Ruminews.id, Jakarta — Gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026) masih terus diikuti gempa susulan. Hingga Jumat (21/8/2026) pukul 05.00 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 4.256 gempa susulan dengan magnitudo antara 1,1 hingga 6,2.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 31 gempa susulan memiliki magnitudo di atas 5, sementara 118 gempa dirasakan oleh masyarakat. Kondisi tersebut membuat warga di wilayah terdampak masih menghadapi situasi penuh ketidakpastian dan memilih bertahan di tempat pengungsian demi keselamatan.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan hingga Kamis (20/8/2026) pukul 16.00 WIB, jumlah korban meninggal dunia mencapai 75 orang, sementara 907 orang mengalami luka-luka. Jumlah korban meninggal bertambah empat orang dibandingkan data sebelumnya, masing-masing dua orang di Kabupaten Sikka, satu di Kabupaten Manggarai, dan satu di Nagekeo.
Jumlah warga yang mengungsi juga mengalami peningkatan signifikan. BNPB mencatat sebanyak 92.735 jiwa kini berada di pengungsian, meningkat 33.088 jiwa dari catatan sebelumnya yang mencapai 59.647 jiwa. Kabupaten Nagekeo menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak, yakni 21.883 jiwa, disusul Manggarai sebanyak 9.649 jiwa dan Manggarai Barat 1.556 jiwa.
Kerusakan akibat gempa juga terus diperbarui. BNPB mencatat sedikitnya 36.163 unit rumah mengalami kerusakan, atau bertambah 7.187 unit dari pendataan sebelumnya. Sementara itu, layanan kesehatan masih berlangsung di sejumlah fasilitas, termasuk Rumah Sakit Daerah Ruteng dan rumah sakit lapangan di Aeramo, Nagekeo. Di Nagekeo, tercatat lima pasien telah menjalani operasi, 24 pasien menjalani rawat inap, dan 708 orang memperoleh layanan rawat jalan.
Berton mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada mengingat gempa susulan masih terjadi dengan magnitudo yang cukup besar. Warga di wilayah terdampak juga diminta memastikan kondisi bangunan sebelum kembali memasuki rumah atau bangunan lainnya. Data korban, pengungsi, maupun kebutuhan layanan kesehatan masih dapat berubah seiring proses pendataan dan penanganan di lapangan.


