Sanggar Theosofie Semarang Kembali Gelar Sarasehan dan Meditasi Bulan Purnama

Theosofie Semarang

Ruminews.id, Semarang — Sanggar Theosofie Semarang menggelar sarasehan dan meditasi Bulan Purnama pada Senin (26/10/2026). Kegiatan ini diikuti para penggiat spiritualitas, anggota Perhimpunan Theosofi, serta enam mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) yang hadir untuk mempelajari pemikiran teosofi dan praktik meditasi.

Rangkaian acara meliputi pembacaan invokasi dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia, pembahasan buku Thought-Forms karya Annie Besant dan C.W. Leadbeater, latihan pernapasan atau pranayama, serta meditasi yang disertai afirmasi keberlimpahan.

Kegiatan tersebut dihadiri senior Sanggar Theosofie Semarang, Pak Joko; Pak Yoyok yang membacakan invokasi; serta Sister Yohana Ina sebagai pemateri sekaligus pembimbing meditasi.

Acara dibuka dengan pembacaan invokasi universal Perhimpunan Theosofi yang mengangkat tema cahaya, kasih, dan kehidupan ilahi. Pak Yoyok membacakan teks dalam dua bahasa, yakni bahasa Jawa dan bahasa Indonesia, sesuai dengan teks yang digunakan Sanggar Theosofie Semarang.

Dalam bahasa Jawa, invokasi tersebut berbunyi:

“Duh Gusti Winardi, ingkang ngumandang ing sedoyo atom”

“Duh pepadang Winadi ingkang Sumarot Ing Sadoyo dumadi”

“Duh sih Winadi ingkang angliputi sagung dumadi”

“Mugi amarekno Sadoyo ingkang rumaos manunggal Kaliyan paduka ngrumaosanoyo yen manunggal ugi kaliyan Sagung Dumadi”

Sementara itu, teks dalam bahasa Indonesia berbunyi:

“O Hidup tersembunyi, yang bergetar di setiap atom”

“O cahaya tersembunyi, yang bersinar di setiap makhluk”

“O cinta kasih tersembunyi, yang memeluk semua dalam kesatuan”

“Semoga masing-masing yang merasa satu dengan NYA karena itu ia tahu ia satu dengan tiap-tiap lainnya”

Pembacaan invokasi menjadi pembuka bagi peserta untuk memasuki rangkaian sarasehan dan meditasi.

Membahas Thought-Forms dan Makna Bentuk Pikiran

Sesi berikutnya diisi Sister Yohana Ina dengan pembahasan buku Thought-Forms atau Bentuk Pikiran, karya Annie Besant dan C.W. Leadbeater. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan konsep teosofi yang memandang pikiran dan perasaan sebagai getaran yang membentuk pola energi dengan bentuk dan warna tertentu di alam astral maupun mental.

Materi tersebut membahas hubungan antara kejelasan pikiran, intensitas emosi, dan bentuk pikiran yang dihasilkan. Sejumlah warna juga dijelaskan sebagai simbol kualitas pikiran dan perasaan dalam kerangka pemikiran teosofi.

Merah jambu murni atau rose dikaitkan dengan kasih sayang tanpa pamrih dan kedamaian. Kuning emas atau kuning pucat melambangkan intelektualitas luhur serta pemahaman spiritual. Biru cerah dikaitkan dengan bakti, rasa syukur, dan keselarasan dengan Yang Ilahi. Sementara itu, cahaya putih dan violet dimaknai sebagai simbol perlindungan, aspirasi spiritual, dan keutuhan jiwa.

Pembahasan juga mencakup konsep efek boomerang atau hukum aliran balik. Dalam pemikiran yang dipaparkan, getaran pikiran yang dipancarkan seseorang diyakini kembali kepada pemikirnya. Pikiran yang dipenuhi kasih dan kebaikan dipandang menghasilkan pengaruh yang sejalan dengan kualitas tersebut.

Latihan Pranayama dan Meditasi Bulan Purnama

Setelah sarasehan, Sister Yohana Ina memandu peserta melakukan latihan pranayama atau pengaturan napas. Latihan ini menjadi bagian dari rangkaian praktik untuk menenangkan diri dan memusatkan perhatian sebelum meditasi.

