seperti pembayaran gaji pegawai, pengiriman uang, dan lainnya.

Ekonomi, Internasional

Emas Menjadi Pilihan Terbaik di Tengah Kondisi Kebakaran yang Merambat dari Los Angeles ke New York.

ruminews.id Dalam beberapa hari terakhir, kebakaran hebat yang terjadi di Los Angeles telah merambat hingga ke wilayah New York akibat kondisi cuaca ekstrem dan angin kencang. Bencana ini mengakibatkan ribuan orang mengungsi dan menimbulkan kekhawatiran akan dampak ekonomi yang lebih luas. Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian ini, investor mulai beralih ke emas sebagai aset perlindungan utama. Harga emas melonjak tajam di pasar global, mengingat logam mulia tersebut sering kali dianggap sebagai “safe haven” di saat krisis. Analis pasar dari beberapa perusahaan investasi menyebutkan bahwa permintaan emas akan terus meningkat selama krisis berlangsung. “Dalam situasi bencana besar seperti ini, aset-aset berisiko cenderung ditinggalkan, sementara emas dan instrumen investasi berbasis logam mulia menjadi pilihan terbaik,” ujar seorang analis di Wall Street. Selain itu, sejumlah besar pabrik dan pusat perdagangan di New York telah terpaksa menghentikan operasional mereka, sehingga berdampak pada produksi dan perdagangan komoditas lainnya. Hal ini semakin memperkuat minat investor pada emas sebagai bentuk perlindungan nilai kekayaan. Meski kebakaran masih terus meluas, pemerintah Amerika Serikat telah mengerahkan ribuan petugas pemadam kebakaran dan alat berat untuk memadamkan api. Namun, hingga kini belum ada tanda-tanda bahwa kebakaran akan segera teratasi. Dengan situasi yang masih memburuk, para ahli memperkirakan bahwa harga emas akan tetap berada dalam tren naik selama beberapa waktu ke depan, hingga kondisi stabil kembali.

Opini

MIND UPLOADING – Diskursus Futuris Ai Yang Mencoba Meng-Upload Kesadaran Manusia Ke Mesin

