Kongres Pemuda Sulsel 2026 Himpun 10.435 Suara Pemuda, Dorong Tujuh Aksi Nyata

Ruminews.id, Makassar — Kongres Pemuda Sulawesi Selatan (Sulsel) 2026 mempertemukan pemuda, pemerintah, komunitas, dan organisasi masyarakat sipil untuk mendorong aspirasi generasi muda menjadi kebijakan publik. Mengusung tema “Dari Aksi Menjadi Kebijakan: Mengakar, Berdampak, dan Berkelanjutan”, kongres ini menjadi ruang untuk merumuskan isu prioritas pemuda yang akan ditindaklanjuti melalui kolaborasi pada 2027.

Kegiatan yang berlangsung pada 27–28 Oktober 2026 di Aula Siporio, Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Sulawesi Selatan, Makassar, melibatkan sekitar 200 peserta, mulai dari pemuda, pelajar, tenaga pendidik, komunitas, organisasi masyarakat sipil, hingga perwakilan pemerintah dan DPRD.

Kongres ini diinisiasi BASAibu Wiki Sulawesi Selatan bersama Rumah Budaya Rumata’, Balai Bahasa Sulawesi Selatan, BBPMP Sulawesi Selatan, Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Makassar, serta Makassar Creative Hub.

Co-Director BASAibu Wiki Sulawesi Selatan, Ita Ibnu, menyebut keterlibatan pemuda dalam perumusan kebijakan penting mengingat besarnya proporsi generasi muda di wilayah tersebut.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip dalam siaran pers, jumlah penduduk Sulawesi Selatan pada 2025 mencapai sekitar 9,56 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sekitar 2,42 juta jiwa atau 25,35 persen berusia 16–30 tahun.

“Angka ini bukan sekadar statistik. Ini kekuatan yang akan menentukan arah pembangunan Sulawesi Selatan. Karena itu pemuda harus punya ruang untuk ikut menentukan agenda, bukan hanya diundang hadir,” ujar Ita.

Dari ribuan aspirasi menuju aksi nyata

Kongres Pemuda Sulsel merupakan bagian dari upaya mendorong partisipasi publik melalui Wikithon Partisipasi Publik. Mekanisme ini memungkinkan pemuda mengidentifikasi persoalan sosial, mengembangkan gagasan menggunakan bahasa daerah dan platform digital, serta mendiskusikan solusi secara langsung dengan pembuat kebijakan.

Dalam proses tersebut, gagasan yang terpilih dirumuskan menjadi masukan kebijakan untuk kemudian ditindaklanjuti melalui aksi kolaboratif bersama pemerintah dan pemangku kepentingan terkait.

Sepanjang 2026 sebanyak 10.436 opini dari 10.210 pemuda telah dihimpun melalui Wikithon. Proses tersebut menghasilkan tujuh aksi konkret sebagai implementasi risalah kebijakan yang dirumuskan dari kongres sebelumnya pada November 2025.

Tujuh aksi tersebut menjadi upaya untuk menunjukkan bahwa aspirasi pemuda dapat berkembang menjadi perubahan nyata apabila didukung ekosistem kolaborasi yang memadai.

Sejumlah hasil yang telah dijalankan mencakup pembentukan Duta Damai tingkat sekolah dan gerakan teman sebaya untuk mencegah kekerasan serta perundungan. Di bidang lingkungan, aksi dilakukan melalui penguatan pengelolaan sampah berbasis komunitas. Sementara dalam literasi digital, upaya diarahkan pada pengembangan aplikasi Lontara+ yang ramah bagi penyandang disabilitas, disertai edukasi digital.

Nur Ilmi, pemenang Wikithon Partisipasi Publik untuk isu pendidikan, menilai kongres menjadi ruang penting untuk memastikan aspirasi generasi muda tidak berhenti pada penyampaian pendapat.

Menurutnya, gagasan pemuda perlu memperoleh tindak lanjut melalui kerja sama berkelanjutan antara generasi muda, pemerintah, dan berbagai pihak agar menghasilkan dampak bagi masyarakat.