Peserta diperkenalkan pada beberapa teknik pernapasan. Surya Bhedana dijelaskan sebagai teknik untuk mengaktifkan energi vitalitas yang dikaitkan dengan saluran pingala nadi. Candra Bhedana digunakan untuk mengarahkan perhatian pada energi ketenangan dan intuisi yang dikaitkan dengan ida nadi. Sementara itu, Nadi Shodhana merupakan teknik pernapasan bergantian yang dimaksudkan untuk menyeimbangkan kedua saluran tersebut.

Rangkaian latihan juga mencakup pengaturan ritme napas secara mendalam untuk membantu menenangkan pikiran.

Sesi kemudian berlanjut ke Meditasi Bulan Purnama dan Afirmasi Keberlimpahan. Peserta dipandu memvisualisasikan cahaya merah jambu, biru, dan kuning emas yang melingkupi diri, kemudian memancar ke alam semesta.

Afirmasi Keberlimpahan dan Penguatan Kesadaran Diri

Dalam sesi meditasi, Sister Yohana Ina membacakan panduan afirmasi yang mencakup visualisasi cahaya, kasih universal, keberlimpahan, dan penguatan kesadaran diri.

Pada bagian pembuka, peserta diajak membayangkan cahaya merah jambu dan putih yang memancarkan rasa aman, kesehatan, kebahagiaan, serta keberuntungan. Afirmasi yang disampaikan berbunyi, “Biarlah kesehatan, kebahagiaan, kebaikan, keberlimpahan, dan keberuntungan senantiasa bersama kita semua.”

Pada bagian berikutnya, peserta memvisualisasikan pancaran pikiran yang membentuk saluran spiritual, diikuti curahan berkah yang digambarkan melalui cahaya hijau muda sebagai simbol simpati dan biru sebagai simbol bakti.

“Bial Kiranya yang sakit dipulihkan. Kiranya hanya kebaikan yang datang kepada kita. Tuhan memberkati.”

Afirmasi keberlimpahan kemudian mengarahkan peserta untuk memvisualisasikan tubuh yang semakin bercahaya dengan warna kuning emas. Panduan tersebut menghubungkan visualisasi dengan harapan atas datangnya peluang, rezeki, dan keberuntungan.

“Biarlah keberuntungan selalu berpihak kepada kita, tubuh kita semakin bercahaya. Uang datang terus-menerus dari berbagai arah dengan mudah dan menyenangkan.”

“Keberuntungan tiba-tiba menambah klien, tiba-tiba keberuntungan rezeki berlimpah, jualan tambah laku. Biarkan semua mengalir apa adanya tanpa tekanan, biarlah terjadi atas kehendak-Nya.”

Sesi ditutup dengan afirmasi kesadaran diri yang mengajak peserta menghayati diri sebagai pencipta realitas, percikan Ilahi, dan jiwa yang selaras dengan keberlimpahan semesta.

“Aku adalah pencipta realitasku.

Aku adalah percikan Ilahi.

Aku adalah jiwa.

Aku selaras dengan keberlimpahan semesta.

Hidupku penuh keberuntungan dan keajaiban.

Aku layak.

Aku mampu. Aku aman.

Aku cukup. Aku utuh.

Terjadilah, terjadilah, terjadilah.”

Mahasiswa UNDIP dan Ramah Tamah Vegetarian

Kehadiran enam mahasiswa UNDIP memberikan kesempatan bagi generasi muda untuk mengenal pemikiran teosofi dan praktik spiritual yang dibahas dalam kegiatan tersebut. Para mahasiswa mengikuti rangkaian sarasehan dan meditasi bersama peserta lainnya.

Acara diakhiri dengan ramah tamah melalui kegiatan potluck vegetarian. Para peserta membawa beragam hidangan berbahan nabati untuk dinikmati bersama sebagai bentuk kebersamaan dan rasa syukur, sekaligus mencerminkan prinsip kasih terhadap makhluk hidup.

Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama yang diikuti Pak Joko, Pak Yoyok, Sister Yohana Ina, dan mahasiswa UNDIP.

Melalui sarasehan dan meditasi Bulan Purnama ini, Sanggar Theosofie Semarang berharap pemahaman tentang Thought-Forms dapat mendorong masyarakat, terutama generasi muda, untuk lebih memperhatikan pikiran dan perasaan dalam kehidupan sehari-hari serta menumbuhkan kedamaian dalam lingkungan sosial.

Share

Scroll to Top