Ruminews.id – Indonesia 5 tahun terakhir wacana, diskursus, perdebatan terkait Artificial Intelligence (Ai) di bahas di kampus kampus, dunia bisnis, pemerintahan bahkan warung kopi seperti tsunami informasi yang menghantam berbagai macam perspektif, beragam reaksi, ada yang menyambutnya dengan gegap gempita, ada yang latah dengan narasi Ai ada juga yang menganggap itu hanyalah tren dari transfrormasi teknologi, ada juga cuek dengan perkembangan teknologi ini. Jauh kedalam pembahasan ini saya sedikit tergelitik sekaligus terhentak ketika mencari sejarah dari perkembangan Ai ini, mulai dari Alan Turing membangun fondasi teori komputasi menciptakan “Tes Turing ‘ untuk menilai kecerdasan mesin , kemudian John Von Neumann sampai Norbert wiener dengan pengembangan teori sibernetika yang merupakan pondasi dari sistem kontrol pemebelajaran mesin. Di kesempatan yang lain ada John McCarthy yang di juluki bapak Ai karena meciptakan istilah ”Artificial Intelligence” saat konferensi dartmonth 1965 dan mengembangkan Bahasa pemrograman LISP, kemudian ada Marvin Minsky yang mendirikan laboratorium Ai Di MIT yang menjadi pelopor jaringan saraf tiruan , lalu ada juga Joseph Weizenbaum yang mengembangkan chatbot pertama Bernama “Eliza” tahun 1966 dan masih banyk lagi tokoh tokoh pelopor Ai yang tidak bisa saya sebutkan satu satu, sampai kemudian ada revolusi deep learning dan Ai modern oleh Yann LeCunn , Andrew Ng dan Demis Hassabis. Kemudian ada tokoh tokoh bidang teori dan aplikasi Ai disini ada Elon Musk pendiri OpenAi dan penegembangan Ai yang aman utuk manusia, lalu ada Fei -Fei Li sampai Timnit Gebru yang meneliti terkait bias dari algoriritma Ai dan mempromosikan keadilan etis dalam pengembangan Ai. Tulisan ini bukan membahas tentang Sejarah Ai dan saya tidak akan masuk ke ranah itu, cukup mencari gunakan search engine atau gunakan Chat GPT, MetaAi dsb pasti ketemu. Kembali ke judul tulisan saya diatas  yaitu Mind Uploading  sebenarnya ini meminjam kosakata dari Hans Moravec tentang pengunggahan kesadaran manusia ke mesin merupakan konsep futuristik yang sudah usang dimana dia mengusulkan bahwa kesadaran manusia, termasuk pikiran, memori, dan identitas, dapat dipindahkan dari otak biologis ke sistem komputer atau mesin. Konsep ini adalah bagian dari pandangan Moravec tentang transhumanisme dan masa depan di mana manusia dapat melampaui keterbatasan biologis mereka melalui teknologi, didalam bukunya yang berjudul Mind Children yang terbit di tahun 1988, Saya mencoba mendasarkan ide itu pada beberapa asumsi berikut : Otak manusia adalah sistem biologis yang memproses informasi menggunakan neuron dan sinapsis. Semua aktivitas mental, seperti ingatan, emosi, dan kesadaran, dianggap sebagai pola data yang dapat direplikasi , kemudian  Jika kesadaran berasal dari proses fisik di otak, maka tidak ada alasan mengapa proses ini tidak dapat dimodelkan atau disimulasikan pada mesin yang cukup kompleks, serta dengan kemajuan teknologi, terutama di bidang AI, robotika, dan komputasi kuantum saya percaya bahwa mesin suatu hari nanti akan memiliki kapasitas untuk meniru atau bahkan melampaui kemampuan otak manusia. Dan jika teknologi sudah sampai di titik itu maka proses pengunggahan atau meng upload kesadaran sudah bisa dilakukan Moravec mengusulkan beberapa langkah hipotetis untuk mengunggah kesadaran manusia ke mesin: Pemetaan otak secara detail,karena setiap neuron, sinapsis, dan pola konektivitas otak manusia harus dipetakan dengan presisi tinggi, teknologi seperti brain scanning tingkat lanjut atau nanoteknologi bisa digunakan untuk membuat model lengkap struktur otak. Simulasi aktivitas otak,Setelah peta otak diperoleh, aktivitas listrik dan kimia otak disimulasikan dalam komputer. Model simulasi ini akan menangkap pola-pola dinamis yang membentuk pikiran manusia. Transfer data ke mesin. Otak yang berhasil dimodelkan, data tersebut diunggah ke mesin atau komputer yang memiliki kapasitas untuk menjalankan simulasi otak. Dalam skenario ini, otak biologis tidak lagi diperlukan, dan “diri” manusia akan eksis dalam bentuk digital. Integrasi ke sistem robotik.Kesadaran digital ini dapat diintegrasikan ke tubuh robotik untuk memberikan pengalaman fisik, atau dibiarkan hidup di dunia virtual Moravec percaya bahwa pengunggahan kesadaran dapat memberikan berbagai manfaat, termasuk Keabadian, dengan meninggalkan tubuh biologis yang fana, manusia dapat hidup selama teknologi memungkinkan.Peningkatan Kapasitas ,dalam bentuk digital, kesadaran manusia dapat ditingkatkan, seperti kemampuan berpikir lebih cepat, menyimpan lebih banyak informasi, atau berkomunikasi langsung dengan mesin lain.Penciptaan Dunia Virtual ,kesadaran yang diunggah dapat hidup dalam dunia virtual yang dirancang sesuai keinginan, menciptakan realitas yang sepenuhnya baru. Konsep ini pasti akan menuai  tantangan dan kritik terkait kompleksitas otak misalnya,otak manusia adalah sistem yang sangat kompleks, dan belum ada teknologi saat ini yang dapat memetakan dan mensimulasikan otak secara lengkap, kemudian ada lagi mengatakan simulasi otak manusia membutuhkan kapasitas penyimpanan dan daya komputasi yang sangat besar,belum lagi masalah Filosofis seperti apa itu kesadaran? Tidak adanya  konsensus ilmiah tentang bagaimana kesadaran muncul,apakah kesadaran hanya kumpulan data, atau ada elemen lain yang tidak dapat direplikasi?    Jika kesadaran diunggah, apakah itu benar-benar “diri” manusia asli atau hanya salinan digital? Apakah kesadaran asli tetap ada atau mati bersama otak biologisnya? Terkait dengan pertanyaan pertanyaan itu kita coba untuk melihat relevansi saat ini dalam perkembangan teknologi, walaupun mengunggah kesadaran masih jauh dari kenyataan  tetapi perkembangan sudah mengarah kesana semisal Brain-Computer Interfaces (BCI) Teknologi seperti Neuralink sedang mengembangkan cara untuk menghubungkan otak manusia dengan computer, Perusahaan yang digagas oleh Elon Musk pada 2016. Lalu perkembangan Ai dan Simulasi Otak, Model AI seperti GPT menunjukkan bahwa sistem komputer dapat mereplikasi aspek tertentu dari pemikiran manusia.Kemudian teknologi pemindaian otak Dimana kemajuan dalam teknologi pencitraan seperti fMRI dan optogenetik memungkinkan pemahaman lebih baik tentang struktur dan fungsi otak. Konsep tentang pengunggahan kesadaran manusia ke mesin adalah visi futuristik yang menawarkan potensi besar, penciptaan dunia baru , dan yang pasti ini bukan lagi cerita fiksi ilmiah  karena pengembangan teknologi saat ini menunjukkan langkah awal membuka gerbang dunia tersebut dan bagi saya ini adalah kemajuan dimana tidak ada lagi batasan manusia dengan teknologi. To be continue … ( humanoid vs transhumanisme)

Scroll to Top