Lima isu dibahas, tiga prioritas ditetapkan untuk 2027

Dalam Kongres Pemuda Sulsel 2026, peserta membahas lima isu yang akan menjadi bahan tindak lanjut melalui Wikithon Partisipasi Publik pada 2027. Kelima isu tersebut meliputi:

  1. Pendidikan dan kesejahteraan pemuda.
  2. Lingkungan, ruang hidup, dan ketahanan iklim.
  3. Bahasa, budaya, dan identitas lokal.
  4. Ekonomi, keterampilan, dan pekerjaan layak.
  5. Kepemimpinan pemuda dan partisipasi publik yang bermakna.

Dari lima isu tersebut, kongres menargetkan penetapan tiga isu prioritas untuk dikembangkan menjadi aksi konkret pada 2027. Namun, siaran pers tidak merinci tiga isu yang akhirnya dipilih sebagai prioritas.

Proses tindak lanjut dirancang melalui kolaborasi pemuda dengan pemerintah dan pemangku kepentingan. Program yang dapat disinergikan akan dibahas untuk mendorong implementasi kebijakan praktis yang berdampak pada penanganan persoalan sosial di Kota Makassar.

Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin atau yang biasa disapa Appi berharap kongres tidak berhenti sebagai forum diskusi, melainkan menjadi ruang untuk melahirkan gagasan yang realistis dan dapat diwujudkan bersama.

Ia mengajak peserta berani menyampaikan pendapat, menawarkan solusi, serta membangun kerja sama lintas sektor agar aspirasi dapat berkembang menjadi aksi yang memberikan dampak bagi masyarakat.

Dukungan juga disampaikan oleh perwakilan Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Makassar. Pemerintah kota, melalui bidang pemberdayaan pemuda, menyatakan komitmen untuk terus mendorong kolaborasi dan membuka ruang partisipasi agar generasi muda semakin berdaya, mandiri, dan mampu mengembangkan potensinya.

Direktur Makassar Creative Hub, Mohammed Sabeq, menilai kolaborasi lintas sektor dapat mempertemukan berbagai perspektif sekaligus merumuskan langkah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sementara itu, perwakilan Balai Bahasa Sulawesi Selatan, Toha Machsum, berharap kongres melahirkan gagasan inovatif yang berakar pada kearifan lokal dan mampu menjawab tantangan zaman.

Membangun partisipasi publik yang berkelanjutan

Kongres Pemuda Sulawesi Selatan 2026 menjadi bagian dari kemitraan BASAibu Wiki dengan berbagai lembaga pemerintah dan organisasi lokal untuk membangun ekosistem partisipasi publik yang berkelanjutan.

Kemitraan tersebut melibatkan Rumah Budaya Rumata’, Balai Bahasa Sulawesi Selatan, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, Pemerintah Kota Makassar, Bappeda Kota Makassar, Dinas Pendidikan Kota Makassar, Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Makassar, serta Makassar Creative Hub.

BASAibu Wiki sendiri merupakan organisasi yang mendorong keterlibatan pemuda dalam menyikapi persoalan publik melalui platform digital kreatif berbahasa daerah. Organisasi ini bekerja di lima provinsi, yakni Bali, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Jawa.

Menurut keterangan dalam siaran pers, BASAibu telah melibatkan lebih dari 150.000 pemuda dan menjangkau lebih dari enam juta pengguna melalui platform wiki berbahasa daerah.

Melalui kongres dan program Wikithon Partisipasi Publik, penyelenggara berharap keterlibatan pemuda dalam pembangunan tidak hanya berlangsung dalam forum konsultasi, tetapi juga berlanjut hingga tahap perumusan, pelaksanaan, dan evaluasi kebijakan.

Dengan agenda tindak lanjut pada 2027, Kongres Pemuda Sulsel diharapkan memperkuat hubungan antara aspirasi generasi muda dan proses pengambilan keputusan, sehingga partisipasi publik dapat menghasilkan perubahan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Share

Scroll to Top